Senja dan Bintang
"Jangan paksa Senja Ma..., Senja itu Senja bukan kak Bintang yang harus selalu Pakai jilbab "Kesal Senja tiap kali di paksa Mama Ana untuk memakai jilbab seperti Kakaknya yang shalihah.
Yah Senja bosan setiap saat selalu di ceramai tentang jilbab, jilbab dan jilbab oleh Mamanya dan Papanya. Hampir di rumah, di sekolah dari kecil sampai besar selalu di bandingkan dengan Senja kakak tercintanya.
Senja memang beda, Dia gadis yang cantik sesungguhnya sama cantiknya dengan Senja sang kakak yang jadi primadona di lingkungannya. Bedanya sejak kecil Bintang tumbuh jadi wanita yang lemah lembut, shalihah dan selalu menutup auratnya sama seperti Mamanya. Sedangkan Senja gadis tomboi yang anti dengan pakaian perempuan, gayanya tomboi dan suka bela diri, namun meski begitu dia tetap shalat dan puasa seperti muslim yang taat.
Senja juga tidak punya banyak teman perempuan, lebih banyak teman laki-laki, karena sejak kecil Dia suka berteman dengan laki-laki, tubuhnya juga yang tinggi menyebabkan Dia menyukai basket dan semua olah raga yang di sukai laki-laki.
Berbeda sekali dengan Bintang yang bekerja sebagai, Dia sangat ramah, lemah lembut dan bersahaja. Semua orang bahkan tidak menyangka bila Senja adalah adik dari guru cantik yang jadi gemaran laki-laki di daerahnya.
Mama Ana mengelus d**a, nyidam apa dulu saat hamil anak keduanya ini, sudah berbusa-busa lidahnya berceramah namun tidak pernah mau di dengar.
Memang menasehati orang lain jauh lebih mudah dari pada Anak sendiri. Mama Ana dan Papa Anang termasuk orang yang di segani oleh masyarakat di kampungnya, selain karena pemilik Panti Asuhan mereka juga ketua RW di kampungnya.
"Senja heran Mama sama kamu, udah besar udah perawan sebesar itu susah banget di suruh berjilbab. Jaga Auratnya sayang..... langkah kakimu itu membawa sekeluarga ke neraka." Kata Mama Ana lelah menceramahi Senja
"Iya Ma... besok kalau udah siap Hijrah ya... Sekarang belum siap. Kelakuan Senja belum pantes buat di jilbapin. Nanti justru jilbabnya kena buly gara-gara Senja yang pakai. Nih udah pakai jaket sama topi..." Kata Senja sambil berjalan Salim ke Mamanya untuk pamit dan berangkat ke Sekilahnya.
"Assalamualaikum...!"Teriaknya sambil naik motor lanangnya dan memakai helem full face nya.
Orang tidak akan percaya kalau yang naik adalah perempuan, karena Senja memakai celana dan hoddi seperti laki-laki, rambutnya juga di masukkan ke dalam jaket dan di tutup helm.
"Wassalamu'alaikum... Huh... punya anak yang satu aja sudah amat di bilangin. Kalau kayak gitu gimana jadinya coba. Sabar Ya Allah... " Gerutuan Mama Ana sambil meneruskan menyiram tanaman yang tertunda.
Bintang yang baru keluar dari rumah tersenyum melihat Mamanya, siapa lagi pelaku yang udah membuat pagi-pagi Mamanya berceramah kalau bukan adik tersayangnya yang antik itu.
Bintang ingin berangkat mengajar, jadi dia juga berpamitan kepada Mamanya."Udah Ma.. yang sabar... kita doa' in aja... Capek kalau ngedumel terus tiap hari."Kata Bintang tersenyum lembut dan adem.
"Bintang berangkat dulu ya Ma... Assalamualaikum..." Pamit Bintang menyalami Mama Ana.
"Wa'alaikumusalam Kak... hati-hati ya... Fii amaniillah..." Kata Mama Ana, sambil memandangi Bintang yang memasuki mobilnya untuk menuju ke sekilah tempat dia mengajar sekaligus tempat adiknya belajar.
Sungguh dua sisi yang berbeda bagaikan Utara dan Selatan, padahal keduanya lahir dari rahim yang sama, makan dari nafkah yang sama dan dididik oleh orang tua yang sama, Mama Ana meneruskan kegiatannya sambil terus beristighfar.