Di Balik Suka Ada Duka
Tak ada kebahagiaan yang paling sempurna dirasakan Indah kecuali saat diwisuda menjadi sarjana. Ya, inilah puncak dari perjuangan panjang dirinya dalam menggapai cita-cita menjadi seorang Sarjana. Kini di belakang namanya tertera sebuah gelar prestisius, S.Sos atau Sarjana Sosial. Predikat yang tidak banyak orang di desanya bisa memiliki.
Beruntung Indah bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi. Meski hal itu pun harus melalui perdebatan yang keras dan sengit dengan ayahnya. Dalam pikiran ayahnya seorang anak perempuan tak perlu bersekolah tinggi-tinggi, karena toh akhirnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Ayahnya masih mampu mencukupi kebutuhan Indah hingga menghadapi upacara perkawinannya nanti. Bahkan ia sudah menyediakan bekal untuk kehidupan rumah tangganya kelak. Sebagai seorang kepala desa beliau memang mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Tapi Indah memiliki cita-cita dan keinginan sendiri. Dia ingin membangun masa depannya dengan kedua tangannya sendiri. Dia tidak ingin menggantungkan hidup pada orang tua atau orang lain. Dia ingin menjadi wanita karir yang sukses dan berhasil di tengah masyarakat. Dia sudah membayangkan semua itu dalam angan-angannya.
Ada sedikit penyesalan dalam hati Indah karena ayahnya tak bisa datang menyaksikannya mendapatkan predikat c*m laude di acara wisuda. Padahal justru momen inilah yang lama ditunggu Indah untuk menunjukkan keberhasilannya pada sang ayah. Dirinya bukan hanya berhasil menyelesaikan pendidikannya tepat waktu, tapi juga menyandang predikat lulusan terbaik.
Kata Ibu, ayahnya mendadak jatuh sakit. Beliau memang sudah cukup tua dan menurun kesehatannya, selain juga karena berbagai masalah yang dihadapi. Sejak turun dari jabatannya sebagai kepala desa setahun lalu, beliau mengalami apa yang dinamakan post power syndrome. Dia dihinggapi perasaan tidak nyaman karena kembali menjadi rakyat biasa.
***
Keadaan Bapak ternyata tak seperti yang dikatakan ibunya. Dengan wajah pucat, tubuh lemah, dan hanya berbaring di tempat tidur bukanlah keadaan normal bagi orang yang sakit ringan. Indah tak bisa menahan cucuran air matanya saat memasuki kamar orang tuanya. Dia langsung menghambur dan memeluk ayahnya yang tak sanggup bangkit dari ranjang.
“Kenapa bisa begini, Pak? Bapak harus ke rumah sakit!” ucap Indah sambil terisak-isak.
“Bapak tidak apa-apa, Ndah. Bapak hanya lelah sedikit. Bagaimana acara wisudamu tadi? Selamat ya! Sekarang kamu sudah menjadi Sarjana. Bapak sangat bangga!” kata Wiryono dengan suara berat dan dalam.
Kata-kata yang diucapkan ayahnya itu merupakan hal yang paling diharapkannya, tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Indah senang ayahnya mau mengakui keberhasilannya, tapi dia sedih karena melihat beliau terkapar tak berdaya di atas pembaringan. Seperti orang kalah perang yang telah kehilangan harapan. Atau jangan-jangan sakitnya ini karena memang tak mampu memenangkan keinginan dan harapannya terhadapku?
“Bapak sakit karena memikirkan saya, ya?” cetus Indah lirih.
“Kamu jangan berpikiran begitu. Bapak memang sudah tua. Wajar to orang tua sakit-sakitan?” tukas Wiryono mengelak.
Indah menatap ayahnya seksama. Ada sesuatu disembunyikan dalam bola mata ayahnya.
Usai menengok ayahnya, Indah lalu kembali ke ruang tengah menemui ibu dan saudara-saudaranya. Mereka memandangnya dengan sorot mata aneh. Indah tak menyadari hal itu. Dia menghempaskan badannya di atas kursi sofa sambil mendesah nafas panjang. Sejenak dia diam terpekur dengan raut lesu. Ibu dan saudara-saudaranya saling pandang. Wajah mereka terlihat sedikit tegang.
“Apa yang dikatakan bapakmu, Ndah?” tanya Ibu terdengar hati-hati.
Indah tidak segera menjawab pertanyaan ibunya, melainkan menatap wanita itu seksama. Indah merasakan ada yang aneh dari pertanyaan ibunya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. “Sebenarnya ada apa sih, dengan Bapak, Bu?” ujar Indah malah ganti bertanya.
“Maksudmu apa, Ndah?” tanya Bu Wiryono tak mengerti.
“Bapak tidak sekedar sakit maag. Kondisi Bapak lebih parah dari itu.”
Ibu semakin tegang. Wajah keriputnya terlihat lebih jelas. Dia menoleh pada anak-anaknya yang lain, Bagus dan Widyanto. Sepertinya ia tak sanggup untuk bicara. Bagus, kakak tertuanya, menyorongkan badannya ke depan. Dia mendehem sejenak sebelum kemudian bicara.
“Sebenarnya kami tak hendak mengatakannya padamu, Ndah. Kami tak ingin merusak kebahagiaanmu saat ini. Lagi pula seperti yang pernah kamu bilang, besok lusa kamu ada interview untuk jabatan supervisor di sebuah perusahaan ternama. Kami tak ingin kamu terganggu,” kata Bagus kalem.
“Aku justru sangat terganggu bila memikirkan keadaan Bapak. Selama aku tidak tahu apa yang terjadi padanya hatiku tidak akan pernah tenang. Mas harus berterus terang dengan kondisi Bapak yang sebenarnya!” tukas Indah keras.
“Kamu tak perlu terlalu cemas. Kondisi Bapak tidak seperti yang kamu bayangkan, hanya saja…”
“Hanya saja kenapa, Mas?” Indah tak sabar lagi menyerobot ucapan kakaknya.
“Bapak menghadapi masalah berat!”
“Masalah berat? Masalah apa?”
Bagus tidak langsung menjawab, melainkan menoleh pada ibu dan Widiyanto, adiknya. Sepertinya ia ingin meminta pertimbangan. Tapi Ibu malah menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan bola matanya yang mulai dihiasi butiran kristal. Widiyanto, adiknya yang masih SMU, hanya diam saja. Indah memandangi mereka satu persatu dengan perasaan tidak karuan. Dia merasa masalah yang dihadapi ayahnya benar-benar sangat berat, sehingga mampu membuatnya ambruk seperti orang lumpuh begitu. Padahal dulunya dia orang paling kuat di desa ini!
“Mas…?” Indah menegur kakaknya karena tak juga keluar jawaban Bagus atas pertanyaannya tadi.
“Bapak dituntut secara pidana oleh beberapa orang warga atas tindakannya saat menjabat dulu,” ucap Bagus lirih.
“Bapak dituntut secara pidana? Apa kasusnya?!” seru Indah benar-benar kaget, sampai-sampai bola matanya hendak keluar dari kelopak matanya.
“Jual beli tanah warga yang kemudian ditukargulingkan dengan tanah milik Pak Citro dua tahun silam!”
“Kasus jual beli tanah dan tukar guling? Aku tidak mengerti. Lagi pula kenapa baru sekarang mereka menuntut?”
“Ya, soalnya saat itu Bapak masih menjabat kepala desa. Mereka tidak berani menuntut. Tapi sekarang, saat Bapak tidak lagi menjabat mereka ramai-ramai menuntutnya!”
“Jadi karena masalah itu Bapak jatuh sakit?”
“Bapak shock! Dia tak kuat menerima kenyataan ini. Dua hari lalu Bapak sempat jatuh di kamar mandi karena pingsan. Oleh dokter yang memeriksanya Bapak ditengarai mengalami gangguan jantung. Bapak harus banyak beristirahat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Dokter juga menyarankan agar beliau tidak diganggu oleh masalah berat yang bisa menekan jiwanya dan membuat jantungnya mengalami anfal untuk kedua kali!” tutur Bagus menerangkan.
Indah terpekur kelu. Tiba-tiba ada sesuatu yang terasa menyesakkan dadanya. Sungguh, tak pernah terbayangkan dalam benaknya di hari tuanya Bapak harus mengadapi masalah demikian berat. Indah tak habis mengerti, kenapa baru sekarang masalah itu muncul. Kenapa tidak dari dulu-dulu, saat ayahnya masih menjabat sebagai kepala desa. Indah merasakan kepalanya tiba-tiba menjadi pening. Tampaknya sebuah bencana besar mulai terpampang di depan mata.
***
Pagi itu Indah sudah rapi dan siap untuk pergi.
“Mau ke mana kamu, Nduk?” tanya Bu Wiryono melihat Indah melintas di ruang tengah.
“Saya mau ke rumah Pak Tarmo, Bu,” jawab Indah.
“Mau apa ke sana?”
“Meminta penjelasan soal tuntutan warga yang ditujukan pada Bapak!”
Bu Wiryono terkejut. Wajahnya terlihat resah. “Sudahlah, Ndah. Kamu tak usah mengurusi hal itu. Biar nanti Bagus yang menanganinya. Dia sudah menghubungi pengacara terkenal di kota. Nanti pengacara itu yang akan menghadapi tuntutan warga di pengadilan!” ujarnya.
“Tidak, Bu! Saya tidak ingin tinggal diam menghadapi masalah ini. Saya ingin mencari kebenaran atas kasus ini. Jika memang Bapak tidak bersalah, maka harus ada bukti kuat yang mendukung hal itu. Saya yang akan mencarinya!”
“Tapi, Ndah! Ini sangat berbahaya. Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Yang kita hadapi ini bukan sekedar sengketa masalah tanah, tapi lebih dari itu. Ada kepentingan kelompok tertentu di tengah masyarakat atas kasus ini. Ibu tidak ingin kamu celaka…”
“Kepentingan kelompok tertentu? Maksud ibu apa?” Indah mengerutkan alis tak mengerti.
Bu Wiryono tidak segera menjawab. Dia menarik nafas dalam sebentar dan membuang pandangannya jauh ke depan. “Ibu sebenarnya tak ingin menceritakan hal ini, tapi ibu pikir kamu perlu tahu agar kamu sadar untuk tidak sembrono mengambil langkah. Beberapa bulan lagi akan diadakan Pilkades untuk memilih kepala desa yang baru. Kasus yang dihadapi Bapakmu ini dijadikan isu untuk memuluskan jalan bagi calon-calon kepala desa yang akan maju bertarung. Diantara mereka ada yang terang-terangan memberikan janji mengembalikan tanah-tanah milik mereka yang dulu pernah dibeli oleh Bapak. Karena itu jika kamu ngotot meneruskan penyelidikanmu ini, maka kamu juga akan berhadapan dengan ambisi orang-orang itu. Dan bukan tidak mungkin mereka akan melakukan berbagai cara untuk menghalangi usahamu. Ibu takut kamu kenapa-kenapa,” tutur Bu Wiryono dengan nada cemas bukan main.
Indah tercenung mendengar penuturan ibunya. Ternyata di balik kasus yang dihadapi ayahnya tersembunyi kepentingan politik orang-orang tertentu. Peringatan ibunya itu bisa dimaklumi Indah, karena sebagai orang tua beliau sangat mencemaskan keselamatan anaknya. Tapi hal ini tidak lantas menyurutkan keinginan Indah untuk menyelidiki. Justru ia merasa penasaran dan tertantang untuk membuktikan kebenarannya. Sebab, seperti yang dikatakan ayahnya bahwa dirinya tidak bersalah. Beliau tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap pembelian tanah warga pada waktu itu.