Episode 19 - Ada apa dengannya

1313 Kata
Hari telah berganti malam, setelah selesai solat isya aku memoles wajahku dengan sedikit make up dan lipstik berwarna pink muda. Kupakai blus satin lengan pendek berwarna merah, wide leg trouser warna hitam serta heels hitam dan menggerai rambutku yang telah kurapikan. Kringg...Kriingg.. Handphoneku berdering, tertulis nama pak Beni di layar dan aku segera mengangkatnya. "Gita, abang sudah didepan kamar kamu ini. Cepat ya.. " ia berbicara. "Iyaa.. saya keluar.. " aku segera menutup panggilan dan bergegas menemuinya. Ia terdiam memandangiku untuk beberapa saat. "Pak Beni... pak... " aku memanggilnya beberapa kali sampai akhirnya ia mendengar panggilanku. Aku geer lah, tapi aku berusaha menepisnya karena aku tidak menginginkan hal lain selain profesional kerja. "Mmm.. eh.. mm.. ayo. Mereka sudah menunggu disana.. " ia gelagapan yang membuatku tersenyum geli. Kami berjalan menuju restaurant. Sepanjang perjalanan Beni banyak terdiam sambil sesekali melirikku. Aku cuek saja menanggapinya karena disana akan ada lebih banyak gadis cantik dan seksi, dia pasti akan bereaksi seperti ini nantinya pikirku. Sesampainya di restaurant, kami disambut Rafael yang sudah berada disana dan dirahkan ke meja yang sudah ada Ferdi berada disana. Ferdi pun menunjukkan reaksi yang sama dengan Beni saat menatapku dan membuatku risih. Aku duduk tanpa memperdulikannya. Kemudian Beni memanggilku untuk naik ke atas panggung dan memainkan sebuah lagu menggunakan piano mewah yang berada disebelahnya. Dengan malu aku naik keatas panggung dan memainkan instrumen sebuah lagu india yang berjudul Tere Liye. Semua pengunjung nampak tenang menikmati musik yang ku mainkan. Seketika suasana restaurant menjadi sangat romantis. Tanpa terasa satu lagu full telah aku mainkan. Tepuk tangan pengunjung di akhir lagu tersebut menghiasi, lalu aku kembali ke meja. "Wahh... Ternyata kamu jago main piano ya Gita..!" puji Rafael. "Ah enggak.. biasa aja kok. Masih banyak yang lebih jago dari saya.." balasku merendah. Lalu aku izin kekamar mandi. Saat ingin kembali ke meja, aku dicegat oleh dua orang pria. Seorang diantaranya ialah cowok yang tadi sore memaksaku untuk bermain jetski bersamanya. "Hai cantik... Boleh kenalan nggak.. Masih ingat aku kan..?" tanyanya genit. Aku ilfeel dan malas meladeni mereka. Aku hanya tersenyum dan berusaha melewati mereka, namun mereka tetap menghalangi jalanku. "Ada apa bro..?" Beni menepuk pundak cowok berjaket cokelat dan membuatnya membalikkan badan. Lalu Ferdi menarik tanganku agar aku bisa melewati kedua pria itu. "Lo lagi... Kenapa lo suka banget ikut campur urusan gue..." ucap cowok yang mengenali Ferdi. "Kamu kesana saja.." Beni menyuruhku kembali ketempat duduk dan aku menurutinya, tak berselang lama Beni dan Ferdi kembali. "Kamu harus hati-hati Gita... Jangan berurusan dengan orang seperti itu.." Beni memperingatkan, aku mengangguk mengiyakan. "Besok kita jadi meeting dengan orang dari Hotel Amoz... Ben? tanya Rafael. "Jadi... Besok kita harus mendatangi beberapa tempat juga. Agak padat besok jadwal kita. Mulai besok Gita sudah kerja sama kamu Fer... Jangan kejam-kejam kamu sama dia.." Ujar Beni. Ferdi terdiam sambil melirikku, "Okee.." jawabnya singkat. Keesokan harinya setelah bersiap, berat sekali rasanya untuk bertemu Ferdi. Dalam hati banyak penolakan namun statusku yang seorang karyawan membuatku tak mampu melawan. Akhirnya dengan berat hati aku bergegas menuju ruangan Ferdi. Sampai di depan pintu aku menghentikan langkah dan enggan masuk kedalam ruangan tersebut. Sampai akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampakkan Ferdi yang tengah berdiri di baliknya. Aku dan dia sama-sama terdiam. "Mmm... masuk..." ucapnya, dengan terpaksa aku mengikutinya. Aku berjalan ragu ke mejanya. "Duduk..." ia kembali menyuruhku duduk di bangku yang berhadapan dengannya. "Aku... minta maaf sama kamu Ra..." ucapnya. Aku masih terdiam dan tidak menanggapi. "Laura..." ia menatapku. "Ra.. aku minta maaf sama kamu.." dia mengulangi perkataannya. "Basi..." ketusku singkat. "Aku benar-benar minta maaf sama kamu Laura.." dengan nada yang sedikit tinggi. "Permintaan maaf mu sama sekali nggak berguna.. Kenapa baru sekarang? Kemana engkau selama ini? Melarikan diri? Kaulah yang membuat semua masalah dalam hidupku! Masih fresh lagi di otakku semua perlakuanmu padaku..." ketusku berusaha tenang. "Aku tau semua yang aku lakukan padamu dulu memang sangat keterlaluan. Aku menyesal Laura, tiada satu haripun kulalui tanpa rasa bersalah padamu.." balasnya. "Pak Ferdi... Kalaulah saya tau pak Beni akan membawa saya bertemu dengan anda, saya akan menolak perintah pak Beni sekalipun saya harus dipecat..!" ucapku kesal. "Apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya Laura..?" ia terus mamaksa. "Pak Ferdi... Apa yang harus saya kerjakan sekarang... lebih baik kita membahas pekerjaan karena sekarang sudah jam 11 artinya sudah satu jam kita melakukan hal yang sia-sia. Jadi sekarang saya minta jadwal bapak biar saya bisa atur dalam seminggu kedepan.. " aku mengalihkan pembicaraan. Lalu Ferdi menunjukkan beberapa tumpuk berkas yang belum terselesaikan dan ditinggalkan oleh asisten sebelumnya. Ia menyuruhku merapikan berkas-berkas tersebut dan mengatur ulang jadwal yang sempat tertunda. Aku merapikan berkas-berkas tersebut satu-persatu selama hampir 2 jam. Mataku lelah sekali namun masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kemudian aku menjadwal ulang meeting-meeting dengan beberapa pengusaha yang sempat tertunda. Ada yang marah sehingga aku harus menghubunginya berulang kali untuk bernegosiasi. Hingga jam 8 malam semua pekerjaan akhirnya beres. Aku paling tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Kalau ada pekerjaan yang diberikan hari ini, sebisa mungkin akan kuselesaikan hari itu juga. Aku membereskan file-file tersebut dan menyusunnya di lemari kantor Ferdi, setelah itu aku kembali ke kamar untuk beristirahat. "Mbak Gita.. Mbak disuruh pak Ferdi keruangannya.." seorang pegawai memberitahuku. "Oh iyaa.. terimakasih yaa.." balasku. Aku masih lagi baru sampai, si Ferdi sudah manggil aja. Dengan sedikit kesal aku menuju ke ruangan Ferdi. Tok... tok... tok... Ia mempersilahkan aku untuk segera masuk dan menyuruhku duduk. "Pak ini ada berapa file yang memerlukan tanda tangan bapak.." aku menyerahkan beberapa file dihadapannya. Ia menerima dan langsung menandatanganinya. "Apa jadwal kita hari ini mrs Laura.. " usilnya. "Hari ini free pak. Hanya mengurusi internal resort aja.. " balasku. "Okee.. Ayo kita makan siang diluar" ajaknya. "Hmm.. Terimakasih pak.. Saya makan dengan rekan-rekan yang lain saja" tolakku. "Memangnya saya bukan rekan kamu..? Saya juga rekan kerja kamu kan..? " dalihnya. "Iyaa tapi kami kan hanya karyawan, sementara bapak adalah bos. Nggak mungkin lah bos makan dengan karyawan.. iya kan pak.. " dalihku juga sekaligus menyindirnya. "Lah kenapa memangnya. Saya kan ingin lebih dekat dengan semua pegawai saya, kita kan satu tim kerja...?" ia memiliki seribu alasan. "Hmm.. Iyasudah pak, gimana maunya bapak saja.. " aku menyerah dan tak ingin melanjutkan perdebatan. Aku pamit keluar dan makan bersama rekan kerja yang lain, tak lama Ferdi datang membawa satu paket ayam goreng untuk dibagikan kepada seluruh staff. "Belum pada makan kan.. Ayo makan sama-sama.. Ini makan-makan.. " ia menyodorkan ayam ke para staff. "Ehh pak Ferdi. Tumben gabung disini pak.." ujar Awang. "Biar lebih akrab... " balasnya melihatku. "Oo paham saya.. Nana kamu pindah kesini... pak Ferdi mau duduk disebelah mbak Gita tuh kamu jangan ganggu.. " ucap awang menggodaku. "Ehh kenapa pula gitu... Udah nggak apa-apa, biar saya saja yang pindah.." aku berdiri dan bersiap untuk bergeser dari situ. "Kamu disini saja..." Ferdi memegang tanganku, menahanku agar tidak berpindah posisi. Semua staff menatap kami, aku menjadi malu. Nana berpindah, dengan segera Ferdi duduk dan menyuruhku untuk duduk juga. "Kamu bawa apa itu Laura.. Mmm...maksud saya Gita.." ia meralat ucapannya. "Duh ngapain sih ni orang nanya-nanya.." batinku. "Hmm.. Nggak tau juga pak, saya tadi cuma nitip sama Nana. Belum lagi saya lihat.. " jawabku. Ferdi menarik kotak nasiku lalu membukanya. Aku heran melihat tingkahnya, entah apa maunya. "Kamu harus makan yang banyak Gita,, badan kamu itu terlalu kurus.." ocehannya yang membuat para staff menatapnya heran. "Heeh.. Iyaa pak.. Nasi saya pak.. Atau bapak pengen makan itu ya.. Ya sudah bapak makan saja. Saya nanti cari yang lain?" aku meminta nasiku yang sedari tadi dihadapinya. Ia mengambil sesendok nasi beserta lauk dan mengarahkannya ke mulutku. "Bapak mau ngapain..?" aku menghindar. "Mau suapin kamu lah... " tingkah Ferdi membuat mereka berpura-pura batuk. "Pak Ferdi tolong jangan bersikap seperti ini karena saya tidak nyaman. Saya bisa melakukannya sendiri" ucapku tegas. Akhirnya Ferdi mengurungkan niatnya. Aku kesal sekali melihat tingkahnya yang sangat tidak masuk akal. Namun aku hanya bisa diam karena tak ingin membuatnya malu didepan karyawannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN