Geva yang baru saja keluar dari rumahnya merasakan sengatan hawa dingin akibat dari sisa hujan semalam. Masih terasa mengigilkan seperti mimpinya. Dia membutuhkan sedikit saja hawa hangat agar rasa dingin itu menghilang hanya saja matahari belum sepenuhnya muncul di langit. Bau tanah basah dan dedaunan yang menghijau di sekitarnya begitu mendominasi. Geva selalu suka perpaduan itu tapi dia tetap tidak begitu menyukai hujan yang menderas karena kesendirian dan kesepian itu begitu nyata. Geva mengunci pintu rumahnya lalu berbalik dan menemukan seseorang sudah berdiri di depan pagar melambaikan tangan dengan senyuman menawan. Geva membeku. Bukan lagi karena sosok itu sudah mulai terbuka dan tidak berwajah dingin tapi lebih karena rasa aneh yang menggelitik lehernya. Geva menghampiri cowok

