Bab 7

1029 Kata
"Oke! Ya udah ganti bajunya." Elang terlihat semangat sekali. Sekitar setengah jam kemudian, Elang dan Rara berangkat, menuju sebuah pusat perbelanjaan. Saat ini, Elang sedang mencari cara agar Rara mulai nyaman menjalin hubungan dengannya. Di dalam mal, mereka berjalan beriringan. Elang menggenggam jemari Rara. Wanita itu tidak menolak. Hal itu membuat Elang lega dan semakin yakin kalau tidak lama lagi Rara akan luluh. Rara berbelok ke sebuah toko perhiasan. Mencoba sebuah kalung bermata berlian. Terlihat sangat cantik. "Kamu mau beli,Ra?" tanya Elang. "Bagus. Tapi, enggak sih...cuma lihat harga pasarnya aja," kata Rara sambil mengembalikan kalung tersebut ke penjual. Lalu ia pergi dari sana. "Udah dicoba ini kok enggak dibeli, sih? Kalau kamu mau aku beliin, Ra." Rara menggeleng."Kamu tahu, kan harganya berapa?" "Iya. Aku dengar kok tadi mbaknya bilang berapa. Aku enggak masalah, Ra, kalau kamu mau." "Enggak, Elang. Aku enggak butuh itu. Nanti...kalau memang aku mau, aku bakalan bilang kok. Kita pakai uangnya untuk kebutuhan lain aja. Perjalanan kita masih panjang, kan," kata Rara yang kemudian berjalan. Wanita itu tersenyum penuh arti. Elang tersenyum lega, karena setidaknya tabungan ia selamat hari ini. Isterinya itu menolak dibelikan kalung berlian. Elang terkekeh dalam hati. Lalu ia berjalan cepat menghampiri Rara. Rara menoleh, suaminya itu sudah di sebelahnya."Elang...." "Iya?" "Sebenarnya kamu cinta sama aku enggak, sih?" Elang mengernyitkan dahinya."Tiba-tiba nanya begitu? Tentu aku cinta sama kamu, Ra." "Kenapa?" "Hah? Pertanyaan kamu aneh deh." "Kenapa kamu cinta sama aku sementara waktu itu kita enggak saling kenal." Elang memeluk pundak Rara."Aku cinta sama kamu. Udah...itu cukup, kan? Enggak perlu ditanya alasannya kenapa." "Ah, enggak asyik deh." “Bagaimana kita tahu kalau seseorang itu adalah jodoh kita...You just Know, Ra.” Wajah Rara merona mendengar ucapan Elang. Elang mencium pipi Rara dengan gemas."Andai aku boleh nyentuh kamu, Ra. Pasti aku makin tergila-gila sama kamu. Detik ini juga aku bakalan ajak kamu pulang. Mesraan di rumah, sambil nonton, makan cemilan." Langkah Rara terhenti, menatap Elang. Ia tersenyum penuh arti."Yuk pulang!" "Ngapain?" "Mesraan, kan?" "Beneran?" "Tapi, kita baru nyampe loh?" "Aku rela...enggak apa-apa kalau pulang sekarang deh." Elang terlihat antusias. "Tapi, aku mau es krim." "Iya di jalan nanti aku beliin. Atau nanti udah di rumah...aku keluar buat beliin yang banyak." Elang menarik tangan Rara dengan cepat. Ia sudah tidak sabar sampai di rumah. Elang membuka kaca helmnya saat melihat sebuah mobil terparkir di depan pagar rumahnya. Rara turun membuka pintu pagar, Elang segera masuk. Seseorang keluar dari mobil menghampiri Elang. "Elang!" ucap wanita itu dengan bahagia. Rara terlihat bingung, lalu ia hanya bisa tercengang saat wanita itu dengan santai memeluk pria yang sudah menjadi suaminya. "Eh, Esti...lepas!" Elang mendorong tubuh Esti pelan. Ia melirik ke arah Rara yang terlihat kesal dan membuang wajahnya. "Baru aja aku mau pulang, untunglah kamu muncul,"katanya dengan takjub. "Iya...habis jalan-jalan sama isteriku," jawab Elang sambil mendekati Rara. Esti menatap Rara dari ujung kaki hingga ke ujung kepala."Ini isteri kamu?" "Iya. Kenalin...ini Rara, isteriku, Es." "Dia siapa?" tanya Rara dingin. Esti mengulurkan tangannya dengan wajah yang sedikit diangkat ke atas."Saya Estiana Dewanti, wanita yang seharusnya menikah dengan Elang. Tapi, kamu...menggagalkan semuanya." Rara tersenyum sinis sambil membalas uluran tangan Esti."Saya Mayra Tunggadewi, isteri sahnya Elang.Turut bersedih kalau begitu. Ada apa ya malam-malam begini bertamu." "Saya bertamu ke rumah kekasih saya." "Dia suamiku, by the way." Elang mengangkat kedua tangannya."Hei sudah...sudah. Esti...pulanglah. Terima kenyataan kalau aku sudah menikah dengan Rara. Aku mencintainya. Kita juga tidak pernah menjalin hubungan kan. Aku tidak pernah mencintaimu." "Kamu bohong, Lang." Suara Esti bergetar. "Maaf ya." Rara membalikkan badannya, masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Elang langsung menyusulnya ke dalam. Tidak lupa mengunci pintunya kembali. Elang mengintip keluar melalui jendela, memastikan Esti sudah pulang atau belum. Wanita itu langsung masuk ke mobil dan pergi dari sana. Elang mengembuskan napas lega. Ia teringat dengan Rara, dan segera menyusul ke kamar. "Rara!"panggil Elang, persis seperti anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk bermain. Rara yang sedang menghapus make up di wajahnya menoleh."Kenapa?" "Jangan marah..." "Kenapa kamu masuk? Sana sama Esti. Kekasih kamu," ucap Rara sinis. Elang menggeleng."Enggak,Ra. Aku sama Esti enggak punya hubungan apa-apa. Dia aja yang suka sama aku. Akunya enggak kok." Elang benar-benar seperti anak kecil yang sedang membujuk ibunya agar mau membelikan permen banyak-banyak. "Udah ah.. enggak usah dibahas. Males dengernya. Udah nikah juga...masih berhubungan sama wanita lain. Katanya cinta sama aku. Gombal," gerutu Rara. Elang mendekati isterinya."Maaf. Aku sayang kamu, Ra." "Terserah. Kamu tidur di sofa ruang tengah." "Aku enggak mau tidur di ruang tengah. Aku mau di kamar." "Ya udah, aku yang tidur di ruang tengah." "Aduh...jangan dong, sayang. Kok jadi begini. Tadi kan kita baik-baik aja. Janjinya juga kan mau mesra-mesraan." Elang menggaruk kepalanya dengan stres. "Katanya mau beliin es krim!" balas Rara jutek. "Iya...iya...aku beliin sekarang. Yang banyak. Tapi, habis ini jangan marah lagi ya." Rara mengangguk."Aku mau es krim sama Ayam goreng yang di K*C." "Siap...aku beliin sekarang!" "Ya udah sana..." Elang langsung pergi. Supermarket ada di depan komplek dan warung cepat saji juga tidak jauh dari sana. Setidaknya ia bisa bergerak cepat tanpa mengecewakan isterinya.  Sementara itu di rumah, Rara tampak tersenyum sendiri. Ada sedikit rasa kasihan karena sudah galak dengan Elang. Tapi, kalau tidak begitu bisa-bisa besok suaminya itu masih berhubungan dengan Esti. Walaupun pernikahan ini merupakan hasil perjodohan, Rara tetap tidak mau adanya orang ketiga atau ketidakseriusan dalam rumah tangga ini. Semoga sikapnya bisa membuat Elang sadar bahwa ia tidak ingin dipermainkan. Rara melipat kedua tangan di d**a sambil mengontrol emosinya. Ia masih memikirkan wanita yang tadi datang dan mengaku sebagai kekasih Elang. Ia jadi ingin tahu sebenarnya ada hubungan apa di antara keduanya. Setidaknya ia harus tahu sedikit tentang masa lalu Elang. Bisa saja masa lalu itu akan datang kembali dan malah merusak hubungan mereka. Suara sepeda motor Elang terdengar memasuki garasi. Pria itu membawa beberapa bungkusan. Rara tersenyum, menyambut suaminya dengan lembut. Ia meraih bungkusan dari tangan Elang dan meletakkan di meja makan. Elang duduk sambil memerhatikan Rara yang sedang mengeluarkan isi kantong plastik satu persatu. "Terima kasih, Lang, udah dibeliin semuanya," kata Rara. Elang tersenyum lega. Ia pikir isterinya itu masih marah."Iya, sama-sama. Ya udah dimakan. Aku beli buat makan malam kita sekalian, sih." Rara mengangguk, ia duduk."Ayo makan." "Oke." Elang mulai makan. "Jadi, siapa Esti?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN