07. Dewa dan Peri

1386 Kata
Mengajak Keno jalan-jalan di kota memang ide buruk sekaligus ide bagus. Amy senang berjalan bersamanya, sosok pria itu memang tampan, malahan mengalahkan semua teman prianya yang juga berprofesi sebagai model. Akan tetapi bentuk fisik yang tak diimbangi dengan sikap akan membuat orang mengurungkan niat mendekat. Ya, Keno, selalu saja mampir untuk memperhatikan benda-benda yang belum dia lihat selama di hutan. Dari mulai manekin yang terpajang di dalam toko, tong sampah, sepeda hingga kendaraan bermotor besar. “Keno, berhentilah membuat keajaiban—” pinta Amy melihat setiap pohon peneduh jalan di pinggir trotoar yang seolah menjadi segar saat dilewati Keno. Keno merebut kantong belanjaam Amy, lalu mengatakan, “kau marah terus padaku, padahal aku tidak melakukan apapun.” “Aku tidak marah, aku hanya takut kau dikira tukang sulap,” kata Amy beralasan. Padahal dia sebenarnya masih menyimpan kejengkelan atas ulah Keno di depan supermarket. “Memangnya kenapa? Kurasa sulap itu menyenangkan,” ucap Keno menjentikkan jarinya di depan Amy, lalu muncullah setangkai mawar di tangannya. Kejadian itu tidak masuk akal, sekejab mata, bunga sudah terlihat. Amy sampai berhenti berjalan karena kaget. Dia yakin itu bukanlah sulap, melainkan kejadian ajaib lain. Kepalanya pusing, masih tidak mau percaya adanya dunia fantasi. Dia menerima bunga itu, lalu menghirup aroma harumnya. “Ini sulap'kan? Kau sembunyikan bunga ini di balik lengan mantelmu?” Keno hanya mengangguk, tak mau membuat kepala wanita itu makin berputar. Dia sadar, untuk meraih hatinya, harus dengan perlahan. Menjadi normal sebagaimana manusia lain, itu yang ia inginkan. “Oke—” Amy berjalan kembali. “Ayo kita makan dan beli pakaian untukmu.” Keno sumringah. Sejak pertemuan mereka, hanya kali ini ucapan Amy terdengar lembut padanya. “Ayo.” Mereka masuk ke dalam sebuah kafe, menikmati pancake bersama. Keno berusaha tak menarik perhatian meskipun dia ingin sekali menanyakan nama-nama aneka kue yang tersedia di etalase. Sedangkan Amy juga tak mau wajahnya dilihat banyak orang. Apalagi kalau bukan dikarenakan berita skandalnya yang terlanjur menjamur di internet. Mereka yang mengenal aktor Tate Pearson, pasti akan dikaitkan dengan model Amy Williams. Kalau saja dia berada di New York, dia pasti akan diintai oleh banyak media. Berada di Sacramento sebenarnya bukan solusi, tapi setidaknya tak banyak orang yang mengetahuinya. Setelah sarapan, Amy mengajak Keno ke butik baju yang tak terlalu besar dekat apartemen. Dia memilih tempat yang jauh dari keramaian, pokoknya sejauh mungkin. Di sana, Keno sama sekali tidak mempermasalahkan berbagai yang dipilihkan oleh Amy. “Kau suka?” tanya Amy menunjukkan kemeja polos berwarna hijau. “Warnanya mirip dengan matamu.” “Aku suka.” Keno bahagia karena Amy menyukai matanya. “Aku sangat menyukaimu, Amy.” Amy mulai luluh pada senyuman itu. Keras hatinya menjadi melunak. Akan tetapi dia masih belum bisa menerima sebuah perjodohan. Tak ada kata pernikahan baginya sebelum sukses di kancah internasional. Untuk menutupi rasa malu, wanita ini mengambil kemeja lain yang ada di rak. Baju bermotif bunga-bunga berbahan halus nan lembut, khas dari hawaii. Keno langsung suka pada coraknya. Segala tentang alam memang menarik perhatian. “Aku mau ini juga.” “Tentu,” kata Amy mengangguk, dia berjalan ke display celana. “Ayo cari celana juga, dan jelas pakaian dalam— pilih sendiri.” Mereka berpencar, saling melihat pakaian lain. Keranjang belanja Amy sudah penuh dengan kemeja dan kaos baru. Dia sama sekali tak masalah menghabiskan uang demi Keno. Apalagi saat melihat pria itu kagum pada setiap motif baju yang menurutnya hebat. “Amy, lihat ini!” Keno terus-terusan ingin memperlihatkan kaos yang bergambar aneh, entah itu tengkorak, kepala kelinci, ataupun kalimat yang bermakna kotor. “Apa artinya ini?” Amy pura-pura tak melihat, daripada malu sendiri. “Keno, tempat umum.” “Maaf.” Keno menaruh baju-bajunya lagi. “Bajuku hanya terbatas, biasanya rubah mencuri dari rumah-rumah sekitar untukku.” Ia menuding mantelnya sendiri. “Ini dicuri saat sedang dijemur di belakang rumah. Bagus'kan? Para rubah memang paling ahli memilih pakaian untukku.” Amy tak ingin pembicaraan semacam ini terdengar orang, jadi dia segera menyeret Keno ke kasir. Kemudian membayar semua barang belanjaan mereka, dan buru-buru pergi. Mereka kembali pulang