Chapter 04 - Davos City

698 Kata
Setelah menyelesaikan tugasnya untuk membantu Yaya mempersiapkan pakaian yang nanti pasti akan dia diperlukan, Jasmine langsung meninggalkan wanita itu sendirian di dalam kamar. Karena ia ingin segera menemui El, dan berbicara berdua bersamanya. Namun, pria itu sudah tidak terlihat lagi di dalam ruang kerjanya. Sehingga Jasmine kembali berjalan di antara deretan kamar, dan berhenti tepat di sebelah pintu kamarnya Yaya. “Swiss, El?” Jasmine menerobos masuk ke dalam kamar El yang tidak terkunci. Ternyata benar, pria itu memang sudah berada di dalam kamar pribadinya. “Seriously? Kau akan berbulan madu ke Swiss?” “Ya.” El menjawab dengan singkat, dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang menyala. Ia sedang sibuk menonton siaran luar, dan kedatangan Jasmine tidak mampu mengalihkan perhatiannya. “Aku tidak percaya ini,” gumam Jasmine sambil memijat pelipisnya dengan gerakan pelan. Karena kepalanya terasa pusing seketika, tapi El hanya meliriknya sekilas tanpa mengatakan apa-apa. Lalu Jasmine mulai berjalan mondar-mandir di sana, dan El sama sekali tidak menegurnya. “Sebenarnya rencana apa yang sedang kau jalankan?” tanya Jasmine tak lama kemudian. “Tidak ada rencana apa pun. Papa yang menyuruhku untuk pergi berbulan madu.” Albert memang menyuruh El untuk pergi berbulan madu dengan Yaya, tapi pria paruh baya itu sama sekali tidak merekomendasikan Swiss sebagai negara yang harus dikunjungi oleh mereka berdua. Karena El sendirilah yang memiliki hak untuk memilih negara mana yang akan ia kunjungi bersama istrinya. “Tapi ... kenapa harus Swiss?!” El langsung menatap Jasmine dengan pandangan setajam belati. “Jaga nada bicaramu, J. Kau harus mengingat posisimu di sini.” Jasmine hanya mengumpat dari dalam hati, dan segera pergi dari sana dengan emosi yang semakin membara. Bagaimana bisa El mengingatkannya tentang posisinya? Apa pria itu lupa akan masa lalu mereka berdua? Namun, ada hal yang lebih penting dari itu semua. Karena sebentar lagi El dan Yaya akan pergi berbulan madu bersama. Sehingga Jasmine yang merasa tidak rela, harus bergerak cepat agar bisa membatalkan rencana mereka berdua. Apa pun caranya. *** Davos adalah sebuah kota di Swiss bagian timur, tepatnya di Sungai Landwasser, Kanton Graubünden. Davos terkenal sebagai kota olahraga musim dingin, dan juga tempat pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF). Bukan hanya itu saja, Davos juga terkenal akan kondisi udaranya yang sangat bersih di lereng pegunungan. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, dan El tidak akan pernah merasa bosan saat berkunjung ke sana. Meski ia sudah pernah beberapa kali mengunjungi kota itu sebelumnya. Apa lagi kali ini ia pergi bersama Yaya, dan semuanya pasti akan terasa sangat berbeda. “El,” panggil Yaya setelah pria itu menerima sebuah kartu dari Resepsionis hotel yang sedang berjaga. “Ya?” “Apa kita berdua akan tidur sekamar?” tanya Yaya dengan suara pelan. “Tentu saja.” El menarik sedikit ujung bibirnya. “Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?” Yaya hanya memilin ujung mantelnya tanpa mengatakan apa-apa, dan tetap mengikuti langkah kaki El yang sekarang sudah berjalan beberapa langkah di depannya bersama staf hotel yang akan mengantarkan mereka berdua menuju ke arah kamar. “Kenapa kita berdua harus jauh-jauh datang ke Eropa? Padahal di Indonesia pun ada begitu banyak tempat-tempat yang indah.” Tanpa sadar, Yaya langsung menceletuk begitu staf hotel membukakan tirai yang ada di pintu kaca balkon kamar mereka, hingga memperlihatkan pegunungan yang sangat indah. El kontan mencibir begitu mendengarnya. “Memangnya di Indonesia ada saljunya?” Yaya segera menolehkan kepalanya ke arah El yang sudah duduk santai di salah satu sofa. Ia tidak langsung menjawab, karena pria itu sedang sibuk berbicara dengan staf hotel menggunakan bahasa asing yang tidak terlalu dimengerti olehnya. Setelah staf hotel itu pamit undur diri, Yaya mulai bersuara lagi. “Jadi, kau ke sini hanya untuk bermain salju?” El langsung mendengkus. “Kau pikir, aku ini anak kecil?” Yaya tahu kalau dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan retorik semacam itu. “Tentu saja aku ingin memanfaatkan musim dingin di Swiss kali ini dengan sebaik mungkin. Jadi, aku sengaja mengajakmu berbulan madu di sini.” Kemudian, El pun mengerling usil. “Kau pasti mengerti.” Penjelasan itu benar-benar membuat Yaya terperangah. Bahkan kedua pipinya pun sudah terasa memanas secara tiba-tiba. “Tidak!” Yaya berseru dengan cepat sembari menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti sama sekali.” Setelah itu, Yaya mulai bergidik ngeri. Sedangkan El sangat menikmati hiburan semacam ini. Karena ia tahu kalau Yaya tidak akan bisa melarikan diri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN