Melodi mengangguk. Hatinya teriris saat kepingan masa lalunya mulai menyatu perlahan.”Mungkin, Tuhan bermaksud menghilangkan rasa sakit di hidupku dengan membuatku lupa ingatan. Aku rasa lebih baik begitu.”
“Setiap kejadian, pasti ada hikmah di balik itu semua, Mel. Kamu enggak pengen ketemu sama Papa kamu?”
Melodi menggeleng.”Mungkin... enggak untuk saat ini. Sepertinya ia tengah berbahagia.”
Melodi menunjukkan sebuah ponsel yabg diberikan James siang tadi. Di sana ia mulai membuka sosial media miliknya. Ada beberapa postingan Mama tiri Melodi yang tengah berlibur di raja ampat.
“Papa tidak terlihat sedih apalagi mencariku.”
“Tapi, kamu harus ingat bahwa... Shelyn yang menemukanmu. Dia tahu, kamu masih hidup.” Alfa menatap Melodi dengan serius.
Melodi memegang bibirnya.”Astaga... lalu, bagaimana ini?”
“Tapi, dia tidak tahu kepada siapa Melodi diserahkan. Mr.Ax, kan, selalu memakai topeng seram.” Alfa terkekeh.
“Terima kasih banyak, Mr. Ax.” Melodi tersenyum dan menunduk malu.
“Lalu, apalagi yang kamu ingat tentang diri kamu?” Selidik Alfa. Ia takut kalau Melodi teringat dengan tunangannya. Meskipun bisa saja suatu saat Melodi akan ingat, tapi ia tak rela jika secepat ini.
“Tidak ada. Aku cuma ingat gimana keluargaku. Gimana Papa..., Mama, Shelyn. Papa yang mulai berubah sejak menikah lagi. Mama dan Shelyn yang benci banget sama aku. Tapi, aku kurang ingat bagaimana bisa aku ... pada akhirnya dinyatakan hilang.”
“Kecelakaan mobil,” jelas Alfa.
“Oh, menyedihkan banget. Oh, ya.. .apa sebelumnya kita kenal?” Melodi menatap Alfa dengan serius.
“Ma... maksud kamu?”
“Iya... kan kamu sengaja beli aku dari Shelyn karena kamu kenal aku sebelumnya kan? Terus Mama sama Papa kamu juga kenal keluargaku. Itu artinya... kita juga saling kenal. Apa ... kita itu satu kantor? Satu kampus? Satu sekolah?”
Alfa mematung di tempat. Haruskah ia menjawab pertanyaan Melodi dengan jujur? Menunggu waktunya tepat atau menunggu sampai Melodi ingat dengan sendirinya. Jujur adalah hal yang tak ia inginkan saat ini.
“Ax? Sebenarnya apa hubungan kita sebelum aku lupa semuanya?” Tanya Melodi lagi membuat Alfa tersentak.
Alfa menusap tengkuknya.”Ehmmm... kita itu....”
“Ax? Sebenarnya apa hubungan kita sebelum aku lupa semuanya?” tanya Melodi lagi membuat Alfa tersentak.
Alfa mengusap tengkuknya.”Ehmmm... kita itu hanya seorang teman. Teman dari teman... ya... seperti itu.”
“Tapi...”
Belum selesai Melodi bicara, terdengar suara pintu terbuka.
“Alfa... bisa kamu bantu Quin?” Tanya James tiba-tiba sekali.
“Quin kenapa, Pa?” Alfa terlihat bingung.
“Kamu dan delta berangkat besok pagi. Kamu akan tahu masalahnya nanti di sana.Ini penting.” James memutuskan.
“Lalu gimana sama Melodi, Pa? Alfa harus temenin Melodi.” Alfa menolak.
“Hanya 2 minggu, Alfa. Setelah itu kalian kembali bersama Quin. Melodi masih harus istirahat di sini. Nanti Mama yang urus masalah tempat tinggal Melodi.” Riri mengusap pundak Alfa agar ia mau pergi bersama Delta besok pagi.
“Iya, Ma. Janji... gak lebih dari 2 minggu, ya.”
Riri dan James mengangguk bersamaan. Alfa mengalah, mau tak mau ia menuruti kemauan kedua orangtuanya untuk pergi ke London untuk melihat adik perempuan satu-satunya itu.
“Oke... kamu berangkat dari sini aja. Lebih dekat ke bandara. Biar nanti Mama suruh Bibi Grace siapin pakaian kamu,” jelas Riri.
Alfa mengangguk, kemudian pandangannya teralihkan. “Mel? Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?”
“Kamu mau ke mana?”
“Jenguk adik aku. Kayaknya dia lagi ada masalah.” Alfa menjawab sambil mengusap kepala Melodi.
“Ehem. Tunangan orang.” James sedikit terbatuk sambil mengucapkan sesuatu yang hanya bisa di dengar oleh Alfa.
“Papa.” Alfa menunjukkan wajah datarnya.
“Ax...,” panggil Melodi.
“Ya, Mel?” Tanya Alfa.
Melodi menatap Riri dan James dengan bingung. Alfa menoleh, “Ma, Pa... Alfa mau bicara pribadi sama Melodi.”
Riri terkekeh.”Ohohoho... mau bicarain pernikahan, ya. Ya sudah... ayo, Pa.”
“Sepertinya juga kita harus pulang dulu ke rumah. Kamu jaga Melodi, ya. Mel... kami pulang dulu.” James melambaikan tangan.
“Iya, Om, Tante. Terima kasih. Hati-hati.” Melodi membalas lambaian tangan James.
“Kalau Alfa jahatin kamu, jangan sungkan-sungkan lapor ke tante, ya,” ucap Riri sebelum ia menghilang ditarik oleh suaminya.
Melodi tersenyum, ia merasa lucu. Alfa menutup pintu, dan menguncinya karena ia sangat yakin tak akan ada lagi yang akan datang ke sini.
“Kamu mau bicara apa, Mel?”
Melodi mengigit bibirnya.”Sejak kamu culik eh... tolong aku dari Shelyn... kamu ... ehmmm kita... ngelakuin itu, kan? Aku masih bisa ingat.”
Alfa mengangguk.”Iya.”
“Lalu... bagaimana kalau terjadi apa-apa denganku, Ax?” Air mata Melodi mengalir.
“Maksudnya kamu hamil? Ya... kita menikah. Kan, Mama sama Papa aku juga sudah tahu. Terus... mereka juga tidak ada masalah dengan ini, kan. Kamu jangan khawatir.” Alfa menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Melodi.
Melodi menggeleng.”Ehm... tapi, dulu... kita cuma teman, kan?”
“Mel... biarpun dulu kita cuma teman. Tidak ada salahnya kita menikah. Kita tidak tahu jodoh itu kapan akan datang. Apa yang kamu takutkan. Kamu juga tinggal di rumahku, kan.” Alfa mengecup kening Melodi.
“Tapi, aku takut....” Melodi menatap Alfa dengan bingung dan resah.
“Apa yang kamu takutkan?”
“Aku sama sekali belum mengingat siapa kamu, Ax,” kata Melodi.
“Apa aku terlihat orang yang membahayakan bagimu?”
Melodi menggeleng.
“Percayalah.. aku hanya salah satu orang yang tidak akan pernah menginginkan kamu tersakiti.”
“Thanks... aku harap semua baik-baik saja, Ax. Terima kasih sudah menyelamatkanku.”
Alfa mengusap kepala Melodi dengan lembut, menatapnya dengan mesra seakan tak ingin semua ini berakhir. Ax mendekat ke wajah Melodi yang kini sudah merah seperti kepiting rebus.
“Hei... kenapa membuang wajah seperti itu.” Alfa berusaha membuat Melodi menatapnya.
“Aku... tak bisa menatapmu, Ax,” kata Melodi sambil menunduk.
“Kenapa? Apa aku menyeramkan? Lihatlah aku.”
Kini Melodi mengangkat wajahnya, menatap Alfa yang sekarang juga tengah menatapnya.
“Setiap menatapmu, aku hanya bisa mengingat semua kejadian itu,” kata Melodi malu-malu.
“Kejadian apa?” Alfa terlihat bingung.
“Kejadian setiap malam di kamarmu.”
Alfa sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia terlihat mengambil kesempatan ini. Kini ia menggeser tubuhnya lebih dekat lagi pada tubuh Melodi.
“Oh, ya? Apa yang kamu ingat?”
“Saat kamu berada di atas tubuhku,menekanku, ada rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.” Melodi tersenyum saat mengingat malam-malam yang mereka lewati bersama di dalam kamar.
“Kamu menyukainya?” tanya Alfa parau, suaranya sudah melemah. Ia sudah b*******h sejak tadi.
“Aku tidak tahu... karena saat itu, aku marah padamu.”
“Lalu? Kamu mau mencobanya lagi?” Tanya Alfa sedikit berharap. Kali ini ia tak bisa memaksa seperti sebelum-sebelumnya. Sebab, bisa saja orangtuanya tahu.
Melodi hanya tersenyum, tak menjawab apa-apa. Alfa meraih dagu Melodi,mata mereka saling menatap, berusaha membaca segala isi pikiran masing-masing. Aroma tubuh Alfa sungguh menghipnotis Melodi, ia ingin merengkuh tubuh pria di hadapannya. Merasa mendapat tanggapan yang bagus dari Melodi, Alfa tak membuabg kesempatan itu. Dikecupnya wajah Melodi pelan-pelan, kemudian beralih ke bibir. Keduanya pun terhanyut dalam gelora asmara