Sinar mentari menerobos melewati celah-celah jendela yang tak tertutup sempurna begitu menyilaukan di mata Rea. Wanita itu mengangkat tangannya dan menutupi wajah, Rea bangun dan menoleh ke sampingnya.
Jeno sudah tidak ada di sisinya, padahal semalam pria itu tertidur pulas setelah puas memenuhi hasratnya. Rea memeluk kedua lutut, mengingat begitu menggebu hasrat Jeno semalam, bahkan tanpa alat pengaman. Memaksa Rea untuk membalas setiap perlakuannya seperti saat ia sedang semangat-semangatnya mengejar cinta pria itu.
Dulu bahkan Rea sangat berusaha melakukan yang terbaik untuk memuaskan hasratnya demi mengambil hati Jeno, bergerak lincah layaknya seorang jalang yang binal. Namun, saat ini. Cintanya masih sama, tapi rasanya sudah terasa hambar. Itu semua karena sikap Jeno selama ini yang selalu memberi luka lara bagi batin dan fisiknya.
Rea segera turun dari tempat tidur dengan selimut yang melilit tubuh polosnya, segera ia membersihkan diri dan turun ke lantai bawah. Karena lelah ia sampai bangun kesiangan, tapi tumben Jeno pergi tanpa membangunkannya lebih dulu.
Oh, dia lupa. Sekarang kan ada Aruna, untuk apa pria itu harus membangunkannya?
Rea selesai mandi dengan cepat, berpakaian tanpa menyisir rambutnya yang basah, terkesan seksi dan sangat mempesona. Sudah seperti itu saja, dia malas mengeringkan rambut dan memulas wajahnya, toh tidak ada yang melihat, pikirnya. Kan seharian cuma di rumah, beres-beres seperti pembantu. Terlebih akhir-akhir ini dia semakin tak peduli pada penampilannya, berpikir percuma berdandan, untuk siapa? Untuk Jeno? Tidak, pria itu tidak akan memperhitungkannya sama sekali, jadi sudahlah.
Rea turun dan berjalan menuju meja makan, wanita itu sangat terkejut saat ternyata masih ada Jeno dan Aruna di sana. Rea langsung merasa canggung saat mendapati tatapan mereka berdua, terlebih Aruna yang seakan mengulitinya.
Apa yang dia lihat?
Rea tampak segar setelah baru mandi, rambut panjang bergelombangnya tergerai basah dan sedikit menutupi sebagian wajahnya yang cantik. Jeno tertegun saat melihat kedatangannya, seperti baru menyadari kalau betapa cantik istrinya yang tidak pernah ia anggap ada.
"Maafkan aku, aku kira kalian sudah berangkat ke kantor soalnya ini kan sudah agak siang. Jadi aku turun dengan keadaan seperti ini," jelasnya dengan senyum kikuk, hal malu-malu itu justru membuat perasaan di d**a Jeno seakan meledak, pria itu suka dan gemas melihat wajah cantik Rea yang memerah.
"Tidak masalah, duduklah. Aruna sudah memasak sarapan, dan itu bagianmu." Jeno menunjuk nasi goreng yang masih tersisa di dalam wadah, Rea seperti kesemutan di hatinya ketika mendapatkan hal baik dari kedua makhluk di hadapannya ini.
"Kenapa masih berdiri? Cepat duduk dan sarapan, aku tahu sejak kemarin kamu tidak makan. Aku tidak mau dicap sebagai suami jahat jika kamu sampai punya penyakit lambung," lanjut Jeno lantas melanjutkan makan.
Rea menurut, dia duduk dan menatap Aruna yang sejak tadi hanya cemberut saja. "Maafkan aku, Aruna. Karena aku bangun kesiangan kamu jadi repot membuat sarapan. Aku terbiasa bangun pagi untuk membuat sarapanku dan Jeno, tapi karena Jeno tak pernah mau makan bersama, aku jadi agak santai, hanya untuk perut sendiri bisa kapan saja."
Jeno berhenti makan, tangannya berhenti di atas piring, kata-kata Rea lagi-lagi membuat dirinya merasa bersalah. Tunggu! Benarkah Jeno bisa punya perasaan merasa bersalah?
Aruna melirik Rea di hadapannya, datang dengan rambut basah seperti itu maksudnya apa? Lalu saat Rea menyibak rambutnya ke belakang hingga terpampang bekas merah cap kepemilikan terlihat jelas di leher Rea, itu membuat hati Aruna benar-benar tambah panas.
Jengkel semalam saja saat ia menguping erangan Jeno di kamarnya membuat hati Aruna panas, hancur dan perih. Karena selama berpacaran, Jeno sama sekali tak mau menyentuhnya, tapi pada Rea yang katanya dia tidak cinta malah begitu menikmatinya. Memang dasar lelaki munafik!
Saat menyadari tatapan Aruna terus menusuk ke arahnya, terlebih pada leher miliknya, Rea tersadar dan segera menutupi kembali bekas cupang itu dengan rambut panjangnya, itu benar-benar membuat Aruna murka hingga membanting sendok ke atas piringnya tanpa sadar.
Bunyi dentingan yang kasar membuat Rea kaget dan Jeno juga sampai melotot ke arahnya. Segera ia tersenyum kikuk karena keceplosan melakukan hal itu. "Maafkan aku, tanganku tanpa sadar melakukan itu," ucapnya gugup.
Jeno menghela napas, lalu lanjut makan tanpa peduli tatapan persaingan di antara kedua wanita di sisi kanan dan kirinya itu. Siapa yang mau bersaing? Rea sudah malas, dan mungkin akan menyerahkan pria menyebalkan itu pada Aruna sekalian.
***
Di perjalanan menuju kantor pun Aruna masih saja cemberut, Jeno menoleh padanya dan sadar kalau sikap Aruna sejak pagi sedang tidak ada mood. "Ada apa, Una?" Jeno mengelus rambut Aruna dengan lembut.
Wanita itu menepis tangan Jeno dengan gerakan pelan. "Jangan sentuh aku!" ketusnya, itu membuat Jeno malah tersenyum melihat kemarahan Aruna.
"Kenapa semalam kamu meninggalkanku di kamar dan malah pergi ke kamar Rea?"
"Ya, karena Rea istriku," jawab Jeno to the point.
Jawaban Jeno membuat Aruna menganga, sejak kapan Jeno mengakui sudah punya istri? Sejak kapan Rea kini diakui jadi istri? Bukankah itu aneh? Aruna tiba-tiba takut, itu bisa membahayakan posisinya sebagai wanita yang selama ini dianggap memiliki tahta tertinggi di hati Jeno.
"Lalu aku ini apa?" tanyanya sedih.
Jeno terdiam, tak bisa menjawab jelas. Aruna apa? Dia bukan istri, dia hanya seorang kekasih gelap yang ia sembunyikan dari seluruh keluarganya, dan hanya ia tunjukkan pada Rea saja, karena keluarganya tidak ada yang setuju, Jeno pikir itu karena hasutan Rea yang sangat tidak bermoral.
Melihat Jeno yang hanya diam tak dapat menjawab, itu benar-benar membuat hati Aruna kacau balau. "Aku mengerti, aku memang hanya wanita menyedihkan di matamu, karena setelah gagal dinikahi, tapi aku tetap tak tahu malu menempel terus padamu." Aruna terdengar terisak, dan membuat Jeno sangat merasa bersalah.
"Tidak, bukan maksudku seperti itu, Sayang. Aku hanya merasa kita belum sah, kita akan melakukannya setelah menikah," sahut Jeno meyakinkan, tapi saat ini Aruna tak mudah percaya.
Sudah 2 Tahun dia seperti orang bodoh yang selalu dibohongi oleh Jeno, pria ini selalu berjanji akan mencari cara untuk menceraikan Rea agar bisa bersatu dengannya, tapi mana? Tidak ada buktinya sampai sekarang.
"Menikah? Lalu kapan waktunya kita menikah? Kamu selalu berbohong padaku, Jeno!" Aruna mulai menangis karena marah dan kecewa, membuat Jeno jadi tambah tak enak.
Jeno lantas menepikan kendaraannya, mengambil lembar-lembar tissue dan menyeka wajah Aruna yang basah air mata. Setelah itu diraihnya tubuh Aruna dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya. "Bersabarlah, aku berjanji akan segera menikahimu saat aku dan Rea bercerai, tapi untuk saat ini aku tidak punya kesempatan untuk lepas dari jerat pernikahan ini."
Mendengar penjelasan Jeno membuat Aruna terdiam seperti tak punya daya. Pikirnya, jika Jeno mau, dia bisa melakukan sesuatu untuk membuat keadaan lebih mudah. Apakah Jeno hanya berpura-pura? Aruna tak berani mengambil kesimpulan bahwa hal itu benar. Dirinya tidak mau mengakui kalau Jeno telah menyukai Rea sungguhan.
Aruna harus percaya dengan apa yang dikatakan Jeno, dan lebih bersabar lagi. Namun, ia tentu tidak akan tinggal diam. Permintaannya untuk pindah ke rumah Jeno bukankah bertujuan untuk menggeretak Rea dan mengganggu wanita itu agar segera meninggalkan Jeno? Maka dia akan segera melakukannya segera.