CHP 18.02

1920 Kata

Malam itu, hujan turun menderas membasahi bumi. Menciptakan kenyamanan bagi jiwa-jiwa yang terlelap dan memeluk orang terkasih di dalam selimut hangat mereka. Dimanjakan oleh derai air di luar bagai nyanyian alam yang menghipnotis.  Hujan tidak pernah berharap diandaikan menjadi sebuah simbol kesedihan karena curahan airnya pasti juga membawa keberuntungan bagi banyak orang lainnya yang mungkin sedang membutuhkan. Hujan hanyalah sebuah fase yang mau tidak mau akan tetap muncul bahkan tanpa benar-benar diinginkan. Lampu di salah satu kamar yang terdapat di rumah mewah tiga lantai itu masih nampak menyala terang diantara gelapnya kamar-kamar yang lain. Seseorang lebih memilih untuk menjelajah ke masa lalu sejak hujan mulai datang dengan ritme yang teratur. Mendung, gerimis kemudian semakin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN