11. Pangeran Tidur

1366 Kata
Demi Keno, Amy melawan segala rasa takutnya. Dia yakin ada yang tidak beres dengan bangunan ini. Semuanya seolah memiliki nyawa. Dia mendaki anak tangga itu. Sandal tadi tetap berjalan ke arah selatan. "Keno? Apa kau marah padaku?" tanya Amy sangat gelisah. Dia tak melihat apapun lagi. "Aku tahu aku—egois, maafkan aku, kau baik sekali, harusnya kakekku bercerita dari awal tentang pertunangan itu, aku hanya belum siap, kita bisa pelan-pelan membahas ini, tolong beritahu aku semuanya, jangan menutupi masalah ini lagi." Ia tiba di lantai atas. Pandangannya teredar ke berbagai arah. Banyak sekali ruangan berpintu aneh. Ya, semua pintunya memiliki ujung atas yang lonjong dan dipenuhi rambatan akar yang menyeruak dari dalam ubin lantai. Pintu pondok penyihir, itulah yang terbesit dalam benak Amy. Akar yang menyelimuti permukaannya bak sebuah segel agar tak dibuka. Ketimbang sebuah pintu kamar, mereka lebih cocok disebut pintu penjara. "Bagaimana caranya aku melihat dalamnya?" Amy mendekati salah satu pintu ruangan. "Ini tempat apa sebenarnya? Kenapa suram sekali?" Tap. Tap. Suara langkah kaki kembali terdengar. Namun, tidak jelas dari arah mana. "Halo?" Amy berputar untuk melihat keadaan. Keadaan pun menjadi sunyi senyap. Bulu tengkuknya merinding kembali. Ia tak mengerti, mengapa bisa berani menginjakkan kaki sendiri ke tempat asing begini? Apakah Keno benar-benar ada di sini? "Halo, Tuan Cernunnos~" sapa balik suara anak-anak tadi. Suara itu sangat dekat, dekat sekali. "Tuan!" Amy terlonjak kaget. Ia berbalik badan dengan d**a berdebar kencang. Tak ada siapapun yang tertangkap matanya. Dia mulai panik. "Keno, aku sungguh tidak suka ini—." "Saya di sini, Tuanku," kata suara itu di depan kaki Amy. Seekor tupai kecil yang tingginya tak sampai betis. Begitu kecil, mungil, lucu dan bibirnya bergerak saat bicara bahasa manusia. Kaki Amy melangkah mundur hingga punggung merapat ke pintu. "Ya Tuhan, ada tupai bicara—apa ini karena aku keracunan bisa ular tadi?" "Tuanku, ada yang berbeda dengan anda." "Eh—eh—Tuan Tupai," apa dia jantan?, pikir Amy tidak bisa membedakan jenis kelamin binatang yang sedang berbicara dengannya. "Kenapa kau memanggilku Tuan Cernunnos? Aku bukan Cernunnos, aku Amy, aku—" Mendehem untuk menguatkan hati. "Aku tunangannya dan sekarang mencarinya, dimana dia?" "Oh! Tunangan? Anda si bayi manusia dari pohon ek ajaib?" Tupai itu terlihat mengingat-ingat, lalu mengendus kaki Amy dengan serius. "Anda juga mendapat tanduknya Pantas saja saya bisa merasakan Tuan Cernunnos dalam diri anda." Amy mengerutkan dahi. "Bayi dari pohon ek ajaib? Pohon ek? Pohon ek yang buahnya hanya sebesar jempol? Apa maksudnya itu?" Tupai itu mengacuhkannya dengan menuding pintu belakang Amy dengan tangan mungilnya "Silakan masuk, Nona, raga Tuan Cernunnos ada di dalam. Sejak kehilangan tanduk, dia menjadi lemah, jadi lebih banyak tidur untuk memulihkan tenaga, tapi sebagian dari dirinya juga masih menjelajahi hutan—makanya saya pikir itu anda." "Aku tidak mengerti." "Tidak masalah, Nona, masuk saja." Amy menelan ludah. "Tidak, tidak, aku tak mengerti ucapanmu yang mengatakan aku bayi dari pohon barusan? Apa maksudmu? Jelaskan!" "Lebih baik anda bertanya pada Tuan Cernunnos, saya tidak terlalu mengerti—keluarga tupai hutan magis hanya mengetahui rumor tersebut, tapi tidak memahaminya juga. Saya hanya mengetahui tunangan Tuan Cernunnos berasal dari buah pohon ek." Hah? Antara sedih, penasaran dan sangat bingung. Amy benar-benar sakit kepala. Perasaan campur aduk, satu-satunya yang bisa menjelaskan semua rahasia ini adalah Keno. "Kurasa aku harus bertanya serius padanya, dan kali ini—dia harus menjawabku, siapa dia dan siapa aku, penjelasan kakek sama sekali tidak berguna sekarang—apalagi yang kalian sembunyikan dariku!" Tupai itu mengangguk. "Oh iya, Nona, sebelumya maaf terlambat, salam kenal, nama saya Pea, tupai magis tuan Cernunnos." Pee?, ulang Amy kaget dalam hati. Dia salah dengar Pea menjadi Pee (kencing). "—Nut," tambah tupai itu suara ceria. "Oh, peanut (kacang)." Amy paham seraya tersenyum manis. "Namaku Amy." "Cepat buka pintunya, Nona, pintu itu hanya bisa dibuka oleh dewa, berkat tanduk itu, anda sudah jadi setengah dewa, bukan?" Amy menyentuh akar yang menyelimuti pintu itu dengan perasaan gundah. Dia makin tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalah. Ada sesuatu yang membuat hatinya makin sakit. Ia tidak mengingat Keno sama sekali, tapi entah mengapa dia merasa senantiasa bersamanya sebelum ini. Selain ingatan masa kecilnya yang hilang, sesuatu yang besar masih belum terkuak. Setelah mendengar ucapan tupai itu, Amy mempertanyakan eksistensinya di dunia ini. Siapa dirinya? Mengapa dia bisa hidup lagi? kenapa ingatan masa kecilnya tak terekam sama sekali? Apakah benar dia anggota keluarga Williams? Apa benar kakeknya adalah kakeknya? Apakah penjelasan kakeknya hanyalah kebohongan? Apa benar dia punya orang tua? Apakah dia manusia ataukah dia hanyalah tanduk dewa yang hidup atau malah berasal dari buah pohon? Mungkinkah tupai ini berkata jujur? Siapa dirinya? Pintu itu perlahan terbuka. "Keno?" panggil Amy lembut seraya menapakkan kaki masuk ke dalam. Sebuah ruangan luas yang begitu lembab nan gelap. Seluruh jendela tertutup oleh kelambu putih. Tembok-tembok telah dirambati akar yang datang dari mana-mana, dari ventilasi atas jendela ataupun menyeruak dari dalam lantai. Perabotan juga telah dililit oleh akar-akar hitam berlumut tersebut, termasuk ranjang sang dewa. Intinya suram dan mengerikan. Keno berbaring di atas ranjang serba putih itu. Wajahnya tampak damai dalam tidur itu. Dia bagaikan pangeran tidur yang menanti putri untuk membangunkannya. "Keno—" Amy menghampirinya. Dadanya sesak, sangat sulit bernapas. "Ada apa ini?" Dia berdiri di tepi ranjang, lalu menyentuh telapak tangan Keno. "Hei, bangunlah—" Hei, bangunlah ... Mendadak ada suara yang menggema di kepalanya. Dia yakin pernah mengatakan ini sebelumnya dan di situasi yang sama, tapi kapan? Bukankah hanya beberapa hari sejak dia bertemu dengan Keno? Apa dulu saat kecil pernah melihat Keno seperti ini? Tupai tadi naik ke atas ranjang. "Tuan Cernunnos takkan bangun kalau bukan keinginannya," katanya memandangi wajah dewa yang selalu menjaganya itu, "tapi kelihatannya tidak akan bangun dalam waktu dekat. Maafkan saya, Nona, kami para hewan magis sama sekali tidak bisa membangunkannya." "Apa maksudmu tidak akan bangun dalam waktu dekat?" "Anda lihat sendiri, bukan? Tempat ini menjadi suram, lembab, dan gelap. Semakin Tuan Cernunnos lama bangunnya, tempat ini akan menyatu dengan alam dengan artian buruk." "Artian buruk?" "Saat Tuan tertidur karena keinginanya, di sekitarnya akan tumbuh kehidupan, tapi ketika dia tertidur dalam kondisi terluka atau memulihkan tenaga—dia menyerap kehidupan, artinya menjadi suram, seperti ini." "Eh, seperti tumbuhan, kalau siang melepaskan oksigen dan menghisap karbondioksida, malamnya malah sebaliknya." "Intinya begitu, dan mengingat kondisi hutan magis yang semakin suram, lembab dan gelap, saya yakin luka Tuan Cernunnos parah sekali." "Tapi dia kelihatan seperti tidur—" Amy menyentuh kulit wajah Keno yang sangat dingin layaknya mayat. Ia buru-buru memeriksa denyut jantung dewa itu. "Astaga, apa yang terjadi padanya? Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" "Dia dewa hutan, Nona, memang begini caranya menyembuhkan diri. Kami ini adalah binatang magis yang melayaninya, tapi kami tidak pernah bisa melakukan apapun untuk menyembuhkannya." "Apa yang terjadi saat itu, Keno?" bisik Amy mengingat burung mati di apartemennya. Ia menatap sendu wajah Keno, lalu menyibakkan poni rambutnya dengan lembut. Perhatian yang ia curahkan begitu tulus layaknya seorang istri kepada suaminya. "Keno, bangunlah~" Pea tampak sedih pula. "Tuan biasanya bangun kalau dipanggil." "Pasti terjadi sesuatu, mungkin saja dia diserang—oh, aku tahu, peri itu, peri hutan itu, mungkin saja ini ulahnya." Amy ingin menangis karena menyadari keegoisannya. "Harusnya sejak serangan peri itu, aku berbicara dengannya." "Peri? Oh, musuh Tuan? Dia takkan pernah bisa melewati wilayah Tuan ini, tempat ini dijaga terowongan pohon maple magis, takkan bisa dilewati oleh kaum seperti mereka." "Terlalu banyak hal yang tidak kuketahui." Amy membelai punggung tangan Keno. Ia sekarang percaya seutuhnya tentang Keno yang seorang dewa. Sisi realistisnya mulai luntur. Dia tidak bisa menggunakan akal sehat untuk membuat Keno sadar. Pasti ada yang terjadi di apartemen saat aku pergi, pikirnya. "Pea, kita harus membuat Keno bangun, mungkin yang luka adalah jiwanya atau—entahlah, intinya kita harus mencari cara. Aku harus tahu semua tentang Keno." "Bagaimana kalau kita mencari tahu di perpustakaan, Nona, saya memang tidak tahu cara menyembuhkan Tuan, tapi mungkin saja Tuan punya buku magis tentang dirinya. Hampir seluruh ruangan pribadi Tuan Cernunnos tertutup bagi semua binatang magis, tapi anda berbeda, bukan? Anda pasti bisa membukanya," saran Pea yang jelas hanya ingin mengalihkan pembicaraan. Dia turun dari ranjang, lalu melompat keluar kamar ini. "Ayo, Nona, saya tunjukkan tempatnya!" "Tunggu—" Mereka berdua pergi ke ruangan tak jauh dari kamar Keno. Sebuah ruangan dengan pintu ganda yang tak dirambati akar. Pintu kayu ini memiliki ukiran bahasa sangat tinggi nan besar. Tubuh Amy saja seperti seekor semut saat berdiri di depannya. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN