16. Peri Kegelapan

1242 Kata
Cernunnos menunjukkan halaman yang menunjukkan tentang kebenaran tentang peri penghuni hutan atau para peri kegelapan (elf). Dia menuding ke gambar karakter dan pada bagian bawahnya terdapat penjelasan tentang apa mereka, dan segala pengetahuan lain. Akan tetapi tidak bisa dibaca sama sekali oleh Amy karena memang tidak menggunakan abjad yang umum. Bahkan dia ragu itu bahasa manusia karena terlihat seperti semacam kode. “Bahasa apa ini?” tanya Amy. Cernunnos malah langsung membahas, “tak perlu dibahas, intinya ini adalah peri—bukan penggambaran seperti yang dilakukan manusia, mereka seperti ...” “Elf, aku tahu.” “Ya, Amy, mereka elf, dan sebagian dari mereka berbahaya.” “Berbahaya?” “Di hutan magis seperti ini makhluk seperti mereka ada dan banyak sekali, itulah kenapa aku tercipta, untuk menjaga keseimbangan mereka dengan dunia manusia.” “Jadi kau semacam penjaga hutan, maksudku ...” “Ya semacam itu, itu juga alasan aku tak bisa pergi terlalu lama dari hutan, untuk membuat mereka tetap terkurung dan bersembunyi di balik bayang-bayang. Mereka akan tetap seperti ini asalkan aku tetap berada di hutan. Aku semacam sumber rasa takut mereka.” “Oke, lalu?” “Dan ada satu Elf yang bisa kita anggap sebagai pemimpin mereak, raja kegelapan, namanya Thorn, dialah yang selalu berusaha menyerangku, membantaiku dan semua makhluk magis disini. Dia adalah sumber marabahaya.” “Thorn, jadi dia yang menyerangku dan kau saat di apartemen?” “Aku tak tahu pastinya, tapi mengingat penjelasanmu, makaada kemungkinan itu memang dia—karean selama kami bertarung, dia tidak pernah berhasil kubunuh.” “Sebentar, Keno, sebenarnya kenapa dia terus menyerangmu? Apa karena takut? Apa dia ingin bebas dari sini dengan leluasa maka kau harus dibunuh terlebih dahulu? Tapi bukanlah Elf memang lebih baik tinggal bersama alam?” “Dia punya beberapa alasan, pertama, kau benar, dia ingin melenyapkanku agar tak menjadi sumber rasa takut di hutan. Kedua, aku menjaga keseimbangan hutan dan memimpin pasukan binatang dan golem penjaga hutan ...” “Golem?” “Nanti saja.” “Lanjutkan.” “Ketiga, dia ingin masuk ke wilayahku yang dilindungi ini dan merebut batang pohon Ek kami, kau pasti sudah tahu tentang pohon ajaib Ek di belakang bangunan ini ‘kan? Itu adalah pohon abadi.” “Aku mendengar di dalam mitologi Celtik, pohon Ek memang sangat keramat.” “Ya, dan Thorn ingin merebutnya dariku. Itu tidak mungkin kubiarkan karena selain pohon itu berpenghuni, pohon itu memberikan energi magis agar tempat ini ternaungi oleh pelindung sihir alami. Intinya pohon itu adalah pelindung dari serangan kegelapan.” “Lalu?” “Thorn juga dendam kepada manusia, dia tidak menyukai manusia sejak ratusan tahun silam karena keluarganya yang tewas di tangan sejumlah pemburu manusia. Sejak saat itu berambisi menguasai hutan, mengumpulkan pasukan dan menyerangku.” “Dia membenci manusia?” “Ya.” “Jadi itu alasan dia menyerangmu, agar bebas darimu, bisa mencuri pohon Ek ajaib, sebentar—untuk apa batang pohon itu?” “Membuat senjata.” “s*****a?” “Sihir di pohon itu sangat kuat, Amy, aku tak bisa membayangkan kalau mereka mendapatkannya. Aku sendiri tidak bisa akan bisa mengalahkannya.” “Menakutkan sekali.” “Tapi kau jangan khawatir, selama aku hidup dan sepertinya selamanya ... aku akan melindungi pohon itu.” Cernunnos tampak serius ketika mengatakan itu. Ia memandangi Amy dengan tatapan sungguh-sungguh. Dia benar-benar tulus ingin melindungi pohon serta peri pohon yang berada di dalamnya. “Itu pohon kehidupan, dan aku mencintainya.” Amy sedikit bingung mendengar kata cinta terhadap pohon tersebut. Dia bingung, tapi juga tidak mungkin cemburu pada sebuah pohon. Untuk menutupi rasa gugupnya, dia mendehem. “Aku juga cinta pohon.” Cernunnos tersenyum karena paham maksudnya. “Di dalamnya ada peri pohon.” “Hah?” Amy kaget, sekarang dia cemburu. “Maksudmu peri ...” “Seorang wanita yang cantik.” Amy teringat wanita yang masuk ke dalam batang pohon itu. Dadanya berdebar karena cemburu sekaligus kesal. Dia tidak percaya melihat raut wajah Cernunnos yang kelihatan menahan tawa. Ingin sekali dia membaca jalan pikirannya. “Aku akan menganggap dia sebagai mantan kekasihmu.” “Ya ... bisa dibilang seperti itu.” Cernunnos semakin menahan tawa. “Aku tak percaya melihat calon pengantinku yang mendatangiku sendiri dari masa depan.” “Itu ... tidak lucu,” sahut Amy dengan pipi yang merona merah. Dia tidak mengerti, tapi digoda oleh pria ini membuat wajahnya panas akibat terbakar malu. Berulang kali dia meyakinkan kalau hanya jatuh cinta pada Keno-nya bukan pria ini. Ya, tapi akal sehatnya tak bisa menampik kalau Keno dan Cernunnos adalah sama saja. “Aku tak bercanda.” Keno menyentuh punggung tangan Amy. Dia bangga melihat Amy yang sama persis denagn Daireya-nya. Ya, satu jiwa, hanya berbeda raga. “Kau baik dan manis, aku bahagia melihatmu seperti ini, aku merasa tak melihat perbedaan darimu walaupun telah berubah.” “Eh, Keno? Aku tidak mengerti kau bicara apa?” “Tidak apa-apa.” Cernunnos melepaskan tangannya. “Aku rasa aku tidak seharusnya banyak menyentuhmu sekalipun kau pengantin di masa depanku, karena kau tahu sendiri—saat ini aku bersama peri pohon Ek itu.” Amy mendehem. “Aku tidak cemburu dan penasaran, tapi boleh aku tahu apakah di masa depan wanita elf itu masih ada?” “Daireya?” “Oh, namanya Daireya?” “Ya, dia Daireya, dan selama pohon itu hidup, dia pasti hidup.” Amy sedikit menerima keadaan ini. “Jadi kau akan menimbun selir elf di belakang Manor-mu suatu hari nanti sekalipun aku menerima pernikahan ini?” “Selir?” Cernunnos mengerutkan dahi. “Wanita simpanan!” ucap Amy agak keras. Cernunnos tertawa pelan. “Aku tidak menyimpan wanita manapun, Amy.” “Peri pohon maksudku.” “Tidak ada, percayalah.” Amy memberikan tatapan penuh selidik. Namun kemudian tersadar dan malu sendiri. Ini bukanlah Keno yang dinikahkan dengannya. “Eh, sudahlah jangan dibahas.” Tetap saja, wajahnya mendadak sendu karena memikirkan peri wanita yang menghini pohon Ek tadi. “Pohon Ek itu masih ada, artinya peri wanita tadi juga masih hidup.” “Kau mau penjelasan.” “Tidak.” “Yakin?” Cernunnos menyeringai. Amy menggeleng. “Kita membahas peri kegelapan bukan peri pohon-mu yang seksi itu.” Dia merebut buku Keno, lalu membalik halaman demi halaman yang penuh tulisan aneh. “Jadi, ayo kita bahas lagi tentang Thorn.” “Aku akan menceritakan tentang Daireya nanti.” Amy tidak tertarik mendengarkannya. Dia mengalihkan pembicaraan, “Keno, jika di masa depan Thorn tetap menyerang kami, artinya dia belum mati juga—dan mungkin kita harus membunuhnya sekarang.” “Amy, kita tidak bisa merusak alur waktu, percayalah apa yang terjadi di masa depan itu berhubungan dengan masa lalu dan masa kini. Takdir seseorang itu seperti benang. Jika kita ditakdirkan mati karena suatu sebab, walaupun kita berusaha mengubahnya—maka kita akan tetap mati dengan cara yang berbeda, sama saja.” “Aku bingung Keno, maksudku kau ... di masa depan tidak bangun juga, aku yakin itu karena aku, dan mungkin terjadi sesuatu antara dirimu dan Thorn, aku takut, apa yang harus kulakukan agar kau bangun.” “Oke, karena kita sudah tahu mengenai peri kegelapan, maka selanjutnya aku akan memberitahumu sesuatu lagi sebelum kita mencari agar aku bangun dari pemulihanku.” “Ada apa? Kau ingin memberitahu siapa diriku?” “Aku yakin dari tadi itu yang kau tunggu.” “Well, aku memang penasaran.” “Ya, kembali ke bahasan tadi, kau adalah Daireya.” “Hah?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN