Ocha Menyerah

1234 Kata
"Ocha, kamu disini?" Tak di sangka, Lisa datang bersama pacarnya. Suamiku yang tadinya lahap makan menjadi tak berselera. Aku yang melihat itu merasakan sakit sungguh luar biasa. Haruskah aku terus-terusan bertahan dan berpura-pura tidak tahu seperti ini. Aku sangat mencintai Mas Rey, aku tak mau kehilangannya tapi hatiku terasa sangat sakit melihat kenyataan kalau bukan aku yang ada di hatinya, melainkan Lisa. "Ya. Kamu sendiri kenapa gak kerja? cuti?" tanyaku berpura-pura bersikap biasa. Lisa menarik kursi dan duduk di sebelahku, sedangkan pacarnya duduk di sebelah mas Rey. "Hari ini aku ambil cuti. Kami berdua akan mempersiapkan pernikahan kami." Uhuk...uhuk...! Mas Rey tersedak, dengan cekatan aku ambilkan air putih dan memberikan pada suamiku. "Makanya pelan-pelan nelennya!" ucapku setelah memberikan segelas air pada suamiku. "Kita pulang, Cha. Mas sudah tak lapar." ucap suamiku tanpa menoleh ke arah Lisa maupun pacar Lisa. Aku sampai merasa segan pada Lisa karena sikap jutek suamiku. "Tapi, Mas. Nasi gorengku belum habis." protesku. Namun suamiku tetap keras kepala, dia meletakan uang di atas meja kemudian menarik tanganku. "Kami pergi dulu, Lis. Maaf gak bisa nemenin kalian sarapan." ucapku buru-buru sebelum Mas Rey berhasil membawaku menjauh dari mantan pacarnya itu. Lisa terlihat tersenyum, dia tak mau membuatku khawatir. Benar-benar sahabat yang baik. "Gak apa-apa. Pergilah!" Mas Rey terus menarikku secara kasar, bisa ku lihat kemarahan yang terpancar jelas lewat sorot matanya. Sesampainya dalam mobil, aku mencari ponselku. Karena Mas Rey, ponselku tertinggal di dalam restoran. "Mas, ponselku kayaknya ketinggalan, deh. Aku turun bentar, ya." "Kenapa bisa seceroboh ini kamu?" tengkingnya. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan nada tinggi kepadaku. "Ma...maaf. Tadi aku buru-buru!" ucapku terbata. Dia menyadari kalau kata-katanya membuatku ketakutan. Mas Rey terlihat menghela nafasnya kemudian kembali bersikap lembut. "Ambillah cepat! Karena mabuk semalam, kepala Mas masih sedikit sakit. Maaf sudah membuatmu ketakutan seperti ini." Aku memaksa bibirku tersenyum, "Baiklah. Tunggu sebentar di sini." ucapku, kemudian ku buka pintu mobil, lalu aku turun meninggalkan suamiku dengan perasaan kacau. Pelan aku mendekat ke arah Lisa dan pacarnya. Terlihat mereka berdua sedang berdebat, aku mematung mendengar perdebatan mereka tanpa sengaja. "Kamu tahu sendiri, Lis. Aku masih ingin bebas. Aku belum siap menikah. Kenapa sih kamu terus maksa aku nikahin kamu!" Bagai tersambar petir di siang bolong saat mendengar pacar Lisa mengucapkan hal itu. Lisa pasti punya alasan sendiri kenapa dia memaksa pacarnya untuk cepat-cepat menikahinya. "Kalau kamu serius denganku cepat nikahim aku. Kalau kamu hanya ingin sekedar main-main, kita putus saja." balas Lisa kemudian. "Aku serius sama kamu. Tapi kamu tahu sendiri kalau aku tulang punggung keluarga, aku belum mau buru-buru menikah." Terlihat Lisa menghela nafas panjangnya, "Aku tidak akan menuntut banyak setelah pernikahan kita. Kamu tahu kan, aku juga bekerja. Semua ini aku lakukan untuk menyelamatkan rumahtangga Ocha. Aku ingin suaminya menyerah dan cepat-cepat melupakanku setelah pernikahan kita." Hatiku rasanya seperti di remas-remas. Begitu pedulinya Lisa padaku sampai dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Dia mengemis pada pacarnya untuk segera menikahinya hanya untuk membuat Mas Rey melupakannya. Sungguh dia sahabat sejatiku. Aku kemudian mendekat ke arah mereka sambil berpura-pura tak tahu apa-apa. "Lis, apa ponselku tertinggal di sini?" tanyaku, mereka berdua sempat terkejut karena kemunculanku yang tiba-tiba. Lisa menoleh ke arah benda pipih yang ada di samping kiri tangannya. "Ini punyamu?" tanyanya sambil menujukan ponsel milikku. "Betul. Karena Mas Rey buru-buru menarikku, aku melupakan ponselku." Aku meraih ponselku kemudian memasukan dalam handbag. "Sekarang mana suamimu?" tanyanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Mungkin dia takut kalau sampai Mas Rey mendengarkan pembicaraan mereka barusan. "Dia menungguku dalam mobil. Aku pamit dulu, Lis. Takut Mas Rey marah." "Ok. Kalau undangan pernikahanku sudah siap. Aku akan segera mengirimkannya ke rumahmu." ujar Lisa. Aku hanya mengangguk karena bingung harus berkata apa. Aku merasa begitu kasian pada Lisa sekarang, demi menyelamatkan rumahtanggaku dia mengorbankan dirinya sejauh ini. Aku bergegas kembali meninggalkan Lisa dan pacarnya. Mas Rey pasti akan marah jika aku berlama-lama ngobrol di sana. "Kita langsung pulang kan, Mas?" Suamiku hanya mengangguk, pasti hatinya masih perih karena mendengar kabar pernikahan Lisa. Pengorbanan Lisa yang ingin menyelamatkan keluargaku takan ku sia-siakan. Aku yakin suatu saat suamiku bisa benar-benar mencintaiku. Aku hanya perlu berusaha keras agar hatinya bisa luluh. Mobil telah sampai di depan rumah. Suamiku bergegas masuk ke dalam kamar. Dia melarangku mengganggunya sementara waktu. Pukul tiga sore, dia terbangun. Aku sudah masak dan mengajaknya makan siang namun dia menolaknya. Dia bilang ada urusan sebentar di luar. Dan aku curiga dia akan datang menemui Lisa. Mobil Mas Rey keluar gerbang, buru-buru aku mengikutinya menggunakan mobilku. Aku tersenyum getir, ternyata benar dugaanku. Suamiku diam-diam pergi ke kontrakan Lisa. Dari jauh kuperhatikan Mas Rey yang setia menunggu Lisa membukakan pintu kontrakannya. Tak lama dia berdiri, pintu benar-benar di buka, namun sepertinya Lisa memang tak sudi menerima kedatangan Mas Rey. Lisa mencoba kembali menutup pintu tapi secepat kilat Mas Rey menahan pintu agar tidak tertutup. Lisa menyerah, dia kemudian membiarkan pintu terbuka. Aku terbelalak melihat suamiku berlutut di depan Lisa. Sakit, hatiku sangat sakit melihat Mas Rey ku mengemis cinta pada sahabatku. Aku memukul dadaku yang terasa begitu sesak melihat pemandangan itu. Segera aku meninggalkan mereka karena tak sanggup menonton adegan menyakitkan itu. Kalau sebegitu cintanya Mas Rey pada Lisa, kenapa harus selalu bersandiwara seakan dia sangat mencintaiku. Kenapa dia membiarkanku jatuh cinta sedalam ini padanya? Apakah dia pikir aku patung yang tidak punya perasaan? Demi kebahagiaan Mas Rey, aku memilih mundur. Aku akan berhenti menjadi i***t yang menunggu keajaiban datang dan merubah hati Mas Rey sampai dia mencintaiku. Aku takan sanggup terus berpura-pura tidak tahu masalah ini. Kalau memang Mas Rey lelaki baik, dia takan mengorbankan perasaanku hanya untuk mendapatkan cinta Lisa. Penderitaan ini harus di akhiri, aku tak mau berjuang sendiri seperti wanita bodoh! Aku menunggu Mas Rey pulang, semua baju sudah ku masukan dalam koper. Hari ini juga aku akan pindah dari rumahnya. Suara deru mobil terdengar, aku sangat yakin itu Mas Rey. Hatiku berdebar hebat saat mendengar pintu mulai terbuka. "Asalamualaikum...!" Mas Rey terlihat baik-baik saja. Dia pandai sekali menyembunyikan kebusukannya. "Walaikumsalam, Mas. Duduk sini sebentar. Aku mau ngomong sesuatu sama Mas." Mas Rey terlihat mengernyit, dia bingung melihat beberapa koper berada di samping sofa. "Barang siapa ini?" tanyanya, aku mencoba menjawab setenang mungkin. "Ini barang miliku, Mas. Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Mari kita bercerai, Mas. Dan setelah itu kamu bisa bebas mencintai siapapun." Mas Rey terlihat sangat terkejut mendengar ucapanku. "Bercerai? Apa mas punya salah sama kamu, sampai kamu tiba-tiba minta cerai seperti ini?" Benar-benar sandiwara yang bagus. Kini aku jadi tahu betapa munafiknya kamu Mas. Setelah kamu mengemis cinta pada Lisa, tanpa merasa bersalah kamu menanyakan padaku apa kesalahanmu. "Sampai kapan Mas akan berpura-pura tidak melakukan kesalahan apapun padaku? Dan, sampai kapan kamu mau berpura-pura mencintaiku?" Mata mas Rey membulat mendengar ucapanku. Dia pasti tak menduga bahwa aku sudah tahu semuanya. Mas Rey mendekat lalu berusaha memelukku, namun tubuhnya terhenti saat tanganku mencoba menghalanginya. "Mas, minta maaf, Cha. Mas salah karena merahasiakan perasaan Mas selama ini. Tapi, Mas sungguh tidak mau kita bercerai. Mas sangat membutuhkanmu!" Aku tersenyum getir ke arah Mas Rey. "Ya, aku tahu kamu sangat membutuhkanku. Lalu sampai kapan aku harus pasrah saja saat kamu menggunakanku sebagai alat balas dendammu pada Lisa? Kamu cuma mau dia sakit hati dan cemburu kan dengan pernikahan kita?" Di luar dugaanku, Mas Rey yang ku pikir akan dengan mudahnya melepaskanku bereaksi sebaliknya. Dia memohon padaku agar tidak pergi. Dasar lelaki egois, jika hatinya bukan untukku kenapa juga harus mempertahankan hubungan pincang ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN