Ajeng berdandan sangat rapi pagi ini, untuk menghadiri sidang perceraian terakhir dan mendengar keputusan hakim di pengadilan. Dia jauh lebih ceria sejak mengurus perceraian. Dia mengakui bahwa Anung adalah sosok laki-laki tegas dan baik terlepas kesalahan yang pernah dia perbuat. Mata Ajeng tertunduk ke bawah, mengingat semalam Anung yang ingin dimanjakannya, Anung ingin dipeluknya, tapi Ajeng menolak dan hanya bisa menggenggam tangannya memberi kekuatan. Ajeng tidak mau mundur sedikitpun. “Ibu mau ke mana?” tanya Janu yang masih belum mandi. Dia tampak mendekap pesawat mainannya. Tatapannya bingung melihat ibunya yang sangat cantik dan rapi. “Ibu mau pergi, nanti siang ibu pulang. Janu sama Mbak Uni ya?” “Iya, Ibu. Tapi Janu boleh titip?” “Janu mau titip apa?” Ajeng merapikan dand

