Malam ini Juwi tidak bisa tidur, padahal biasanya pukul sembilan malam, ia sudah terlelap bersama Salsa. Hanya saja, sejak menikah, tidurnya menjadi lebih malam. Tetapi tetap saja, pukul sebelas ia sudah terlelap. Juwi milirik jam di dinding kamarnya, sudah pukul satu malam. Matanya tak mau juga terpejam. Padahal sejam yang lalu ia baru saja melakukan video call dengan Devit. Dirinya gelisah, hanya berbalik kanan dan ke kiri. Pikirannya melayang pada perkataan mertua perempuannya, juga pada ucapan Devit yang menenangkannya. Devit mengatakan, perjuangan mereka masih panjang, menikah bukanlah awal dari kebahagiaan saja, namun awal dari ujian kehidupan. Devit juga mengatakan agar Juwi percaya sepenuhnya dengan dirinya, dengan cintanya. Ia akan berjuang, agar Juwi diterima oleh orangtua jug

