Merasa kesal pria itu pun akhirnya beranjak pergi, dan langsung keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras hingga terdengar dentamannya ke dalam kamar mandi. Jeno menghindari Rea karena ia takut menyakiti wanita itu lebih parah lagi, awalnya dia ingin menghabiskan waktu pagi ini penuh keromantisan, tapi sikap wanita itu malah membuatnya kesal.
Rea menangis setelah kepergian Jeno, hatinya terasa sakit dan hancur. Sebegitu tidak terimanya Jeno atas perkataannya yang menjelekkan kekasihnya. Rea tidak bicara sembarangan, mendapatkan perlakuan seperti ini membuat dirinya semakin ragu untuk memberitahukan apa yang dia ketahui pada Jeno.
Dia juga tidak punya bukti perselingkuhan Aruna, tapi jika saja Jeno bisa bersikap baik padanya sedikit saja mungkin dia akan punya keberanian UU nntuk mengatakannya pada pria itu, dan membuat rencana untuk mengorek rahasia Aruna bersama-sama. Namun, karena cinta Jeno yang buta, apakah pria itu akan percaya jika ia mengatakan sesuatu yang buruk tentang wanita itu? Contohnya pagi ini saja Jeno begitu marah padanya.
***
Jeno pergi ke rumah Aruna sore ini setelah pulang kantor, dan membawa wanita itu kembali ke rumahnya tepat di jam 7 malam saat ini. Keduanya keluar dari mobil dan Jeno membawa koper milik wanita itu.
"Apa kedatanganku di sini sebagai orang ketiga?" ucapnya pada Jeno.
Jeno terdiam, dan terus melangkah membawa koper dan Aruna yang menggandeng lengannya menuju pintu. Jeno mengetuk pintu, dan Rea yang sedang menata meja makan pun menoleh ke arah pintu.
"Ya, sebentar!" Rea menyahut lalu berjalan ke arah pintu depan. "Jeno, kamu sudah pu--"
Rea tertegun saat pintu terbuka lebar, hatinya sangat sakit layaknya udara yang ia hirup itu bercampur dengan jarum-jarum tajam menusuk jantungnya. Jeno baru pulang di jam segini, dia kira pria itu tidak jadi membawa wanita itu datang, tapi ternyata.
Senyum menjijikan Aruna begitu mengejeknya, Rea lalu menatap wajah Jeno yang berekspresi datar, membawa Aruna masuk melewati Rea begitu saja dan bertanya.
"Apa kamar tamu sudah kamu bereskan?" Suara dingin Jeno masuk ke gendang telinga Rea.
Rea tersadar dari lamunannya dan menutup pintu, dia melangkah mendekat dan menjawab pelan. "Belum."
"Sayang, apa aku akan tidur di kamar tamu? Teganya dirimu," kata Aruna dengan nada merajuk manja, membuat Rea yang melihatnya benar-benar merasa jijik.
Jeno sengaja menyentuh pipi wanita itu lembut, dan berkata dengan nada rendah. "Kamarmu belum selesai direnovasi, besok para tukang akan datang untuk merenovaisnya. Aku ingin kamarmu nanti akan membuatmu sangat nyaman."
"Oya? Aku senang sekali kamu memperhatikanku dengan sedetail itu. Terima kasih, Sayang. Tapi, kalau kamu mau, aku bersedia tinggal di kamarmu juga, Sayang. Biar Rea yang pindah, jadi kamu tidak usah repot-repot merenovasi kamar lagi."
Jeno melirik Rea yang tampak berekspresi datar, bagaikan sudah tak punya rasa lagi di dalam hatinya. Terserah mereka mau apa, Rea sudah muak.
"Tentu saja, aku akan bersedia pindah jika kamu mau tidur di bekas kamarku." Kata-kata Rea sekaligus menyindir Aruna, kalau rumah, kamar termasuk Jeno adalah bekasnya, dan hanya orang-orang tak punya harga diri saja yang mau bekas orang lain, terlebih merebut haknya.
Mendengar kata-kata Rea yang terkesan mengejeknya, Aruna dengan manjanya menoleh pada Jeno dengan tatapan memelas, hingga Jeno menatap Rea dengan pandangan tak suka.
"Apa yang kamu katakan? Tidak ada acara pindah-pindah kamar! Sebaiknya kamu segera bereskan kamar tamu karena Aruna sudah kelelahan."
Aruna tak menduga kalau jawaban Jeno hanya seperti itu, padahal ia berharap pria itu menegaskan kalau dirinya bukanlah orang yang suka menerima barang bekas, meski begitu kenyataannya. Toh, hal ini juga gara-gara Rea yang sudah mencuri segala miliknya dari dia.
Serius? Apakah kedua wanita ini menganggap Jeno juga sebagai barang bekas?
Rea tersenyum dingin, padahal Rea-lah di sini sebagai tokoh yang lemah, dia wanita rapuh yang memiliki satu ginjal. Namun, Jeno tidak pernah segan menyuruh-nyuruhnya seperti ini, tapi Aruna? Dia wanita sehat dan energik, kenapa tidak berusaha membereskan kamar untuk dirinya sendiri? Kenapa harus Rea yang membersihkan?
Rea benar-benar merasa semakin dingin, rasa sakit di hatinya yang terus-menerus seperti membuat dirinya semakin kebal. Rea pergi meninggalkan keduanya tanpa sepatah kata pun, membawa sapu dan lap yang disampirkan di bahunya.
Aruna tersenyum melihat kepergian Rea yang benar-benar berpenampilan seperti pembantu. "Penampilanmu begitu sangat cocok, Rea," batinnya.
Jeno lantas menaruh koper Aruna sementara di sisi sofa, dia juga duduk bersandar dengan kedua tangan yang ia letakan di atas sandaran. Aruna tersenyum dan menyusul duduk di sisi Jeno, memeluk pinggangnya dan menempelkan sisi wajah ke d**a bidang pria itu.
Sedangkan Rea di lantai atas sibuk mengelap, dan lanjut menyapu, mengganti seprei dan membereskan tempat tidur itu dengan rapi. "Mungkin, kini aku sedang mempersiapkan kamar pengantin untuk mereka. Aku akan membuatnya semakin indah dan romantis," gumam Rea, dengan senyum pahit yang tersungging di bibirnya.
Rea menata tempat tidur dengan sangat baik, memilih sprei satin berwarna soft pink, mengambil seikat bunga mawar dari fast dan menebarkan kelopaknya di atas tempat tidur, menyemprotkan parfume ruangan yang sangat menenangkan, aromanya tidak terlalu menyengat hingga benar-benar menyenangkan jika menghirupnya, menyalakan lilin dan mematikan lampu kamar hingga ruangan tampak indah dengan cahaya temaram.
Ruangan ini sudah mirip seperti kamar pengantin baru, Rea benar-benar sudah gila karena memeprsiapkan ini semua untuk suami dan kekasih suaminya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Jeno tidak pernah mencintainya, selama 2 Tahun perjuangannya untuk mendapatkan cinta pria itu, sungguh tidak pernah membuahkan hasil yang baik.
Mungkin saat ini ia akan menyerah, meski sulit melupakan rasa cintanya pada pria itu, tapi Rea setidaknya ingin hidup tentram dan memiliki kehidupan membahagiakan meski tanpa Jeno di sisinya.
Tanpa terasa air mata menetes, Rea menyeka sudut netranya yang basah lalu berusaha tersenyum. Wanita itu menghela napas panjang agar hatinya tenang hingga bisa menghadapi sepasang kekasih di bawah nanti dengan baik dan tidak menunjukkan emosional yang berlebihan.
Jeno melirik ke arah tangga saat suara langkah kaki Rea terdengar, dia yang tadi tampak tak acuh pada Aruna kini terlihat memperlihatkan adegan mesra yang terkesan intim. Aruna tersenyum saat Jeno akhirnya merespon godaannya.
Saat Rea sampai di lantai dasar, sungguh rasanya Rea ingin secepatnya hilang dari hadapan keduanya, sangat menyakitkan!
"Kamar sudah siap, silakan naik. Namun, karena ini sudah waktunya makan malam, ada baiknya kita makan malam dulu sebelum kalian istirahat, bagaimana?" tanya Rea, sikapnya benar-benar biasa saja, membuat pria itu merasakan sesuatu yang aneh, semacam perasaan tidak nyaman.
Memangnya apa yang Jeno harapkan dari sikap Rea saat ini?