12. Terjerat

1190 Kata
Perpustakaan yang didatangi oleh Amy dan Pea sangatlah luas, berbentuk melingkar dengan atap meruncing di titik tengah, ciri khas atap kubah. Rak buku berjajar rapi, nyaris setinggi langit-langit, ribuan buku dengan sampul berbagai warna tampak memadatinya. Kotor, gelap dan sunyi. Ketiga hal ini mampu mendeskripsikan ruangan ini secara keseluruhan. Debu menumpul di mana-mana, tak hanya di lantai dan meja-meja baca, melainkan di udara. Pencahayaan yang minim karena jendela telah terselimut kelambu putih. Sementara itu, tempat ini juga luar biasa kesunyian. Suara langkah kaki Amy saat masuk saja sampai mampu mengeluarkan gema di antara tembok. "Maaf, Nona, bangunan ini menyesuaikan kondisi dari pemiliknya yaitu Tuan Cernunnos, semuanya jadi suram karena beliau tertidur," terang Pea yang langsung melompat lincah menuju ke kelambu jendela, kemudian menarik tali yang tersambung dengan alat penyingkap. Walaupun kondisi luar bangunan juga sama gelapnya, akan tetapi sedikit menyumbang pencahyaan di ruangan itu. "Sangat luas, aku penasaran, apa Keno membaca semua buku-buku ini? Memangnya iya?" Amy dipenuhi rasa ingin tahu. Ia baru mengenal Keno dalam beberapa hari saja, namun ingin sekali mengetahui kegiatan kesehariannya. Perasaannya makin menggebu setelah melihat pria itu tertidur tanpa bisa dibangunkan dari luar. Dia bertekad mencari cara untuk membuatnya membuka mata, rahasianya- jati dirinya- hanya diketahui oleh sang dewa hutan, Cernunnos. Siapa aku?, pertanyaan itu adalah pertanyaan paling utama yang akan dia ucapkan. "Tuan Cernunnos suka membaca, lagipula dia menghabiskan banyak waktu sendirian, jadi tak heran dia selalu mengoleksi buku-buku ini- sebagian besar para burung mencurinya dari dunia luar,"sahut Pea menjelaskan dari mana asal semua buku ini, "namun, ada sebagian buku yang memang hanya bisa dibuka oleh Tuan sendiri." "Tapi ini banyak sekali, dan kita tak punya petunjuk memulainya dari mana." Amy mendekati salah satu rak terdekat. "Ada ribuan buku dan hampir semua sampulnya tak memiliki judul. Ini seperti menjatuhkan diri ke timbunan rumput." "Gunakan naluri anda, Nona, anda dewa hutan, saya sering melihat Tuan Cernunnos menggunakan nalurinya ketika mencari salah satu buku penting. Terkadang, buku itu terselip dan sulit ditemukan hanya dengan pandangan mata. Buku dewa itu hanya menunjukkan diri pada dewa, jadi anda mungkin bisa." Amy mulai meraba buku-buku asing itu. Dia sama sekali tidak memahami apa yang dijelaskan oleh si tuan tupai. Perasaannya masih kalut, tak bisa berkonsentrasi. Rasa bersalah menggelayutinya makin dalam. Keno, Keno, Keno, nama itu terus terpanggil dalam dirinya. "Aku ragu dengan saranmu," gumamnya kemudian, masih berusaha mencari buku yang dimaksud. "Ngomong-ngomong, Pea, apa benar Keno itu tidak bisa mati?" Pea menjawab serius, "sebenarnya Tuan bisa meninggal dunia, tapi tetap akan hidup lagi, Nona, dia dewa, dewa akan bangkit lagi setelah tiada. Itu sudah perputaran reinkarnasi tanpa henti. Dewa ada seiring dengan kebutuhan dunia ini- selama hutan ada, maka dewa itu akan selalu ada. Kehidupan seluruh pohon di dunia ini adalah jantung bagi dewa Cernunnos. Dia takkan binasa jika ada satu pohon yang masih hidup di dunia." "Aku merasa aneh-" kata Amy penasaran dengan kehidupan demi kehidupan yang dijalani oleh Keno. "Apa dia ingat masa lalunya kalau sudah bereinkanasi?" "Sayangnya tidak, Nona, saya pernah dengar dari Tuan, dia tak ingat dengan kehidupannya setelah mengalami kematian." "Apa yang bisa menyebabkan dia- ya meninggal dunia?" "Tentu saja saat bertarung dengan makhluk hitam lain, hutan adalah tempat magis, Nona, hal-hal semacam itu eksis. Sihir gelap adalah musuh bagi makhluk hidup. Ada sebuah tempat di sini, dimana penghuninya adalah para peri hitam, mereka tinggal di hutan mati, mati sungguhan, pohonnya mati, udaranya pun mati. Merekalah yang paling sering berseteru dengan Tuan." "Elf?" "Ya, Nona." "Apa tujuan mereka selalu ingin menyakiti Keno?" "Eh, saya rasa anda bertanya saja pada Tuan sendiri. Saya tak terlalu mengetahui konflik ribuan tahun ini." "Ribuan tahun?" "Dan tak hanya peri, sebenarnya banyak sekali musuh di balik kabut, dan Tuanlah yang berusaha mengimbangi kehidupan para makhluk gelap dengan dunia manusia." "Lalu sebenarnya berapa usia Keno yang sekarang?" "Mengenai itu- sangat lama, dan saya tak tahu jelasnya. Para hewan magis tertua tak tahu kehidupan Tuan Cernunnos sebelumnya, jadi bisa dipastikan sudah ribuan tahun. Tuan kura-kura penghuni sungai bening dekat pohon Ek ajaib berusia seribu tahun, yang tertua disini, dia mengaku melayani Tuan Cernunnos yang ini sejak lahir." "Lebih dari seribu tahun berarti? Dan dia selalu tampan seperti pemuda dua puluh tahunan? Dan selama itu jarang keluar hutan?" "Ya, begitulah, Nona." "Tapi mengapa dia mengatakan tentang diriku- maksudku, aku baru hidup selama dua puluh dua tahun, tapi dia seolah merasa aku ini jodoh yang ditunggu, aku tidak paham, dia bilang soal ramalan dewa- dan dewa harus menurutinya." "Oh, ramalan, ya- sudah saya bilang, bukan? Itu karena anda memang jodohnya dari buah pohon ek ajaib." "Ini membingungkan." "Saya juga tak tahu. Mungkin anda bisa menanyakannya pada kura-kura magis, dia pasti mengetahui rahasia ramalan anda dan Tuan Cernunnos." "Ya, tapi sekarang yang terpenting adalah membangunkan dia. Aku takkan bisa tenang sebelum dia bisa bangun, ini salahku- aku egois, aku membuatnya harus kekuar hutan-" ucap Amy tertunduk lemas. Dia mengambil sebuah buku secara acak, cukup tebal, bersampul hijau gelap. Pilihannya itu bukan berdasarkan atas naluri dewa yang dimaksud oleh Pea, melainkan karena teringat oleh mata indah Keno. Sejak melihatnya, dia merasa warna favoritnya sekarang adalah hijau. Hijau. Hijau. Hijau. Dia memilih buku-buku bersampul hijau, membukanya satu per satu, mencari bahan bahasan yang penting. Namun semua pilihannya itu hanyalah buku-buku kuno tentang arsitektur, seni, perkembangan jaman, dan bahkan buku cerita anak-anak. Tidak ada yang membahas tentang dewa hutan, mitologi Celtik, ataupun tentang Cernunnos itu sendiri. Sudah satu jam lamanya dia mencari buku yang bisa menvantu mereka membangunkan sang dewa. Tuan tupai pun kelihatan sudah lelah melompati rak demi rak, membuka satu per satu buku, tak ada hasilnya. "Keno-" Amy mengembalikan buku terakhir yang dia baca. Ia kembali termenung di depan rak, mengingat kembali kebersamaannya dengan sang dewa. Kelakuan polosnya, senyum tulusnya, dan kekuatan alamnya yang luar biasa. Ia ingin melihat mata hijau pria itu lagi, namun bagaimana caranya? Tiba-tiba ada suara denting jam di balik rak, sumbernya berada di pojok ruangan, sebuah jam dinding berdiri (lemari jam) bertinggi tubuh manusia dewasa. Benda kayu ini berwarna coklat tua, sebagian terlilit akar hidup yang muncul dari bawah lantai. Angka pada jam tersebut menggunakan aksara Romawi, dan saat ini telah menunjukkan waktu dua siang. "Apa itu, Pea?" tanya Amy mendekat. "Jam ajaib, itu selalu muncul tepat di jam dua, Nona, sejak pohon ek meredup, seperti peringatan atau semacamnya," jawab Pea melompat ke sana. "Pohon ek meredup? Apa ini pohon yang sama dengan tempatku lahir- yang katamu itu?" "Ya, tapi saya tak tahu maksunya bagaimana- sebaiknya anda menjauhi jam itu, Nona, biasanya menghilang dan muncul, agak mencurigakan." Amy malah semakin menghampirinya. Dia perlahan menyentuh akar yang membelit lemari itu. Aneh. Kulit akar ini terasa hangat dan berdenyut-denyut layaknya detak jantung. "Kau benar, ini mencurigakan-" ucapnya lantas menarik tangan lagi. kepalanya dipenuhi rasa penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Pea kembali ke rak lain. "Saya akan mencari buku lainnya, Nona." Akan tetapi begitu Amy berbalik badan, akar yang membelit lemari jam tesebut merambat, lalu menangkap kakinya, melingkarinya erat-erat. Sulur akar-akar lain ikut membelit tangan, perut, d**a. Dia pun ditarik masuk ke dalam lemari jam. "Pea, Peaa! Peaaaa! Ah tolong!" jeritnya panik, tak bisa bergerak sama sekali. Dia terus berteriak sampai mulutnya terbungkap akar. Kabut hitam mengintari mereka, dan perlahan menghilangkannya. ------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN