13. Pohon Ek Ajaib

1286 Kata
Pohon Ek merupakan pohon sakral dalam mitologi Celtik. Menurut sejarah, mereka adalah inang atau tempat tinggal para peri. Ini fakta yang baru diketahui oleh Amy ketika membaca buku-buku di perpustakaan Keno. Menurut informasi dari Pea, dirinya berasal dari buah pohon ini— sebuah hal yang belum bisa dia percayai. Sekalipun dia mempercayai keberadaan makhluk lain, bahkan seorang dewa sekalipun, tapi bayi manusia dari buah pohon ek yang kecil itu terdengar begitu mustahil. Ingatan-ingatan masa lalu menyelimuti Amy sewaktu berada di kegelapan. Ya, tubuhnya seolah tengah ditarik mundur oleh tangan-tangan akar pohon misterius. Cahaya di depan matanya, cahaya dari luar telah menipis, dan hilang seutuhnya. Dia terperangkap di dalam lingkaran waktu dalam jam berdiri magis. Suara Pea yang meneriakkan namanya semakin menjauh, lalu ikut lenyap. Amy tak tahu apapun lagi. Tubuhnya bagaikan melayang, tak bisa bergerak, akar-akar yang menariknya tak terasa lagi. Dia tak bisa melihat apapun, segalanya hitam, tak ada cahaya maupun suara. Akan tetapi anehnya, dia malah merasa begitu damai seolah berada mengambang di air danau yang tenang. Ketakutan dan kekhawatirannya juga telah menghilang. Aroma bunga-bunga berangsur-angsur memasuki lubang hidungnya. Wewangian itu semakin menentramkan jiwanya. Ada apa ini? Dimana aku? Dimana Keno? Apa yang kulakukan? Kenapa aku tak bisa bergerak?, tanyanya dalam hati. Dia tak bisa melakukan apapun, tubuhnya tetap melayang di kegelapan. Ia ingin berteriak minta tolong, namun bibirnya terkatup rapat. Ia tidak tahu berapa lama merasakan ketenangan tersebut, tapi lambat laun tubuhnya semakin berat— berat seperti ada benda tak kasat mata yang tengah mendorong dadanya mundur— Mundur— hingga dimuntahkan oleh sebuah batang pohon Ek raksasa. Ya, tiba-tina saja tubuhnya keluar dari batang pohon yang ajaibnya membelah diri.  Dia didorong keluar sampai terjatuh di tepi danau dekat pohon tersebut. Setelah itu, belahan pada batang pohonnya menutup kembali. Amy tertegun di hadapan pohon berbatang besar dan tinggi ini. Dia mendongak, sebagian wajahnya tersorot oleh cahaya matahari siang yang terik. Pandangan matanya terarah pada lebat dedaunan yang ditopang pohon itu, bahkan sampai ranting-ranting tidak kelihatan. Saking takjubnya, ia kehabisan kata-kata. Pohon Ek ini berdiri di tengah hutan yang asing. Segala pohon kecil, semak belukar dan bunga yang tumbuh rimbun itu sama sekali tidak dikenal. Amy meremas dadanya yang berdebar. Perasaan aneh barusan sangat familiar, ia merasa nyaman di kegelapan, ya— rasanya seperti seorang bayi yang berada di kandungan ibunya. “Ada apa ini?” Ia sudah bisa bicara, tapi masih merasa begitu rapuh. Tak mau berlama-lama, dia segera berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke berbagai arah. “Dimana ini? Bagaimana caranya kembali? Apa yang harus kulakukan?” Tak berselang lama, ada suara orang bercakap-cakap. Amy lantas berlari ke arah sebaliknya dan bersembunyi di balik semak paling rimbun. Ia tak tahu apapun tentang tumbuhan disini, jadi dia berusaha tak menyentuh daun-daun yang berbentuk segitiga serta benalu ungu yang melingkari pohon-pohon itu. Aneh sekali, Ia membantin sembari melihat sekitar sepatunya berpijak adalah rumput keriting aneh. Dia jijik sendiri karena seperti menginjak ribuan cacing. Ketika dia berjongkok, pundaknya bergetar— terlalu resah. Dia mengintip di celah semak, tepat ke arah dua orang, pria dan wanita, yang berjalan mendekati pohon Ek raksasa itu. Yang membuatnya kaget adalah pria itu sangat mirip dengan Keno, hanya saja— memiliki tanduk coklat tua dengan bentuk layaknya rusa. “Tidak mungkin ... siapa itu? Tanduknya Keno sudah—” Amy membungkam mulutnya karena merasakan hembusan angin menerpa dirinya dengan sengaja. Dia ketakutan, bagaimana kalau mereka tahu keberadaannya? Bagaimana kalau itu bukan Keno? Pria bertanduk itu menoleh ke arah semak tempat Amy bersembunyi. Tubuh tegapnya terbungkus oleh jubah coklat yang terjuntai hingga tanah, ya— kaki telanjangnya saja hanya terlihat ketika berjalan. Dia memiliki pupil mata berwarna hijau cerah seperti daging buah Kiwi. Wanita berjubah hijau yang berada di sampingnya menyentuh tangannya. “Cernunnos, ada apa?” Pria itu menggeleng. “Tak apa-apa.” Dia menuding pohon Ek. “Kau bilang lelah, sekarang tidurlah, aku harus memeriksa hutan— akhir-akhir ini banyak pemburu manusia yang dicelakai makhluk magis.” “Iya.” Cernunnos, di bilang?, Amy mengerutkan dahi, tidak paham sama sekali. Dia bisa mendebgar jelas pembicaraan mereka walauphn jaraknya cukup jauh. Entah mengapa dia merasa seperti mengenang sesuatu. Ia melihat wanita itu dengan serius. Siapa dia? Kenapa dia memanggilnya Cernunnos? Apa itu artinya dia Keno? Tapi, t—tapi Keno— tak punya tanduk, dan kenapa aku bisa mendengar mereka? Jaraknya jauh 'kan!, teriaknya dalam hati. Mata wanita asing itu hijau bak daun, tubuh berkulit coklat terang seperti batang pohon yang masih muda, rambut pirang tua tergerai lurus memanjang hingga pinggang. Wanita yang seperti berusia dua puluh tahunan itu mempunyai wajah cantiknya tak masuk akal. Wanita itu melangkah masuk ke dalam batang pohon yang sebelumnya memuntahkan Amy. Lenyap dan menyatu— terlihat jelas dari dedaunan yang bergerak bebas tanpa adanya angin. Amy merasa tertekan. Dia tidak tahan lagielihat fenomena aneh yang terlalu mustahil. Dengan pelan-pelan, dia berdiri, berbalik, lalu bersiap kabur. “Tunggu.” Pria bertanduk ini tahu-tahu sudah di sebelah Amy. “Siapa kau?” Amy terloncat kaget. Dia mundur sampai punggungnya membentur pohon beracun. Akibatnya, benalu ungu yang hidup langsung menyerangnya. “Aaaah— apa ini? Singkirkan dariku!” Ia spontan menjauh, tapi kulitnya, dari mulai pipi, tangan dan pergelangan kaki yang tersentuh benalu itu langsung berubah menjadi ungu. Mirip sekali ketika terkena racun mematikan. Pria itu menyentuh kulit telapak tangan Amy, menyerap semua racunnya, membuat kulit wanita itu kembali mulus. “Jangan cemas, ini memang beracun, tapi sudah kubersihkan.” Amy masih waspada. Dia menoleh ke segala arah, tapi harapannya seolah hilang karena dia berada di tengah antah berentah. Hutan penuh tanaman aneh. Kepalanya pusing karena ranting-rantingnya terus bergerak sesuka hati. “Kau manusia?” heran pria itu mundur untuk menjaga jarak agar Amy tenang. Kerutan di dahinya terbentuk pertanda heran. Baru kali ini ada manusia yang tidak pingsan setelah menyadari keberadaannya. “Cernunnos, aku tahu siapa kau.” Amy memperhatikannya, dan perlajan mengira dirinya mungkin ada di mimpi dewa hutan itu. “Oh, apa ini mimpimu, Keno? Jika iya— cepatlah bangun. Jangan membuatku khawatir.” Pria ini menjadi kian bingung. Dia memang seorang Cernunnos, tapi dia yakin tak mengenali sosok Amy, terlebih dari kaum manusia. Selama ini dia menghabiskan waktu di hutan. Manusia tak pernah melihat wujudnya secara langsung. “Aku tak mengenalmu, dan sepertinya kau tak terlalu terkejut dengan wujudku— manusia normal akan pingsan,” katanya. Amy melirik ke benalu ungu yang masih ingin melilitnya. “Jujur saja, aku lebih takut pada tanaman disini, dimana ini? Kenapa aku disini? Ini mimpimu 'kan? Cepatlah bangun, maafkan aku, oke, aku salah, aku tahu— selama ini aku hidup di kota, dan kau tiba-tiba hadir dan bimsalabim bisa menumbuhkan pohon, jelas saja aku takut ... awalnya, tapi sekarang tidak.” Tanpa malu sedikitpun, dia meraih kedua tangan Cernunnos. “Tolong maafkan aku, aku tahu aku salah, sangat salah— maka dari itu, cepatlah bangun, dan jelaskan, siapa sebenarnya aku? Hanya kau yang tahu— kakekku hanya tahu sebagian saja, dan ini membuatku penasarN setengah mati.” Cernunnos memandang tangannya yang disentuh manusia. Dia merasa sangat aneh, rasanya tidak asing. Namun, segala perkataan Amy tidak dia pahami sedikitpun. “Aneh sekali, aku yakin sebagian diriku tidak menjadi ular magis dan membiarkan manusia masuk ke kawasan magis ini, tapi kau— kau—” Dia memandang mata Amy dengan sungguh-sungguh. “Kau bisa masuk ke sini?” “Ular? Menjadi ular?” ulang Amy yang mendadak teringat ular penuntun jalan. “Oh. Kau— kau ular itu? Kau yang menuntunku ke rumahmu— bukan, bukan itu masalahnya sekarang, Keno, masalahnya bagaimana kita bisa keluar dari sini?” Cernunnos mendadak tersenyum. Pandangan matanya berubah, tak dipenuhi kebingungan lagi. Malahan, dia merasa lega akan sesuatu. “Tenanglah, kurasa kau bukan manusia biasa, jadi pertama sebaiknya kau ke kediamanku dahulu.” Tiba-tiba seekor semut hitam kecil menggigit kulit sekitar mata kaki Amy. Seketika itu pula, rasa panas menjalar ke seluruh tubuh hingga membuatnya tak sadarkan diri. Cernunnos memeganginya. Aroma rambut Any begitu menentramkan— ini adalah bau peri hutan penghuni Ek yang selalu ia cintai. “Daireya?” Sebelum pergi, dia sempat menoleh ke arah pohon Ek raksasa yang barusan dimasuki oleh wanita yang dia maksud. —————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN