17. Peri Pohon Ek

1205 Kata
Amy tidak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Cernunnos barusan. Dia tidak salah mendengar ketika dewa itu berkata dirinya adalah Daireya, dimana Daireya sendiri adalah peri pohon Ek ajaib yang tadi sempat dilihatnya. Namun akal sehatnya menyangkal itu semua. Dia tahu berhubungan dengan hal magis, akal sehat tidak dibutuhkan, tapi dirinya adalah manusia, sedangkan wanita bertelinga runcing tadi adalah seorang peri— yang berfisik amat berbeda dengannya. Lantas bagaimana mungkin itu adalah dirinya. Baik dirinya ataupun Cernunnos terdiam dalam. Mata mereka saling tertaut menunjukkan perasaan masing-masing. Amy dengan rasa bingungnya, sedangkan Cernunnos dengan tatapan penuh kejujuran. Benih cinta dalam hati Amy semakin bermekaran. Dia tahu kalau kepribadian Cernunnos akan selalu sama. Hal ini membuat bibinya tanpa sengaja mengembang dengan sendirinya. “Kau percaya?” tanya Cernunnos kemudian. Amy menggeleng sesaat untuk menghilangkan warna merah muda yang menyelimuti matanya karena jatuh cinta. Dia segera mengatakan, “dengar, Keno, aku tahu kau mungkin mengira aku akan cemburu, jadi kau mengatakan bualan itu.” “Tidak, sungguh, kau Daireya.” “Daireya ...” “Peri pohon Ek ajaib, iya, kau adalah wanita yang kau intip di balik semak-semak tadi.” “Tapi bagaimana mungkin?” “Untuk sementara aku juga tidak tahu, tapi yang pasti ada sesuatu yang akan datang dan membuat dirimu menjadi seperti ini.” “Aku tak paham.” “Aku tadi sudah membahas peri kegelapan, bukan?” “Maksudmu peri bernama Thorn?” “Ya, dia.” “Ada apa dengannya?” “Dia sangat menginginkan pohon yang menjadi induk bagimu, pohon Ek di belakang bangunan ini. Sekarang kita gabungkan fakta yang ada, kau berusia dua puluh dua tahun, dan kembali ke masa lalu dalam kondisi sebagai manusia.” “Lantas?” “Artinya Thorn akan menyerang tempat ini lagi, dan kali ini jelas berhasil— karena kau sampai berubah menjadi manusia.” “Tapi mana mungkin ... jadi maksudmu, aku sungguh-sungguh dari pohon itu? Aku adalah peri tadi?” Amy mengamati kedua tangannya, lalu menyentuh kedua telinganya yang biasa saja. Dia jelas seorang manusia biasa, bukanlah keturunan peri. Lagipula, tidak ada setikitpun ingatan yang tersisa sebagai Daireya. “Tapi tidak mungkin, Keno.” “Aku juga tidak tahu, Amy, tapi aku yakin seratus persen, ribuan persen, kau adalah Daireya-ku, dan entah apa yang dilakukan Thorn pada pohon itu, yang pasti kita harus melakukan sesuatu untuk mencegah hal buruk terjadi.” “Aku Daireya? Aku peri?” “Kau tidak perlu memikrkan bagaimana cara dirimu menjadi manusia, karena aku sendiri juga belum tahu, semuanya belum terjadi, Amy.” “Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa Thorn akan membunuhku, lalu aku bereinkarnasi menjadi manusia? Memangnya hal semacam itu mungkin? Apa yang terjadi jika peri pohon mati?” “Jika peri pohon magis biasa, normalnya akan mati bersama dengan pohonnya— dan tidak mungkin reinkarnasi, tidak ada makhluk hidup di hutan ini yang bisa menyambung hidup kecuali aku.” “Kau membuatku takut.” Amy mendadak merinding, dia takut apabila Thorn mungkin melakukan hal buruk. “Sebentar, apa kedatanganku ke masa lalu tidak mengubah apapun? Apakah mungkin aku yang sekarang selamat, tapi saat kejadian itu berlangsung dan pohon Ek tidak selamat, maka aku akan ikut menghilang?” “Kau mencemaskan terlalu banyak hal, Amy.” Cernunnos berdiri, kemudian berjalan mendekati wanita ini. Dia menarik sebuah kursi, lalu duduk di sampingnya. “Sudah kubilang dari awal, apa yang terjadi di masa depan, masa kini dan masa lalu itu terikat dan telah ditakdirkan. Jika kau selamat di masa depan, artinya kau selamat di masaku ini, yang harus kau lakukan hanya satu.” “Apa?” “Sementara tetaplah bersembunyi dari banyak binatang magis atau makhluk lainnya, aku harus melakukan persiapan untuk melindungi pohon itu.” “Keno, aku takut.” Amy menyambar telapak tangan Cernunnos, lalu menunjukkan raut wajah pucatnya. Dia mendapatkan banyak sekali fakta tentang siapa dirinya disini. Akan tetapi dia masih penasaran tentang bagaimana bisa dia menjadi manusia kalau dia adalah Daireya. Lantas, semua ucapan yang kakek itu tidak benar seratus persen. Selain itu, perkataan Cernunnos juga menyatakan bahwa dia kemungkinan besar bukanlah anak kandung dari orangnya. Ya, kemungkinan besar— walau dia juga ragu, karena ia tidak tahu reinkarnasi dari Daireya ini prosesnya bagaimana, apakah terlahir dari rahim manusia secara acak? Ataukah ... lahir dari pohon itu sendiri? Ucapan Pea kembali terngiang di kepalanya. Saat itu si tupai juga menyebut kata bayi dari pohon Ek— adalah dirinya. Bagaimana prosesnya? Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang terbenam di dalam benaknya. Ada hal yang paling mengganjal selain jati dirinya sebagai peri pohon Ek yaitu ... mengapa jam waktu ini membawanya ke masa lalu dimana dirinya masih hidup sebagai peri pohon? Adakah alasannya? Cernunnos memahami kegelisahaan wanita ini, dia segera mengatakan, “kau bingung, aku tahu itu.” “Hal yang aneh lain adalah mengapa aku terlempar ke masa ini, Keno?” tanya Amy masih dengan kondisi kening mengerut. Dia sampai menahan napas karena terasa tidak tenang sebelum semuanya terungkap. Cernunnos berpikir sejenak, lalu memberikan jawaban, “menurut pendapatku, mungkin di tahun ini adalah kejadian yang berkaitan dengan takdir kita di masa depan. Kau tadi bilang aku mengingatmu saat kita pertama bertemu, artinya aku tidak mati dalam rentang serangan Thorn di masa ini, dan waktu kau berubah menjadi manusia. Thorn pun masih ada di masa depan— artinya ...” “Dia mungkin menyerang di masa ini, dan kemudian juga di masa depan.” Amy menyadari kemungkinan dia kembali ke masa p*********n yang di lakukan Thorn di masa ketika Cernunnos masih kuat, gagah dan memiliki tanduk sempurna. “Bagaimana ini? Bagaimana kalau Keno— kau diserang saat aku terjebak disini? Keno, kembalikan aku ke masa depan, aku harus menemaninya, dia lemah gara-gara selaku melindungiku, tolonglah.” “Amy ...” Mata Amy berair, dia tersenyum pedih dengan wajah amat memohon. Dia tidak pernah merasakan penyesalan sebesar ini sebelumnya. “Aku mencintaimu, jika di masa ini kau berhasil selamat dari serangan Thorn, maka aku harus kembali ke masa depan dan menyelamatkanmu dari serangannya.” “Amy, dengar ... seperti yang sudah kubilang, aku tidak bisa mengerdalikan jam itu. Dia muncul karena itu waktunya ... artinya kau masih dibutuhkan disini.” “Tapi apa yang harus kulakukan?” “Kau panik karena mengira aku yang ada di masa depan mungkin diserang, bukan? Kau jangan khawatir, waktu di masa lalu tidak berpengaruh saat kau kembali ke masa depan.” “Maksudmu?” “Amy, ini masa lalu, artinya ini sudah terjadi di garis waktumu, dan saat kau kembali ... kau akan tetap berada di garis waktu sebelum kau masuk ke jam itu.” “Berarti saat aku sedang mencari buku di perpustakaan dengan Pea?” “Benar.” “Jadi untuk sementara aku harus melakukan apa?” “Kau bilang aku tertidur bukan? Aku bisa bangun asalkan aku meminum ramuan yang akan kubuatkan sendiri.” “Kau bisa?” “Ya, untuk sementara aku juga harus membuat pelindung di tepian hutan magis ini. Kita juga akan mencari bahan-bahan ramuan yang membangunkanku. Kau mau membantuku?” “Tentu saja. Akan kubantu apapun yang aku bisa, aku rela melakukan apapun untuk menbuatmu bangun.” “Itu baru gadisku.” Cernunnos tersenyum manis mendengar ucapan manis dari Amy. Sikapnya yang blak-blakan ini membuat wanita yang dia ajak bicara menjadi tersipu malu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN