Chapter 05 - Two Strangers

605 Kata
Pagi yang buruk. Karena Yaya tidak terbiasa dengan musim dingin yang saat ini sedang terjadi di sekitarnya, sehingga ia benar-benar merasa kedinginan, meskipun penghangat ruangan sudah dinyalakan. “Kau benar-benar payah,” komentar El sambil membawakan sebuah mug berisi coklat panas untuk istrinya yang masih bergelung di dalam selimut tebal. “Minumlah ini, mungkin kau akan merasa jauh lebih baik.” Yaya langsung membuka kedua matanya, dan menatap El yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil memegang sebuah mug berwarna putih di tangan kanannya. “Apa itu?” tanyanya. “Coklat panas.” Yaya segera mengambil posisi sambil mengatur letak selimutnya sedemikian rupa, hingga membutuhkan waktu yang cukup lama, dan membuat El langsung memutar kedua bola matanya. “Ini pertama dan terakhir kalinya aku membawamu datang ke sini di saat musim dingin.” “Syukurlah,” ucap Yaya yang sudah mengambil alih mug dari tangan El, dan mulai meneguk isinya dengan perlahan-lahan. “Lagi pula, aku memang tidak tertarik untuk dibawa ke sini lagi.” El hanya mendengkus keras, dan segera beranjak dari atas ranjang. Sementara Yaya hanya membiarkannya saja sambil terus menikmati coklat panas di dalam mug-nya. “Aku ingin sarapan di luar saja,” beritahu El sembari mengambil mantelnya yang terletak di atas sandaran sofa. “Kalau kau ingin sarapan sendirian di sini, ya, silakan.” Karena Yaya tidak menggubris ucapannya, jadi El langsung pergi begitu saja. Namun, sepertinya El lupa, bahwa istrinya itu hanya menguasi satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia. *** El hanya tertawa pelan begitu melihat Yaya menyantap Älplermagronen miliknya dengan mimik wajah sebal yang sangat kentara. Älplermagronen merupakan hidangan khas Swiss berupa macaroni dengan lapisan kentang, serta krim keju yang disajikan bersama saus apel hangat, dan sangat cocok disantap di saat musim dingin seperti sekarang. “Jangan menatapku seperti itu, Ya. Ini semua terjadi karena ulahmu sendiri.” Yaya hanya mendelik kesal ke arah El, dan tetap mengunyah makanannya dengan perasaan dongkol tiada tara. Karena pria itu telah tega meninggalkannya di dalam kamar hotel sendirian, tanpa makanan, lalu pria itu baru kembali sekitar tiga jam kemudian. “Sepertinya kau harus segera mengikuti les privat bahasa asing setelah pulang dari sini,” gumam El. Yaya tidak mengatakan apa-apa, dan terus mengunyah Älplermagronen di mangkuknya sambil memisahkan irisan bawang putih yang ada di sana. “Sebenarnya kau ini lulusan apa?” tanya El tak lama kemudian. Yaya kontan mengangkat wajahnya, dan merasa cukup terkejut karena pertanyaan El barusan. “SMA.” El langsung terdiam. Ia hampir saja lupa kalau Yaya adalah seorang gadis dari keluarga sederhana yang kebetulan sangat beruntung hingga bisa menikah dengan orang kaya seperti dirinya. “Kenapa?” Yaya bertanya dengan nada santai begitu melihat El yang hanya terdiam setelah mendengar jawaban darinya. “Kau baru tahu ya?” Kemudian, Yaya pun berdeham pelan. “Bagaimana bisa kau menikahi seorang wanita yang tidak kau ketahui asal-usulnya?” El hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. “Aku tahu sedikit tentang asal usulmu.” “Oh ya?” Yaya memiringkan wajahnya dengan pandangan tak percaya. “Iya.” El menganggukkan kepalanya. “Aku tahu siapa kedua orangtuamu.” “Hanya itu?” tanya Yaya yang masih terlihat tak percaya. “Dan kau langsung setuju untuk menikahiku tanpa mencari tahu semua tentang diriku?” “Lalu, bagaimana dengan dirimu?” El mendengkus. “Kau sendiri mau menikah denganku tanpa tahu bagaimana diriku.” Yaya hanya merengut masam, dan kembali menyantap makanannya dalam diam. Sedangkan El hanya memperhatikannya saja dengan pikiran yang sudah berkelana ke mana-mana. “Seharusnya kita berdua tidak menikah secepat ini, ‘kan?” Yaya kembali bersuara setelah mereka berdua terdiam dalam waktu yang cukup lama, dan ia pun sudah menghabiskan semangkuk Älplermagronen miliknya. Ditatapnya El dengan pandangan penuh tanya, tapi pria itu hanya diam saja. Setelah beberapa menit berselang, El baru menjawab pertanyaan yang sempat Yaya lontarkan. “Lebih cepat, lebih baik, Ya. Karena aku tidak mau membuang-buang waktu untuk hal yang percuma.” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN