Ajeng menghela napas panjang saat berada di dalam kamar Anung. Dia merasakan sesak di d**a karena mengenang banyaknya kenangan indah di sana. Dibandingkan dengan prahara rumah tangganya, Ajeng menyadari bahwa dia telah merasakan kebahagiaan jauh lebih lama. Lebih kurang empat tahun berpacaran dengan Anung dan tidak ada yang mengganggu, selama itu pula dia mendapatkan perhatian penuh dari Anung, saling menjaga, saling mengingatkan untuk tidak ‘berlebihan’ selama berpacaran, Anung tetap menjaga ‘kesucian’ Ajeng sampai pada akhirnya mereka menikah. Kemudian, kira-kira tiga tahun menikah, Ajeng pun tetap diberi perhatian yang berlipat-lipat, terutama sejak Janu lahir. Ajeng menyeka pipinya yang basah karena derai air mata, walaupun dia tahu pengkhianatan yang dilakukan Anung sangat menyakitk

