Bab 7

1213 Kata
“Terus? Kamu sekap di kamar? Harusnya kamu bisa kasih tahu ke kita, Fa,” kata James dengan tenang. “Ma, Pa... aku rasa itu bukan cara yang baik. Sebab Alfa rasa... ia memang sengaja dibuang oleh Ibu tirinya dan juga Shelyn,” jelas Alfa. “Alfa... Mama enggak tahu gimana cara berpikir kamu. Kamu sudah mengetahui keberadaan Melodi, tapi enggak pulangin dia ke keluarganya. Sementara kamu sendiri... tahu tentang hilangnya Melodi.” “Kakaknya sendiri, Ma, juga tahu keberadaan Melodi. Bahkan... dia yang menemukan Melodi. Kenapa... dia tidak membawanya pulang malahan menjadikan Melodi budaknya.” Ucapan Alfa kali ini membuat Riri yang sAlfai tadi emosi langsung terdiam mencerna kata-kata Alfa. James mengusap pundak isterinya.”Yang tenang, Ma... biar Alfa menjelaskan.” “Ma, kota ini tidaklah besar. Kenapa hanya mencari seorang Melodi saja tidak bisa ketemu. Bahkan,ternyata... Melodi sempat dirawat di rumah sakit. Kenapa pihak rumah sakit tidak melaporkan pada polisi saja. Aneh lagi, kan... jadi ini semua sudah direncanakan,” jelas Alfa. “Kasihan sekali kamu, Mel.” Riri mendesah dengan gusar. “Tapi, biar bagaimana pun... kita harus kembalikan Melodi pada orangtuanya, Alfa. Dan ingat... Melodi sudah memiliki tunangan.” James berusaha meyakinkan Alfa agar ia mau melepaskan Melodi. Mendengar perkataan ayahnya, Alfa sangat tidak rela. Ia sangat tidak rela bila harus melepaskan wanita yang sangat ia cintai. Baru sebentar ia bisa berada di samping Melodi, tapi kini ia harus pergi. Kembali bersama keluarga dan kekasih sesungguhnya. “Dia lupa ingatan, Pa.” James mengangguk.”Tak apa... nanti kita bisa beritahu sama Melodi pelan-pelan. Kamu jangan bersikap aneh lagi sama Melodi. Nanti dia trauma.” Alfa mengerutkan dahinya.”Aku... enggak ngelakuin apa-apa kok, Pa.” “Delta sudah cerita semuanya sama Mama, Alfa! Kamu enggak kasihan sama Melodi? Dia tertekan. Kamu enggak punya hati, ya sama perempuan. Kamu itu punya adik perempuan, Alfa. Jangan macem-macem sama perempuan.” Omelan Riri kini kembali terdengar memecahkan keheningan sampai-sampai Delta terbangun dan mengintip ke bawah. “Iya, Ma. Maaf.” Alfa menunduk bersalah. “Minta maaf sama Melodi. Awas kamu, ya... kalau macem-macem lagi. Harusnya kamu digantung di pohon,” kata Riri. “Sudah, sayang... biarkan Alfa mendapat karmanya sendiri nanti,” kata James menenangkan Riri. “Papa, ih... nyumpahin anaknya.” Alfa merengut. “Bukan nyumpahin, Fa... tapi perbuatan kamu itu kelewatan.” James berdiri membawa Riri. “Lah... mau kemana?” James menghentikan langkahnya.”Kita mau bicara sama Melodi. Kamu... siap-siap ke kantor sana.” Alfa mematung di tempat. Haruskah ia kehilangan Melodi sekarang? **  Alfa tiba di rumah setelah melewati kemacetan panjang sore ini.  Ia sedikit bingung saat rumah terlihat sepi. Padahal biasanya kalau Mama dan Papanya di rumah, sesorean begini mereka pasti sedang menonton tv sambil minum teh. “Selamat sore, Mas,” sapa Bibi Grace. “Sore, Bi. Dimana Mama?” Tanya Alfa. “Loh memangnya Nyonya enggak ngasih tahu, ya?mereka ke rumah sakit,” jawab Bibi Grace. “Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” Alfa menaikkan alisnya sebelah. “Non Melodi. Enggak tahu persisnya sih... tapi, pokoknya tadi itu pingsan dan dibawa ke rumah sakit.” “Rumah sakit mana, Bi?” Bibi Grace menggeleng.”Maaf, saya kurang tahu, coba Mas tanya sama Nyonya. Soalnya tadi pada buru-buru.” “Ya udah... makasih, Bi.” Alfa memutuskan untuk menghubungi Riri. Riri pun memberikan alamat rumah sakit dimana Melodi dirawat. Kali ini ia harus rela kembali dengan kemacetan. Alfa memasuki sebuah ruangan sesuai dengan informasi dari Riri. Dengan perlahan, ia membuka pintu. “Hai, Mam, Pa....” “Fa..., sini. Duduk.” Riri menyuruh Alfa duduk. Seakan tak sabar ìngin membicarakan sesuatu. “Iya, Ma kenapa?” “Sepertinya ingatan Melodi mulai pulih. Tadi, Mama ceritain siapa dia sebenarnya. Terus... dia diem aja. Lama kelamaan dia kayak pusing... pegangin kepalanya terus kesakitan. Abis itu pingsan,” jelas Riri cemas. Alfa menggenggam tangan Riri.”Ya... gimana, ya, Ma... saran Alfa, kan jangan dikasih tahu dulu. Biarin dia tahu sendiri. Mungkin dia pusing karena semua memorinya balik, Ma. Terus kata dokter apa?” “Katanya sih, ingatannya mulai balik dikit. Tapi, setiap kali dia sadar... dia berusaha ngingat semua tentang masa lalunya sebelum lupa ingatan. Tapi, kepalanya sakit lagi.” Alfa tersenyum, berusaha menenangkan ibunya.”Ma, ya sudah... yang penting sekarang, kan, Melodi sudah ditangani dokter. Perlahan pasti Melodi bisa sembuh. Enggak kesakitan lagi. Kalau dia sembuh, ya sudah... kita anterin pulang.” “Tapi, kayaknya Papa setuju sama saran kamu deh, Fa. Supaya Kita biarkan sementara Melodi ada di rumah. Sampai dia benar-benar sembuh. Tapi, kalau dia minta pulang ya sudah kita anterin ke rumahnya.” James ikut menimpali. “Kamu yakin, sayang? Nanti kalau kita dituduh nyulik gimana?” Tanya Riri khawatir. “Ya kan yang nyulik itu Alfa. Nanti kita jadikan Alfa tersangka.” James terkekeh. Alfa menunjukkan wajah datarnya.”Papa....” “Ya sudah... kamu baik-baik sama Melodi. Mama pusing tahu kalau kalian sampai nyakitin wanita. Soalnya Papa tuh enggak pernah nyakiti Mama.” Riri resah melihat kelakuan anak-anaknya belakangan ini. “Ya sudah, sayang... jangan terlalu kamu pikirin. Melodi pasti baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, biarkan Alfa yang tanggung jawab. Setelah ini kita urus Jonathan.” James memijit pundak Riri. “Kak Jo kenapa?” Tanya Alfa. “Mau nikah,” jelas James. Alfa melirik heran.”Menikah sama siapa? Pacar juga enggak ada.” “Ada itu... perempuan yang dia suka. Tapi,ya... itu nanti lah. Selesaikan dulu masalah ini.” James memutuskan. Alfa mengangguk-angguk.”Hmmm ... jadi, Alfa masih boleh menemu Melodi, kan, Ma, Pa?” “Ya enggak tahu. Tergantung Melodinya gimana. Ya sudah... kamu lihat Melodi sana. Mama sama Papa mau makan dulu. Kamu mau dibungkusin gak?” Tanya Riri. “Iya boleh.” Alfa memasuki kamar tempat Melodi dirawat. Tampaknya Melodi sedang terbangun. Saat ini salah satu perawat tengah memberinya makan. Perawat tersebut tersenyum memberi hormat. Alfa membalasnya. “Mel? Gimana keadaan kamu?” Melodi tersenyum.”Aku baik-baik aja, Ax.” Alfa menaikkan sebelah alisnya. Ia terkejut sekaligus heran. Ternyata Melodi belum mengingat siapa dirinya. Tapi, Mamanya sendiri bilang biarlah perlahan Melodi mengetahui semuanya sendiri. “Syukurlah kalau begitu. Habiskan makanmu.” Alfa duduk di sofa sambil sibuk dengan ponselnya sampai perawat selesai melakukan tugasnya. Melodi pun terlihat tengah santai di tempat tidur. Meski ia terlihat lemah, tapi kecantikannya masih jelas terlihat. Alfa menghentikan kesibukan dengan ponselnya dan menghampiri Melodi. “Kamu... dari kantor langsung ke sini?” Tanya Melodi. Alfa mengangguk.”Iya. Aku... khawatir sama kamu.” “Makasih, Ax.” Melodi tersenyum malu. “Mel, maafkan sikapku selama ini. Aku... culik kamu,” kata Alfa merasa bersalah. “Kamu itu salah, Ax. Tapi, Tak sepenuhnya salah. Mama kamu sudah cerita semuanya. Orangtuaku ada di kota ini. Iya... aku ingat siapa orangtuaku. Papa... dan Mama tiriku.” Melodi meneteskan air matanya. Alfa mengusap pundak Melodi.”Hei..  hei... jangan diteruskan kalau itu justru bikin kamu sakit. Kamu harus sehat terus untuk melanjutkan hidup kamu.” “Aku... cuma ingat tentang bagaimana Mama dan kakak berusaha menjauhkan aku dari papa. Mama..  sangat membenciku. Aku enggak tahu... apa salahku.” Alfa langsung memeluk Melodi. Berusaha menenangkannya dengan harapan kepalanya tak sakit lagi. “Mel, sudah... jangan ingat lagi apa yang buat kamu sakit. Kamu ada di sini. Bersama kami.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN