Apa Salahku?

1367 Kata
Saat Jeno dan Aruna diam saja, Rea pun tersedak, mungkin mereka merasa kesal saat sesi ciuman mereka terganggu atas kehadirannya tadi. "Oh, ma-maaf jika aku mengganggu kalian tadi. Aku mohon maafkan aku ya, aku tunggu di meja makan, oke." Rea mengulas senyuman, lalu segera melangkah ke ruang meja makan. Sesampainya di sana Rea berdiri di sisi meja, wajahnya menunduk dengan perasaan berkecamuk, sesak rasanya hati wanita itu. Rea menengadahkan wajah agar air mata tak jadi jatuh, menarik napas dalam dan mengusap wajahnya yang tampak sangat sedih. Terdengar langkah kaki mendekat, buru-buru ia mengubah ekspresi wajah dan menyiapkan senyum palsunya. "Ah, ayo silakan duduk. Aruna semoga kamu suka dengan menu makanan yang aku masak malam ini. Ini juga yang pertama kalinya Jeno memakan makanan yang aku masak. Semoga kamu suka ya." Ada bagian hatinya yang teriris sembilu kala mengatakan kalimat itu. Tentu saja Rea sudah tahu selera makanan apa yang Jeno sukai, minuman, warna favorite, hewan, Hobby pria itu hingga aksesori yang pria itu sukai Rea tahu semua. Mencintai selama 13 Tahun membuatnya tahu banyak hal tentang Jeno, sejak dulu ia selalu memperhatikan Jeno, mencari tentang Jeno layaknya penguntit. Jeno duduk di kursi, menatap semua menu makanan yang tersedia di meja. Sup seafood, ayam goreng, nasi dan sampai buah pun Rea memilih semangka sebagai pencuci mulut, karena Jeno memang menyukai buah itu. Setiap hari ia selalu menyiapkan makanan kesukaan Jeno seperti ini. Namun, Jeno tidak pernah mau mencobanya barang segigit saja, menyedihkan. Ada rasa sesak di hati Jeno, mungkin dia tersentuh ada seseorang yang begitu memperhatikannya sedetail Rea bahkan Aruna saja belum tentu tahu semua apa yang ia sukai dan tidak ia sukai. Apakah benar Jeno tersentuh? Tidak mungkin pria seperti Jeno tersentuh, mustahil. Rea menatap Jeno yang seperti tertegun, hal seperti ini yang ia harapkan selama 2 Tahun, dan pada akhirnya kini ia dan Jeno bisa duduk bersama di satu meja makan, hanya saja kini ada Aruna di tengah-tengah mereka. Itu menandakan kalau Rea benar-benar tidak pernah ada di hati Jeno, dan Rea harus benar-benar ikhlas menerima kenyataan kalau Jeno tidak tercipta untuknya. Dia harus bisa melepasnya, dan membiarkannya hidup bahagia dengan orang yang dia cintai, yaitu Aruna yang kini duduk di samping kanan suaminya. "Kenapa hanya diam, ayolah dicoba. Aku akan bantu--" Namun, gerakan tangan Rea yang akan mengambil centong nasi terhenti saat Aruna lebih dulu mengambilnya dan mengisi piring Jeno. Rea menarik tangannya kembali, lantas menunduk sedih, sungguh ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini. Jeno menoleh pada dirinya yang memalingkan wajah, entah apa yang dirasakannya saat melihat wanita itu benar-benar tersiksa batin, harusnya dia senang bukan? Ini kan tujuannya membawa Aruna ke rumahnya? Untuk memanas-manasi Rea agar wanita itu merasa tak tahan dengan kehidupan pernikahan yang dipaksakan olehnya sendiri. "Apa ini sudah cukup, Sayang?" Pertanyaan Aruna di samping kanannya membuat Jeno menoleh dan mengalihkan pandangannya dari Rea. "Ya sudah cukup, terima kasih," sahutnya. Aruna tersenyum dan menambahkan nasi juga ke piringnya, lanjut mengisi mangkuk kecil Jeno dan mangkuk miliknya dengan soup seafood kesukaan Jeno. Aromanya sungguh sangat menggugah selera, membuat perut Jeno seketika merasa lapar. Tak dipungkiri, waktu 2 Tahun mengubah Rea. Dari wanita manja dan kolokan kini menjadi wanita mandiri dan bisa diandalkan. Soup ini sangat enak saat masuk ke mulut Jeno, bahkan Aruna pun tersenyum masam saat ia juga harus mengakui masakan Rea sungguh sangat lezat. Jeno makan dengan lahap, itu sedikit membuat Rea tersenyum, tapi tak mengurangi kepahitan di dalam hatinya. Kini semuanya terasa hambar. Rea tidak makan, piringnya masih kosong, wanita itu seperti asyik dengan pikirannya sendiri. Saat ia tersadar, Jeno dan Aruna sudah selesai makan, mereka berdiri dan menatap Rea yang masih duduk. "Makanlah, aku akan mengantarkan Aruna ke kamarnya lebih dulu, baru setelah itu ke kamar kita," kata Jeno, ada rasa kehangatan di setiap kalimatnya, tapi itu seperti ejekan bagi Rea. "Tidak apa-apa, tinggallah lebih lama bersama Aruna, aku juga akan sangat lama untuk kembali ke kamar, ada banyak pekerjaan di dapur," sahut Rea. Wanita itu benar-benar mampu mengontrol nada bicaranya, hingga tak bergetar sedikit pun. Jeno tak paham dengan apa yang Rea maksud di awal kalimatnya, pria itu tak mau pikir panjang dan melangkah pergi. Aruna pun mengekor lantas meninggalkan Rea di meja makan dengan segala rasa pedihnya. "Nikmatilah malam ini dengan bahagia, suamiku." *** Jeno membuka pintu kamar tamu dan masuk disusul Aruna di belakangnya. Wanita itu lantas menutup pintu dan melihat ke arah tempat tidur, dia pun tersenyum. "Istrimu pengertian sekali, Sayang," celetuk Aruna. "Apa maksudmu?" tanya Jeno tak mengerti, karena ia tidak menyadari keanehan apa-apa. "Lihatlah," pintanya seraya menunjuk tempat tidur. Jeno pun mengikuti ke mana arah jari Aruna, dan itu seperti dirinya disiram air es yang sangat dingin. "Sudah menyediakan makan malam, dan kini dia menyediakan tempat tidur untuk kita menghabiskan malam." Aruna lantas melangkah ke arah ranjang dan membaringkan tubuh seksinya di atas kasur, menatap Jeno dengan senyuman nakal. Jeno mengepalkan kedua telapak tangannya, rupanya dia kini sudah mengerti maksud dari perkataan Rea tadi. Wanita itu menyuruhnya untuk tinggal lebih lama di kamar ini bersama Aruna. Ada apa? Apakah wanita itu sama sekali tidak merasa cemburu? Itu artinya apakah Rea sudah tidak mencintainya seperti dulu? Ada sudut hatinya yang seperti tertusuk jarum kecil, egonya meminta agar Rea tidak boleh berhenti mencintainya. Wanita itu harus tersiksa seumur hidupnya karena cinta wanita itu padanya. Ada rasa marah yang bergejolak di dadanya, membuat ia sangat ingin sekali menghukum Rea dengan setimpal. Bisa-bisanya wanita itu membuat Jeno kalah dengan cepat! "Sayang, kamu mau ke mana?" pekik Aruna saat melihat Jeno malah melangkah keluar dan menutup pintunya dengan kasar. Aruna bangkit dan duduk di tepi ranjang menatap pintu yang tertutup rapat. "Jeno! Kamu kenapa sih, ih?!" Aruna memukul kasur dan mencengkram seprai dengan kesal. *** "Rea!" Teriakan Jeno membahana membuat Rea yang sedang mencuci piring pun tersentak dan menoleh ke belakang, untungnya dia sudah selesai membilas gelas terkahir karena hanya mencuci alat makan bekas Jeno dan Aruna saja tadi. "Rea!" Jeno kembali berteriak di undakan anak tangga, pria itu tampak begitu murka, tapi mengapa harus murka? Bukannya Rea sudah memberikan apa yang pria itu dambakan? Rea pun segera berjalan keluar dari dapur, dan dengan cepat disambut cengkraman kasar di pergelangan tangannya. "Ah!" Rea mendesis saat pergelangan tangannya seolah akan diremukkan oleh Jeno, Rea takut dengan tatapan mata Jeno yang berkilat merah. "A-apa salahku?" tanyanya takut. "Apa salahmu? Kamu akan tahu di mana salahmu setelah kamu ikut aku ke kamar!" Jeno menarik tangan Rea menaiki anak tangga, tak peduli langkah Rea yang kecil tidak bisa mengimbangi langkahnya yang lebar, hampir saja wanita itu terpeleset dan tergelincir jika Jeno tidak memegang tangannya dengan kuat. Jeno membuka pintu kamar dan kembali berteriak. "Kamu harus tahu di mana kesalahanmu!" Rea dilempar ke atas tempat tidur hingga wajah wanita itu tersungkur. Rea segera menoleh ke arah Jeno yang menutup pintu dengan kasar dan mengunci pintunya juga, Rea pun membatin. "Apa salahku sekarang? Mengapa Jeno sangat marah?" "Rea!" PLAK! Jeno datang dan menampar pipi Rea, membuat sensasi rasa panas langsung menjalari wajahnya yang putih hingga terlihat cap tangan Jeno yang berwarna merah. Air mata Rea berjatuhan pada seprai warna cream yang ia tiduri. Jeno menindih Rea yang terlentang saat ini dan menahan kedua tangan wanita itu hingga tak bisa memberontak lagi. Air mata wanita itu merembes tiada henti, sakit fisik, sakit hati, juga lama-lama ia akan jadi sakit jiwa sepertinya, sungguh Rea sudah tak sanggup. "A-apa salahku?" tanyanya pelan dengan bibir bergetar. Melihat wajah cantik yang basah air mata dan ada robek di sudut bibir wanita itu tampak mengeluarkan darah membuat Jeno merasa b*******h. Jeno menundukkan keoala dan menjilat sudut bibir Rea, rasa karat menyebar di lidahnya. Zea memejamkan kedua matanya, kedua tangannya ia coba untuk bergerak tapi Jeno menekannya cukup kuat hingga Rea tak dapat berkutik. Jeno mencium bibir tipis Rea dengan kasar, entah kenapa ada rasa yang menggebu saat menyentuh Rea saat ini. Ada rasa ketidak sukaan saat membayangkan jika Rea kini telah berhenti mencintainya. Tak seperti dulu saat kapan saja ia meminta, meski dalam keadaan mabuk sekali pun Rea akan melayaninya dengan sangat baik bagaikan jalang. Namun, saat ini? Wanita ini bahkan seperti boneka manekin yang dingin dan kaku, hanya matanya saja yang terus mengeluarkan cairan bening membuat Jeno sangat marah dan semakin brutal memperlakukan istrinya dia atas tempat tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN