Bumi Bagaisar Sedikit bicara itu lebih baik, aku selalu berpikir seperti itu. Karena ketika kita banyak bicara maka kelak semua perkataan kita di muka bumi ini akan pertanggung jawabakan di akhirat nanti. Dari dulu, mungkin sejak kecil aku adalah anak yang jarang sekali berbicara. Mau itu sakit, mau itu sedih, bahagia, atau pun hancur. Aku akan diam, sampai mungkin tak akan ada manusia yang mengetahui jika aku sedang bersedih. Aku terbiasa seperti itu sejak dulu, mungkin sampai saat ini. Saat aku bersama dengan Shania, aku masih sama seperti itu. Masih pintar menyembunyikan sesuatu seorang diri, mungkin Shania pun tak akan tahu bagaimana wajahnya saat sedang bersedih atau pun senang sekali pun. Kalau dikatakan apakah aku senang atau tidak memiliki Shania, jawabannya adalah iya aku sanga

