Bab 9

1208 Kata
Dua minggu berjalan begitu cepat. Kondisi Melodi dikabarkan sudah pulih. Urusan alfa di London sudah selesai dan kini saatnya mereka pulang. Quin, adiknya ikut serta. “Pesawatnya delay. Aku benci ini.” Quin terlihat cemberut. Delta dan Alfa bertukar pandang. Quin memang tidak ingin diajak kembali ke Indonesia. Tapi, mau tak mau ia harus menuruti kemauan orangtuanya. Patah hati yang teramat sakit, membuatnya harus kembali ke Indonesia, ke negara kelahirannya. “Sabar, sayang. Ya sudah... kita ngopi dulu aja,” ajak Delta sambil membawa Quin ke satu Coffeshop yang ada di sekitar mereka. Alfa mengekor dari belakang sambil sibuk memainkan ponselnya. Ia sibuk menghubungi seseorang. Delta berusaha terus membuat Quin tidak sedih lagi. Quin harus melupakan pria yang menyakitinya itu. Satu jam kemudian mereka berangkat dari  London Heathrow international airport. Alfa bernapas lega, akhirnya ia meninggalkan tempat ini. Kemudian ia memilih tidur,menyimpan tenaganya untuk memulai aktivitas lagi seperti biasa 2 hari lagi. Delta memeluk Quin sampai tertidur. Setelah melewati Waktu tempuh 15 jam 10 menit dengan satu kali transit di Singapura, mereka tiba di jakarta. Alfa berjalan cepat menuju mobil jemputan mereka. “Kak, pelan kenapa, sih,” protes Quin. “Kakak harus cepat, Quin. Ada sesuatu yang gawat,” jelas Alfa tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. “Sejak kapan punya urusan yang begitu penting sampe-sampe ngobrol sama aku, ngeliat aja enggak.” Quin membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk. Begitu juga dengan Delta. “Sejak jatuh cinta.” Delta terkekeh. “Kak Alfa jatuh cinta? Wow... sebentar lagi menikah dong. Susulin tuh kak Jo.” Quin terkekeh. Ia sudah sedikit ceria. “Masalahnya tak segampang itu, Quin,” kata Alfa dari kursi depan. Sang supir sudah selesai memasukkan barang mereka ke bagasi mobil, lalu masuk ke dalam mobil. “Pak, agak cepetan ya. Ada yang penting.” Alfa terlihat panik. “Ya... enggak bisa singgah dulu buat makan dong,” kata Quin kecewa. Delta memeluk pundak Quin.”Enggak apa-apa, Sayang. Nanti malam Kakak anterin kamu jalan-jalan. Kemana aja kakak anterin.” Quin mengacungkan jempolnya dengan senang. Ia bersandar di lengan Delta sambil memasang earphone dan mendengarkan musik. “Kenapa, sih, Kak? Buru-buru banget,” tanya Delta. “Melodi... dia sudah sembuh dari lupa ingatannya.” Alfa mengusap wajahnya dengan kasar. Delta terbelalak.”What? Serius? Terus... jadinya gimana? Sekarang dia dimana?” “Dia pulang ke rumahnya, Delta. Dia balik setelah ingat semuanya. Sebenarnya ini sudah terjadi 3 hari yang lalu. Tapi, Mama sama Papa enggak kasih tahu.” Delta hanya bisa geleng-geleng kepala. Mau bagaimana pun, Melodi pasti akan kembali ke orangtuanya. Akan kembali ke asalnya. Mana mungkin seorang manusia bisa diambil begitu saja.”Ya semoga semua baik-baik aja.” Sepanjang jalan Alfa merasa resah sekaligus sedih karena sekarang ia kehilangan wanita yang dia cintai. Bahkan di saat ia sedang tidak ada di rumah. Setelah berjam-jam melewati kemacetan, Alfa, Delta dan Quin tiba di rumah. “Ma, dimana Melodi, Ma?” tanya Alfa panik. “Kakak... aku mau peluk Mama dulu ih. Masa udah langsung nanyain Melodi aja.” Quin langsung memeluk Riri. “Iya, sayang... kamu baik-baik aja, kan?” Tanya Riri pada Quin. Quin mengangguk.”Iya, Ma. Quin baik-baik aja.” Kemudian ia beralih pada James. “Alfa...Melodi sudah kembali ke rumahnya,” jelas Riri pada Alfa. Alfa menjambak rambutnya sendiri.”Kenapa Melodi bisa sembuh, Ma?” Riri duduk di sofa dengan tenang meskipun alfa terlihat begitu depresi.”Mungkin karena perobatan yang selama ini kita lakukan padanya. Ax, dia sudah kembali ke keluarganya dan memang begitu seharusnya. Kamu jangan bersikap seperti itu. Dia bukan milik kamu.” Alfa berlutut di hadapan Riri.” Tapi, Alfa sangat mencintai Melodi,Ma.” James duduk di sebelah Riri menatap anak keduanya itu dengan resah.”Alfa..., dia tidak mencintaimu, kan? Sebenarnya kamu sering menyatakan cinta pada Melodi sebelum dia lupa ingatan, bukan? Tapi... dia selalu menolak. Itu artinya dia tidak mencintaimu.” “Papa tahu darimana mengenai hal itu?”  Selidik Alfa. “Kami menanyakannya saat Melodi ingat semuanya. Kami menunjukkan fotomu, dan bertanya apa hubungan kalian.” Riri menghentikan kalimatnya. Alfa menatap ibunya dengan penasaran, berharap ada lanjutan dari ucapannya. “Melodi bilang dia kenal dengan kamu. Kamu adalah temannya Rey, tunangannya. Melodi juga menjelaskan bahwa, kamu berkali-kali menyatakan cinta padanya. Tapi ia tolak,” sambung james. Delta dan Quin sedari tadi menjadi pendengar budiman. Sekaligus merasa miris melihat kondisi kakak mereka. “Kasihan Kakak Alfa,” celetuk Quin tanpa sadar. “Pssttt....” Delta menutup mulut Quin.”Lebih baik kita pergi dari sini,” kata Delta. “Kemana?” “Ya sudah kamu mandi dulu sana. Abis ini kita jalan... nanti main ke rumah Kak Jo,” ajak Delta. Quin mengangguk-angguk setuju. “Lalu... kenapa sekarang Melodi pergi, Ma, Pa? Kenapa tidak tunggu Alfa dulu?” “Melodi sudah rindu kekuarganya, Alfa. Jangan egois begitu. Kalau memang kamu beneran sayang, dan ingin memilikinya. Coba kejar dia... dapatkan hatinya. Apapun itu, asal masih dalam kebaikan, kami akan terus mendukung.” Riri mengusap kepala Alfa yang sedang bersandar di pahanya. Ia seperti sedang terpuruk. “Aku tidak bisa kehilangan dia, Ma. Aku mau Melodi.” Ucapan Alfa membuat James dan Riri hanya bisa bertukar pandang. Mereka sendiri tidak bisa berbuat apapun karena Melodi sudah memiliki tunangan. James menepuk pundak Alfa.”Sabar, Alfa, kamu itu lelaki. Pasti kuat.” Malam harinya, rumah terlihat sepi. Riri dan james sudah masuk ke kamar. Sementara Delta dan Quin pergi sejak magrib tadi. Gamma juga sudah lama tidak tinggal di rumah ini karena harus menjenguk kedua orangtuanya di luar kota. Tinggallah Alfa dan segala lamunannya. Lalu terbesit di pikirannya untuk menghampiri Melodi ke rumahnya. Alfa bergegas, berganti baju dan merapikan diri. Lalu ia berangkat menuju rumah Melodi. Sesampai di rumah Melodi, ia hanya disambut oleh seorang satpam.”Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Melodi ada di rumah?” Tanya Alfa sesopan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. “Maaf, Pak. Non Melodi sedang pergi sama Tuan dan Nyonya,” jelasnya dengan ramah. “Maaf, kalau boleh tahu kemana ya, Pak?” Tanya Alfa lagi. Sang satpam menggeleng,” Maaf, Pak. Saya kurang tahu..., tapi... tadi saya sempat denger katanya sih mau makan malam aja di luar.” Alfa mengangguk kemudian berterima kasih pada satpam tersebuy pikiran Alfa tak tenang. Ia sangat yakin kalau Melodi pergi bukan untuk makan malam. Mungkin untuk hal lain yang tujuannya besifat sangat pribadi. Tapi, ia juga bingung kemana harus mencari Melodi. Akhirnya Alfa memutuskan untuk menunggu saja di dalam mobil yang ia parkir sedikit jauh dari rumah Melodi. Alfa masih menunggu dengan perasaan was-was. Kemudian ia tersentak saat ponselnya berbunyi. Telpon dari Jonathan, kakaknya. “Iya, kak?” “Kamu dimana, Al?” “Ada urusan.” “Ck... kamu enggak pengen ketemu kakakmu ini dan juga kakak iparmu, ha?” “Aku....” “Aku ini kakakmu. Cepat ke sini. Delta dan Quin sudah dari tadi di sini.” “Tapi...” Jonathan memutuskan sambungan teleponnya tanpa membiarkan Alfa selesai bicara. Alfa mendengus kesal. Ia bingung harus bagaimana. Tapi, menunggu di sini terus menerus juga tidak akan membuahkan hasil. Kapan Melodi akan pulang, juga tidak dapat dipastikan. Akhirnya Alfa mengalah, memilih untuk mengunjungi Jonathan. Mungkin saja kakaknya itu akan marah jika ia tidak datang mengunjunginya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN