Airmataku mulai menetes tapi aku malu jika sampai ia tau, maka aku segera memeluknya dari belakang. Ia terdiam dan berhenti memarahiku. Tangannya yang tadi bergetar kini perlahan mulai tenang, begitupun aku yang juga perlahan meredakan amarahku. Aku tidak bisa berpikir saat sedang marah, sehingga aku pasti akan terus kalah debat dengan siapapun dalam keadaan tegang. Setelah kurasa emosiku dan dia mulai mereda aku memintanya duduk disampingku, ia pun menurutinya. "Maafin Laura mas sudah bikin mas khawatir. Maaf karena Laura nggak mikir panjang dan buat mas capek nyari Laura kesana kemari.." ucapku lembut lalu memeluknya. Sembari bersandar dibahunya aku menyampaikan pendapatku padanya. "Mas... Laura tau mas peduli sama Laura, sayang sama Laura.. Tapi tanpa mas sadar, mas sudah menyakiti

