Jam sudah pukul 10 malam, Jeno bangun dari berbaringnya dan membuat Aruna kaget saat melihat Jeno akan beranjak pergi. Aruna baru saja dari dapur, membuatkan teh hangat yang sudah ia campur dengan obat perangsang.
"Sayang, kamu mau pergi ke mana?" tanya wanita itu melangkah mendekat dengan cangkir teh di tangannya.
"Aku akan pulang, aku sudah mengurung Rea di kamar mandi selama 4 jam."
Aruna terdiam mendengar jawaban Jeno, saat wanita itu hanya diam saja Jeno pun kembali berkata. "Aku pulang, jaga dirimu baik-baik," katanya seraya mengelus pipi kekasihnya, lalu ia kembali melangkah pergi.
"Sayang, tunggu!" Aruna kembali mengejar Jeno yang sudah meraih gagang pintu, wanita itu segera berdiri di hadapannya. "Mm, aku sudah membuatkan teh ini untukmu, kamu minumlah dulu, Sayang," bujuknya, Aruna sudah merencanakan hal ini agar Jeno tak punya pilihan lain selain segera menikahinya, tak mungkin membiarkan rencananya harus gagal.
Jeno tersenyum, lantas mengelus rambut Aruna lembut. "Aku terburu-buru, kamu minum saja sendiri, ya. Aku pulang dulu. Besok, aku akan menjemputmu untuk tinggal di rumahku." Tanpa menunggu jawaban Aruna, Jeno pun segera membuka pintu dan berjalan cepat menuju mobilnya.
Aruna sangat kesal saat melihat mobil Jeno meninggalkan halaman rumah dan akan kembali ke rumah pribadinya. Namun, tak lama senyum di sudut bibirnya terbit saat mengingat kalimat terakhir pria itu. "Tidak masalah rencana malam ini gagal, besok aku akan tinggal di rumah Jeno dan akan menguasainya sebagai nyonya rumah."
Aruna tersenyum jahat saat membayangkan dirinya akan mampu menekan Rea dan menyingkirkannya dari hidup Jeno selamanya.
***
Jeno sampai di rumahnya, dengan gerakan tergesa-gesa ia masuk rumah dan berlari kecil menaiki anak tangga. Ada rasa khawatir di dalam hati pria itu, tapi tidak mengurangi rasa ingin menyiksanya juga. Entahlah, Jeno juga tidak paham dengan perasaannya sendiri.
Dia membenci Rea karena telah melakukan cara yang dianggapnya licik untuk mendapatkannya, tapi Jeno tidak akan pernah melepaskan Rea di masa depan jika wanita itu ingin lepas darinya. Bukankah wanita itu sendiri yang ingin masuk ke kandang singa? Jadi jangan salahkan singa itu jika Rea tidak akan bisa keluar hidup-hidup.
Sesampainya di kamar ia segera menuju ke pintu kamar mandi, memutar kunci dan pintu pun terbuka sedikit. Suasana di dalam sangat sepi, Jeno masuk dan terkejut melihat Rea yang bersandar lemas pada dinding kamar mandi dengan wajahnya yang pucat. "Rea!"
Jeno segera menghampiri Rea dan berjongkok di hadapannya, mengecek suhu tubuhnya dan wanita itu kini demam tinggi. Jeno sedikit panik, pria itu segera menggendong Rea kembali ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang.
"Rea!" Jeno menepuk-nepuk pipi wanita itu, tapi Rea hanya bisa menggumam.
Jeno menatap wajah Rea yang seputih kertas, alisnya bertaut seperti merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Ada sisi hati Jeno yang tertusuk, tapi egonya kembali mendominasi. "Rea, bangun! Aku tidak suka dengan wanita manja, baru dikurung beberapa jam saja sudah demam, lemah!"
Rea mengerutkan kening, tubuhnya sakit, kepalanya juga pening, Jeno masih saja sempat-sempatnya mengomel. Apakah matanya buta? Kalau Rea benar-benar sakit.
Rea hanya menggigil, bibirnya sedikit terbuka dan gigi-giginya bergemulutuk. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, Rea benar-benar kedinginan, tapi suhu luar sangat panas. Jeno kembali mengecek kening Rea dan memang sangat panas.
Rea masih memakai handuk kimono, Jeno berinisiatif dan berbaik hati ingin menggantinya dengan piyama. Namun, saat ia menarik tali kimono, Rea sudah membuat pertahanan tubuh seolah tak ingin Jeno sentuh. "Lepaskan!"
Jeno menggeretakkan giginya kesal, memaksa melepas baju mandi Rea cukup kasar hingga tubuh wanita yang begitu merah terpampang jelas. Karena demam kulit Rea yang putih jadi terlihat memerah. "Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya ingin mengganti bajumu." Jeno berbicara dengan wajahnya yang tepat di atas wajah Rea.
"A-aku bisa ganti baju sendiri. Jangan sentuh aku, menjijikan!" Rea masih marah, dia benar-benar merasa jijik pada Jeno saat mengingat kalau pria itu akan membawa kekasihnya ke rumah ini, baru membayangkannya saja sudah membuat Rea mual disentuh Jeno, apalagi besok saat benar-benar semuanya terjadi. Rea menolak keras sentuhan Jeno meski suaranya lemah, dan itu membuat Jeno sangat tersinggung.
Jeno mencengkram rahang wanita itu seakan ingin sekali menghancurkannya. "Beraninya kamu menolak aku, dasar w************n!"
Rea meringis, air matanya kembali menetes. Kelakuan dan kata-kata Jeno selalu saja menyakitkan. "Kamu yang menawarkan dirimu untuk kunikahi, dan sekarang sok jual mahal? Dasar munafik!"
Jeno tersenyum miring, satu sudut bibirnya terangkat dengan kilat mata tajam mendominasi. Jika Rea sangat membenci sentuhannya. Maka Jeno akan terus menyentuhnya dengan agresif. Rea tersentak, bibirnya sedikit terbuka menahan jeritan yang ingin rasanya ia keluarkan dengan keras, tapi ia segera mengigit bibir bawahnya agar tidak menunjukkan kelemahannya di hadapan Jeno.
Percuma juga menunjukkan kelemahan di depan pria kejam ini, tiada belas kasih yang pria ini miliki meski Rea memohon. Air matanya jatuh dan jatuh lagi, tangan Jeno begitu agresif menyentuh bagian-bagian sensitive tubuhnya. Tatapan matanya melecehkan, hati Rea sangat terluka.
"Ada apa? Apakah kamu menikmatinya?" tanyanya dengan senyum mengejek, tangan nakalnya benar-benar mengobrak-abrik harga diri Rea sebagai wanita, dan terlebih sebagai istrinya sendiri. Pantaskah seorang suami memperlakukan hal ini dengan cara yang seperti ini?
"Hentikan! Aku mohon hentikan ini!" Kedua tangan Rea memukul d**a bidang Jeno, pukulannya membuat d**a Jeno sesak, bibirnya terkatup, mata tajamnya menusuk, tangan yang sibuk bergeriliya kini ia gunakan untuk mencengkram kedua tangan Rea hingga membuat wanita itu meringis.
Menekan kedua tangan Rea di sisi kepala dan menundukkan kepala untuk mengigit leher Rea seperti drakula. Rea menjerit kesakitan, saat gigi pria itu menusuk kulit lehernya, Rea berusaha melepaskan diri seraya terisak-isak. "Berhentilah memberontak, karena semakin kamu tidak suka, aku akan melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai itu. Dengar itu!"
Mendengar peringatan Jeno, kekuatan Rea pun melemah, Jeno melepaskan kedua tangan Rea dan masih berada di atas tubuh wanita itu. Rea tak dapat berkutik, Jeno melepas pakaian dan kembali memeluk Rea untuk memberikan tindakan penanganan agar suhu panas di tubuh Rea segera stabil.
Rea dibawa ke dalam pelukan Jeno, meski enggan ia harus diam dan membiarkan apa yang ingin Jeno lakukan. Tubuh Rea yang kecil tenggelam dalam dekapan suaminya, berusaha menyamankan diri dan membalas pelukan pria itu.
Jeno tersenyum saat merasakan kedua tangan Rea melingkari pinggangnya, semakin erat ia memeluk tubuh kurus Rea dan tubuhnya pun segera mengeluarkan keringat akibat suhu panas yang dimiliki Rea.
Setelah perdebatan dan pertempuran tadi, kini keduanya tidur berpelukan di dalam satu selimut bersama. Rea menahan perih, apakah Jeno sedang melampiaskan hasratnya untuk Aruna padanya? Bukankah tadi pria ini pergi untuk menemui Aruna? Lalu mengapa setelah 4 jam pergi ia kembali dan melakukan hal ini padanya? Memikirkannya membuat Rea sesak.