Bab 8

1029 Kata
"Jadi, dulu...sebelum seperti sekarang, aku kan pernah kerja jadi karyawan biasa. Nah, Esti ini rekan kerjaku. Ya awalnya kita berteman biasa. Dia sering minta tolong, ya aku tolongin. Lama-lama Deket. Terus...suatu hari dia nyatain perasaannya ke aku. Tapi, aku kan enggak punya perasaan lebih dari sekedar teman, Ra. Jadi, ya...biasa aja. Aku tolak,lah. Tapi, tetap berteman. Mungkin dia malah menafsirkan ke hal yang lain." "Oke...tapi, please, Lang. Aku enggak suka ada masa lalu di masa depanku. Setiap orang memang punya masa lalu, tapi...kalau yang begini kan masih kasus ringan ya. Aku enggak mau...orang seperti Esti itu datang di kehidupan rumah tangga kita,"kata Rara dengan tegas. Elang menatap Rara dengan senyuman yang dikulum."Iya,sayang. Tapi, kamu juga harus percaya sama aku. Aku enggak ada hubungan apa-apa sama Esti. Semua seperti yang aku jelaskan tadi." "Iya." Rara tersenyum dengan riang. ** Dua bulan berlalu, hubungan Rara dan Elang masih seperti itu saja. Rara masih kerap menghindar ketika Elang mencoba mengajaknya bercinta. Elang sendiri terkadang merutuk dalam hati. Terkadang nafsunya tidak bisa ia tahan sampai harus martubasi. Betapa menyedihkan dirinya, begitu yang selalu ia pikirkan. Ia punya isteri tetapi masih saja tidak bisa bercinta. Ia mulai menyibukkan diri di kantor, berusaha melupakan hasratnya yang begitu besar pada Rara. Lagi pula, ia juga hanya memiliki waktu luang di weekend saja. Ia bisa menahan keinginan itu. Rara baru selesai mandi, keluar dari kamar dengan rambut yang lembab habis keramas. Ia terlihat seksi dengan kaus ketat dan celana pendek. Elang hanya bisa menikmati pemandangan itu dari posisinya. Bel rumah berbunyi. Rara melirik ke arah Elang. "Aku buka pintu,"kata Elang sambil berdiri. Rara mengangguk. Tak lama kemudian Elang datang bersama Tina. Rara langsung menyambutnya hangat. "Mami, sama siapa?" "Sendirian. Habis arisan...kebetulan lewat sini terus mampir deh," jawab Tina sambil duduk. "Iya, Mi." Rara pergi ke dapur untuk membuatkan teh. "Elang...kamu kok enggak ada ngasih kabar, sih soal kehamilan Rara." Tina menepuk paha anaknya. Elang tersenyum dengan terpaksa sambil menggaruk kepalanya."Rara memang belum hamil,Mi." Tina tampak kecewa mendengar kenyataan itu. Ia pikir anaknya itu memang sedang merahasiakan kehamilan Rara untuk memberikannya kejutan."Kok belum...kamu kurang usaha ya?" "Memang belum dikasih aja, Mi,"balas Elang dengan suara lembut dan menenangkan. Rara muncul membawa secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di meja di hadapan Tina. "Kamu kok belum hamil juga, Ra? Apa kamu sering kecapean di rumah sebesar ini?" tanya Tina. "Enggak kok, Mi, Rara enggak pernah kecapean. Mas Elang selalu bantuin Rara di rumah," kata Rara membuat telinga Elang jadi naik sepuluh senti. Elang berpikir sejenak,"Mi, mungkin memang belum waktunya aja atau karena Elang kurang usaha keras. Soalnya Elang, kan sibuk kerja. Sabar, ya, Mi. Nanti juga kalau waktunya sudah tiba, kami akan kabarkan berita bahagia itu ke Mami." Tina menunduk sedih."Yah, terus...kapan dong. Mama udah pengen banget punya cucu kayak temen-temen Mama." Rara meneguk salivanya, ia merasa bersalah sudah membuat mertuanya yang sangat baik itu bersedih. Tapi, bagaiamana ia mau hamil kalau ia sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami isteri dengan Elang. "Mami sabar aja, ya, Mi?" Elang mengusap punggung Tina, berharap Mamanya itu bisa menerima jawabannya. Tina mengangguk,"kalau begitu...kalian harus berbulan madu. Sebulan penuh!" "Apa?" teriak Elang dan Rara bersamaan. Kabar gembira untuk Elang. Ia berteriak kaget karena ia begitu senang mendengar hal tersebut. Sementara Rara, tentu ia tidak bisa membayangkan hal tersebut. Tina mengeluarkan ponselnya."Kemarin, Mama lihat ada tempat yang bagus loh. Kayaknya cocok untuk kalian berbulan madu. Pokoknya...kalian harus program bikin anak. Di sana...kalian hanya cukup di dalam kamar aja." "Tapi, Mi...gimana sama kerjaan Elang?" "Kan bisa cuti, ngapain takut...itu kan perusahaan sendiri." "Mi, enggak perlu bulan madu. Kita di rumah aja. Iya kan, Mas?" Rara terlihat panik sendiri. Elang menatap Rara dengan jahil."Tapi, kayaknya kita memang perlu deh, sayang, pergi ke suatu tempat. Kita bisa meluangkan waktu berdua agar semakin dekat." Rara melototi Elang, pria itu ternyata tidak bisa diajak kerja sama. "Mas, kita ngobrol sebentar yuk,' kata Rara sambil melotot ke arah Elang. "Sebentar ya, Mi." Elang mengikuti Rara. "Kamu apa-apaan, sih, setuju sama bulan madu itu," kata Rara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Tina. Elang berkacak pinggang dan mulai terlihat kesal."Iya. Aku memang menginginkan bulan madu, Ra. Memangnya apa yang salah satu bulan madu?" Rara membuang wajahnya."Aku enggak mau." "Aku mau!" balas Elang. Rara mendecak sebal sambil menghentakkan kakinya. "Ayolah...itu budgetnya kan gede." Elang mendengus sebal."Bukan budgetnya yang kamu permasalahkan, Ra. Kamu pasti tahu kalau aku sanggup ajak kamu liburan ke mana pun. Tapi, kamu takut, kan? Kamu masih belum bisa nerima aku setelah dua bulan pernikahan kita? Ra, kita udah menikah!" "Aku udah minta kamu buat ngerti, kan...ini enggak mudah buat aku. Beri aku waktu, Lang." "Sampai kapan? Sampai sebulan? Dua bulan? Atau setahun? Tiga tahun? Jujur...Aku capek, Ra. Aku pengen disayang-sayang sama kamu. Aku pengen mesraan...pengen bercinta. Aku enggak menyangkal kalau aku sangat menginginkan itu, Ra. Kamu tahu enggak kamu itu berdosa kalau nolak keinginan suami?" Sepertinya kesabaran Elang sudah habis kali ini. Ia tidak mau bernegosiasi lagi soal hal tersebut. Rara terdiam, ia tampak ketakutan karena suara Elang sedikit keras. Ia cukup terkejut melihat Elang marah seperti ini. Ia pun menangis tersedu-sedu. "Kalian kenapa?" Tina datang dengan panik. "Liburannya lain kali aja, Ma. Elang banyak kerjaan di kantor," jawab Elang yang kemudian pergi keluar. Lalu terdengar suara mobil dinyalakan. Elang pergi entah kemana. "Sayang? Kamu enggak apa-apa? Jangan sedih...dalam rumah tangga, memang tidak selalu lurus-lurus saja. Pasti ada masalah, bertengkar, berselisih paham, yang penting adalah kalian harus membangun komunikasi yang baik. Elang kalau marah memang begitu, dia pergi untuk menenangkan diri. Sebentar juga balik lagi kok. Maafin Elang ya, Ra." "Iya, Mi. Rara cuma kaget aja...soalnya selama ini Mas Elang enggak pernah marah seperti itu " "Iya. Sudah-sudah, ya. Masalah liburan...nanti aja dibicarakan kalau semuanya sudah membaik." Tina mengusap lengan Rara. "Iya, Mi. Terima kasih." "Maafkan Mami, kalian jadi bertengkar. Nanti Mami ngomong sama Elang. Kamu jangan khawatir ya." Rara mengangguk."Iya, Mi." "Mami pulang dulu kalau begitu, kasihan Papi nungguin." "Mami naik apa?" "Dijemput sama supir." "Ya udah, Rara antar sampai depan." Setelah Tina naik ke mobil, Rara masuk ke dalam rumah dengan perasaan tidak enak. Ini adalah pertengkaran pertamanya dengan Elang. Selama ini pria itu selalu bersikap manis. Rara memejamkan matanya dengan pikiran kacau, perlahan air matanya mengalir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN