Panji merasa ada seseorang yang menarik-narik lengannya. Pria itu membuka mata. Ternyata si mungil Zea yang membangunkan. Tangan bocah berambut panjang itu menunjuk pintu. Sepertinya dia ingin keluar. Sekali sentak, Panji sudah terbangun duduk. Di sebelahnya, Hani masih melongo dengan posisi terlentang. Air liur membasahi pipi wanita itu. Panji mendesah. Sudah biasa dirinya terbangun lebih dulu dari Hani. Berbeda sekali saat masih beristrikan Layla. Dulu setiap Subuh wanita lembut itu akan membangunkannya. Mengajak Panji beribadah dan secangkir kopi pun telah tersedia. Sayang ... semenjak usahanya mengalami peningkatan, Panji menjadi malas beribadah. Lelah dan tidak ada waktu adalah alasannya. Apalagi sejak bertemu Hani. Pria itu benar-benar meninggalkan sholat. “Ahhh ... kenapa aku m

