Rea bingung harus menjawab apa, jawab cemburu atau tidak cemburu? Ia takut apa pun jawabannya akan membuat Jeno marah. "Apakah kamu peduli dengan jawabanku?"
Jeno menjauhkan diri dari Rea, berdiri di belakang wanita itu dan menatap penampilannya dari pantulan cermin. "Tidak," jawabnya tak acuh.
Rea menghela napas dan tidak lagi memikirkan jawabannya. "Kalau begitu aku tidak mau menjawabnya," katanya pelan.
"Besok Aruna akan tinggal di rumah ini, aku harap kamu bisa menerimanya dengan baik dan jangan buat masalah." Jeno naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan santai.
Tidak pernah tahu kalimatnya tadi membuat tubuh Rea seketika membeku, tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika setiap hari melihat kemesraan suami dan selingkuhannya. "Apa aku boleh keberatan?" tanya Rea dengan nada dingin, suara yang dingin sedingin hatinya saat ini.
Jeno menaikkan satu sudut bibirnya. "Bahkan kamu tidak berhak menolak apa pun keputusanku. Aruna akan tinggal di sini dan kamu harus menerimanya."
Kelopak mata Rea berkedip kaku, air matanya jatuh. Tanpa pikir panjang ia mengambil pil KB di laci dan memasukkannya ke dalam mulut lantas menenggak air di gelas.
Jeno membuka mulut dengan mata terbeliak melihat perbuatan Rea, rasa marah di dadanya memuncak. Segera pria itu bangkit dari ranjang dan mencengkram leher istrinya.
"Beraninya kamu meminum pil KB di saat aku tidak mengizinkanmu!"
"Aku tidak ingin ha-hamil--" Rea berusaha bersuara meski tenggorokannya tercekat dan terasa sakit, air matanya berlinang penuh dengan kesedihan.
"Apa hakmu? Bahkan kamu sudah tidak memiliki hak apa-apa lagi atas dirimu sendiri saat kamu menandatangani kontrak pernikahan. Kamu dengan murahnya memaksaku menikah, lalu sekarang kamu mau tidak patuh padaku?" Jeno berkata dengan marah, tekanan telapak tangannya diperkuat hingga menimbulkan bekas merah di leher Rea yang putih.
Rea mengatupkan bibirnya dengan gigi gemerutuk, tangan kecilnya memegang pergelangan tangan Jeno yang mencekik lehernya, kepalanya menggeleng lemah. Dia hanya memiliki cinta untuk Jeno, tapi mengapa Jeno hanya bisa mengancam dirinya dan menghinanya?
"Le-lepas!" Rea sekuat tenaga untuk melawan, dan Jeno pun akhirnya melepaskannya, tentu saja ia tidak mau membuat wanita ini mati dengan cepat.
"Cepat kamu muntahkan!"
Rea menggeleng, tapi dengan kasar menarik Rea ke kamar mandi dan memintanya untuk memuntahkan obat yang sudah sampai di perut, apakah Jeno waras?
Lilitan rambut Rea yang masih basah lepas dan tergerai, Air mata Rea terus mengalir, matanya merah karena dipaksa untuk memuntahkan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan lagi. Jeno dengan kesal menarik rambut Rea sehingga membuat wanita itu menjerit merasakan kulit kepalanya yang perih.
"Di masa depan jangan pernah kamu berani melakukan sesuatu yang tidak aku kehendaki lagi!" peringkatnya dengan telunjuk di depan wajah Rea. "Sekarang tetaplah di sini, ini adalah hukuman untukmu karena berani membantahku!"
Jeno melepaskan rambut Rea dan melangkah keluar kamar mandi. "Tidak!" Rea berlari sebelum pintu benar-benar tertutup, tapi kecepatan kakinya tidak bisa mengimbangi langkah Jeno yang lebar, sebelum ia sampai pintu, pintu itu sudah tertutup rapat dan terdengar suara 'klik' kunci yang di putar.
"Jeno, lepaskan aku, Jeno! Kenapa kamu kejam padaku? Kenapa kamu jahat padaku, Jeno!"
Teriakan dan caci maki Rea di dalam sana membuat hati Jeno marah, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya dan itu menimbulkan rasa yang tak nyaman.
Pria itu memutuskan berganti pakaian, lantas keluar dari kamar meninggalkan Rea yang terkurung di kamar mandi.
Rea sakit, tubuhnya sangat lemah karena belum makan dan kondisinya yang tidak baik dan sekarang ia dikurung di kamar mandi. Biasanya ia akan selalu mengalah, tidak pernah mau berbuat hal yang membuat Jeno marah, entah mengapa kali ini dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dia sangat marah karena Jeno berencana membawa selingkuhannya untuk tinggal di rumahnya, dan itu sungguh-sungguh membuat Rea terluka.
***
Jeno sampai di sebuah rumah bergaya minimalis berlantai dua, rumah yang ia beli untuk Aruna tinggal. Pria itu keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju pintu. Aruna yang sedang bersolek di depan cermin rias pun tersenyum kala mendengar suara ketukan di pintu depan.
"Jeno, akhirnya kamu datang padaku," gumamnya senang, segera ia beranjak dan keluar dari kamar, berjalan menuruni tangga dan segera menghampiri pintu, dia tidak mau membuat kekasihnya menunggu lama. "Sayang, kamu datang?" Sambutan wanita itu begitu hangat, tapi wajah Jeno begitu dingin.
Pria itu tak menjawab, tapi Aruna tetap bersikap manis padanya membuat hati Jeno sedikit senang. "Ayo, masuk. Apakah kamu lapar? Kamu pasti belum makan, atau istri tercintamu tidak memberimu makan?" godanya dengan senyuman.
"Berhenti membahas dia," sahutnya datar.
Aruna tersenyum, dia tahu Jeno sedang marah pada wanita yang ia anggap murahan itu, itu bagus.
Aruna menutup pintu dan menguncinya, menggandeng lengan Jeno menuju sofa di ruang tamu, duduk bersama dan menyandarkan sisi kepalanya di bahu sang kekasih. "Akhirnya kamu datang, aku sangat merindukanmu. Apakah kamu tahu, setiap saat aku selalu memimpikan bisa berduaan seperti ini bersamamu."
"Itu tidak mungkin, kita hanya bisa berduaan di tempat kerja saat aku lembur saja," jawab Jeno.
"Tapi kenapa? Kenapa sekarang kamu datang?" tanya Aruna marah.
"Itu karena Rea membuat masalah dan membuatku marah," jawab Jeno, dia selalu jujur.
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia tidak mematuhi perintahku."
"Kalau begitu segera ceraikan dia, dan menikahiku. Aku berjanji akan selalu patuh padamu."
Jeno berdiri dengan kesal. "Tidak semudah itu, di dalam perjanjian itu aku tidak bisa menceraikan Rea jika tidak ada masalah serius yang Rea lakukan. Hanya dia yang berhak menceraikanku kapan saja jika dia mau."
"Itu mustahil! Dia begitu sangat gila padamu, bagaimana bisa dia mau menceraikanmu, Sayang."
Rea memang gila, saking gilanya dia masih saja bertahan selama 2 Tahun meski hidupnya seperti di dalam neraka.
Jeno tersenyum miring menunjukkan wajah tampan yang kejam. "Kamu bersabar saja, Una."
Bahkan jika Rea meminta cerai, Jeno tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, dia akan tetap membuat Rea berada di tangannya dan menyiksanya hingga puas. Itulah hukuman untuk orang yang berani menekan dirinya di masa lalu, masa kini dan di masa mendatang.
Aruna tidak puas dengan jawaban Jeno, sabar itu sampai kapan? Sudah 2 Tahun dia menunggu, lalu harus berapa lama lagi dia menunggu?
Aruna harus benar-benar bisa membuat Rea meminta cerai dari Jeno, atau membuat Rea menjadi salah agar Jeno bisa menggungat cerai Rea.
***
Rea bersandar di permukaan pintu, suaranya habis karena terus menangis, pukulan tangannya pada pintu melemah. Tubuhnya sakit, kepalanya sakit, perutnya pun sakit. Rea sudah tidak tahan hingga hanya bisa terkulai lemas di lantai kamar mandi.
***
Entah sudah berapa jam Rea tertidur, atau dia pingsan tadi. Rea tidak tahu ini sudah jam berapa. Dia bangun dalam keadaan linglung, kedua matanya sayu, wajahnya pucat dengan bibir yang kering. "Ha-haus," gumamnya, karena merasakan tenggorokannya yang kering.
Ia mengulurkan tangan ke atas meraih handle pintu lantas menggerakkannya, dan merasa kecewa saat tahu kunci pintu belum juga dibuka. Rea melihat ke arah wastafel, dia sangat haus dan tidak ada pilihan lain selain minum dari air keran.
Setelah beberapa tegukan ia mematikan keran, napasnya pendek-pendek karena merasa sesak. Sampai kapan dia berada di kamar mandi? Kamar mandi ini tidak ada jendela atau celah menuju langsung keluar, beruntungnya kamar mandi ini cukup luas sehingga ia masih bisa mendapat pasokan oksigen untuk beberapa waktu. Namun, jika diteruskan sampai kapan ia bertahan?
Rea hanya terduduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding dan memeluk kedua lututnya sendiri. Rea menangis lagi, dan mengapa ia begitu sangat bodoh karena masih bisa mencintai pria itu tanpa henti.