Hari sepertinya sudah pagi, Rea yang hanya tidur beberapa saat saja kini membuka matanya perlahan. Ditatapnya wajah yang berada di atas kepalanya, dia masih terlelap, sangat tampan dan terlihat lembut. Namun, hati Rea terasa pahit saat mengingat pada kenyataannya Jeno tak dapat berlaku lembut padanya.
Rea berusaha menoleh untuk melihat jam di atas nakas. Sudah pukul 4 pagi, Rea ingin mandi, tubuhnya lengket semua, tapi Jeno masih erat memeluknya. Andai hubungan mereka tak sekacau ini, Rea pasti akan dengan senang hati menggoda pria ini dan bercinta di pagi hari.
Tangannya berusaha melepaskan tangan kekar Jeno dari pinggangnya, tapi dengan cepat tangan Jeno kembali mempererat pelukannya kembali sampai membuat Rea merasa sesak napas.
Terpaksa Rea mendorong d**a Jeno dengan tenaganya yang lemah, tapi Jeno malah menyeringai. "Ada apa?" Suara berat khas bangun tidur keluar dari mulut Jeno, bibir tipisnya yang seksi bergerak indah.
Rea untuk sesaat tertegun, mata dan hatinya memang masih dipenuhi oleh cinta pada Jeno. "Aku mau ke kamar mandi, aku mau mandi, Je-jeno." Suara wanita itu pelan dan serak dengan sedikit vibrasi ketakutan, membuat Jeno tersenyum.
Lagi-lagi hati Rea merasa perih, senyuman itu selalu saja membuatnya jatuh cinta. Jeno adalah orang yang dingin, sejak dulu pun begitu, tapi tak pernah menyangka jika pria di hadapannya ini bisa berlaku kejam dan kasar, apalagi pada seorang wanita lemah seperti dirinya.
Jeno membuka matanya, dan menatap kedua mata Rea yang sedikit merah, Jeno tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Rea sehingga menatap dirinya dengan begitu dalam. Jeno melepaskan pelukannya, Rea segera tersadar dan segera duduk membelakangi Jeno.
Rambut panjangnya ia gelung sehingga menunjukkan lehernya yang putih dan jenjang. Mata Jeno menyipit saat melihat noda merah tua di sisi leher Rea. Itu adalah bekas gigitannya semalam, terlihat begitu mencolok di atas permukaan kulit Rea yang putih.
Rea menarik selimut dan melilitkannya sebatas d**a, wanita itu berdiri dan Jeno berkata, "aku akan membantumu."
Rea menegang di tempat, membantu apa? Menjijikan!
"Tidak, aku bisa mandi sendiri tanpa bantuanmu," sahut Rea dengan nada dingin meski sedikit gemetar.
Jeno tersenyum miring, di telinga Jeno 'jangan itu berarti iya' maka pria itu turun dari ranjang dan melangkah mendekati Rea. Wanita itu terkejut saat Jeno menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Aku bilang, aku tidak butuh bantuanmu," pekiknya jengkel, tapi Jeno tetap tak bereaksi, hanya senyum nakalnya saja yang menyeringai.
Rea takut, dia juga kesal campur jijik. Apakah dia sudah tidak mencintai Jeno?
Tidak! Rea masih mencintainya, tapi tidak bisa menahan rasa mual jika membayangkan kemesraan Jeno dan Aruna, itu benar-benar membuat hatinya dingin dan mati rasa.
Dulu saat awal-awal, Jeno selalu menolaknya saat ia ingin mendapatkan sentuhan dari Jeno, tapi kini saat Rea enggan, Jeno malah terus mengganggunya. Benar-benar pria yang suka sekali menyiksa perasaan orang lain!
Jeno menurunkan Rea, segera ia mengisi bathup dengan air hangat dan menuang sabun juga cairan aromatherapy. Jeno lantas berbalik badan dan berdiri di hadapan Rea, wanita itu tahu hal apa yang selanjutnya pria itu ingin lakukan.
Rea mengencangkan cengkeramannya pada ujung selimut di dadanya, saat tangan Jeno terulur untuk membuka selimut itu Rea mundur dan membuat pertahanan kuat. Jeno lagi-lagi menyeringai. "Sudah kubilang, semakin kamu tidak suka, semakin aku akan melakukannya."
Satu tangannya terulur dan meraih ujung selimut, dalam satu hentakan benda itu ditarik dan terlepas dari tubuh Rea. Wajah putih Rea semakin putih, Jeno benar-benar kurang ajar!
"Aku bukan sakit lumpuh hingga kamu harus membantuku mandi, Jeno. Keluarlah dari sini aku tidak sudi tanganmu menyentuhku!" Dengan sekuat tenaga Rea berteriak.
Seperti yang sudah Jeno katakan, semakin wanita itu tidak suka, semakin Jeno melakukannya. Jeno membopong tubuh kecil Rea dan menjatuhkannya ke dalam bathup dengan kasar. Air menciprat ke mana-mana hingga membuat seluruh tubuh dan wajah Rea langsung basah, begitu pun dengan celana hitam panjang Jeno ikut basah kena cipratan.
"Rupanya kamu tidak bisa aku beri kelembutan, kamu lebih suka aku beri kekerasan."
Rea menatap Jeno dengan marah. "Kamu yang sudah membuat aku benci dan jijik. Kamu berniat membawa wanita jalang itu ke rumah ini, Jeno!"
Mendengar umpatan untuk Aruna, Jeno tidak terima. Pria itu berjongkok dan mencengkram rahang wanita itu. "Jangan kamu berani menghina Aruna di hadapanku! Dia bahkan lebih baik dari pada kamu yang terlihat lugu!"
Rea menepis tangan Jeno hingga tangan pria itu terlepas dengan mudah karena licin oleh air sabun, tapi tetap saja menimbulkan rasa sakit di tulang rahangnya. Wajahnya berpaling dan meringis kesakitan. "Kurang patuh apa aku selama ini padamu, Jeno? Aku tidak pernah bersuara meski kamu terus memperlakukanku tak layaknya seorang istri.
Aku patuh, kamu jadikan layaknya pembantu, bahkan aku patuh saat kamu anggap seperti p*****r. Masihkah kurang itu semua hingga kamu berniat membawa selingkuhanmu ke hadapanku?"
"Dia bukan selingkuhan, dia calon istriku. Ingat itu!"
"Cih!" Rea tersenyum getir, air matanya jatuh tenggelam di dalam busa-busa sabun yang lembut. Rea tertawa kecil, seperti tengah menertawakan sebuah kebodohan.
Jeno tidak tahu siapa Aruna, dan pria ini masih saja buta pada wanita itu. "Apa yang kamu tertawaan?" Dari nada suara Jeno, jelas pria itu merasa tidak senang.
Rea tertawa lebih keras, menatap wajah Jeno dan berkata, "aku sedang menertawakan orang yang kuat, orang yang sangat tinggi dan terpandang di mata semua orang, orang sangat terhormat dan berpengaruh, tapi dia memiliki otak yang bodoh. Karena hanya orang bodoh saja yang menganggap seorang jalang sebagai wanita terhormat!"
PLAK!
Wajah Rea berpaling saat telapak tangan Jeno mendarat di pipinya dengan sangat keras. Rasa panas menjalari pipi sampai belakang telinga hingga terlihat merah, sudut bibirnya robek hingga mengeluarkan darah. Air matanya jatuh, jatuh dan jatuh lagi.
Jeno mengepalkan kedua telapak tangannya sangat kuat, hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Apa yang dikatakan Rea itu sangat membuatnya murka. Entah karena wanita itu mengatainya bodoh, atau karena mengatai Aruna sebagai jalang, atau dia menyesali karena telah menampar wanita itu?
Tidak mungkin, tidak mungkin Jeno menyesal. Dia pria tak punya hati!
Apa yang Jeno tidak tahu tentang Aruna? Selama ini Jeno hanya melihat wajah baik hati pada diri Aruna, wanita itu hanya bisa bermanja padanya dan mencintainya. Jeno berpikir karena rasa cemburu membuat ucapan Rea kurang ajar.
"Kendalikan rasa cemburumu itu, jangan melampaui batasanmu!"