Chapter 18 - A Plan Seharian ini Yaya benar-benar merasa tidak tenang. Karena ia sibuk memikirkan nasib hidupnya, lalu langkah apa yang harus segera diambilnya. Ia tidak mungkin tinggal diam, dan membiarkan hatinya terus-menerus terluka semakin dalam. Ia harus bertindak sekarang juga. “Ya Tuhan ....” Yaya menatap pantulan wajahnya di depan cermin meja rias. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Kemudian Yaya menautkan kedua telapak tangannya, dan menumpukan keningnya di sana dengan kedua mata yang terpejam. Ia berpikir keras untuk mencari cara supaya dirinya bisa segera terbebas dari masalah yang telah diciptakan oleh El yang saat ini masih berstatus sebagai suami sahnya. Setelah cukup lama merenung di depan meja rias, Yaya akhirnya memutuskan untuk merenungkan segalanya di atas tem