ke apartemen beberapa menit kemudian. Barang belanjaan mereka melimpah. Amy menaruh belanjaan dari supermarket ke belakang, sementara Keno duduk di antara pohon kecil ruang tengah bersama baju-baju barunya. “Amy, sungguh aku ingin berterimakasih, kalau kau mau— besok aku akan pulang ke hutan sebentar dan mengambil permata untuk mengganti uangmu,” kata Keno senang hingga membuat rumput di lantai kayu itu semakin bersemi. Amy mendekat dengan wajah penasaran. “Permata? Permata apa?” “Aku penguasa alam, aku pemilik batuan berharga itu—” kata Keno tersenyum bangga, “bahkan aku bisa memberimu bongkahan emas kalau mau.” “Penguasa alam, kedengarannya seram.” Amy malah merasa tengkuknya meremang. “Emas? Eh— entah kenapa rasanya kau seperti penambang illegal.” “Aku penjaga alam, itu sebenarnya milikku, manusia yang mengambilnya.” Amy ikut duduk di atas rumput dekat sofa. Dia masih kebingungan dengan sekitarnya. Apartemennya yang rapi, bersih dan indah, kini malah seperti hutan kecil hanya karena Keno tidur sehari. “Aku masih tidak percaya ini, Keno,” katanya menghela napas panjang, memperhatikan wajah Keno yang begitu segar, walaupun ia yakin pria ini bahkan belum menyentuh air. “Aku memang dewa, aku tidak tahu bagaimana caraku mengatakannya padamu agar percaya, segala bentuk hal yang kulakukan mungkin menurutmu bisa dijabarkan dengan fisika, tapi sungguh—” kata Keno mulai serius, “aku memang dewa Cernunnos, dewa hutan.” Amy mengerutkan dahi, sangat bingung. Ia mulai bertanya-tanya, apa alasan kakeknya sampai seperti ini? Lagipula bagaimana bisa kakeknya mengenal seorang dewa? Rahasia apa yang mereka semebunyikan darinya? “Jika aku menikahimu, apa aku masih bisa berkarir?” tanyanya pelan. Keno menggeleng. “Kau akan tinggal di hutan denganku, kita hanya sesekali keluar dari sana.” “Kenapa?” “Karena aku punya benda yang harus kulindungi. Ini saja aku keluar demi bisa dekat denganmu sebelum pernikahan. Aku tak bisa menjauh dari hutan terlalu lama, bukan karena aku yang melemah, tapi hutan akan menjadi lemah tanpaku.” Amy menggeleng cepat. “Kalau begitu, aku tidak bisa— kau bercanda? Menikahiku paksa, laku mengajakku tinggal di tengah hutan? Kau pikir kau itu Tarzan dan aku ini Jane?” “Aku Cernunnos dan kau Amy.” “Lebih baik kita jangan mengobrol.” Keno masih memasang wajah serius. “Ini serius, Amy, jika kau sudah bertemu denganku, maksimal dua bulan kita harus menikah, dan kau harus ikut denganku—” “Kenapa? Apa aku akan mati jika menolak?” kesal Amy tak tahan dengan omongan Keno yang seperti takut sendiri, “ini era dimana wanita bisa memilih, tolong jangan memaksa. Mungkin kita bisa diskusikan lagi—” “Tunggu sebentar,” sela Keno langsung berdiri, lalu berlari ke arah jendela yang menghadap ke belakang apartemen. Dari atas, pemandangan pohon-pohon dan semak membentang sangat jauh. Tak terlihat ada bangunan lain di belakang apartemen ini, hanya bukit tinggi yang ditumbuhi pohon ek. Angin berhembus kencang dari pepohona  itu. Sumbernya tidak jelas, namun yanh pasti angin itu bak sebuah kepala tangan yang menghempas ke tembok belakang apartemen. Dentuman keras menggetarkan bangunan itu selama beberapa detik. Lampu gantung begoyang, perabotan kecil yang ada di atas meja berjatuhan. “Gempa?” Amy panik sembari memeluk batang pohon kecil di sebelahnya. Dia memperhatikan sekitar. Beberapa barang yang terbuat dari besi seolah terseret ke arah jendela tempat Keno berdiri. Keno menaikkan tangannya, dan seketika itu pula ratusan akar sekitar tembok belakang apartemen ini yang menyeruak. Akar-akar itu tampak hidup, lalu merambati tembok itu hingga atap. Akar berbagai jenis itu membentuk seperti lapisan perlindungan yang takkan goyah sekalipun ada serangan badai. Seluruh jendela tertutup akar, membuat semua orang yang tinggal di sana melongo, takjub sekaligus bingung. Mereka sempat mengabadikan proses menjalarkan akar-akar itu sampai jendela tertutup rapat. Mata hijau Keno berkilatan. Dia menurunkan tangannya begitu jendela depannya telah  terlindungi oleh akar tebal. “Dia menemukanku,” kata Keno menoleh pada Amy yang ketakutan, lalu tersenyum, “tapi tidak apa-apa, dia hanya peri gelap. Dia mengincarku sejak aku menjadi lemah.” Amy mengelus d**a, berharap sesaknya tak datang lagi. Rasanya tersiksa sekali, dia tak menyangka penyakit masa kecilnya ini kambuh. “Peri?” ulangnya kemudian, satu-satunya penggambaran peri di kepalanya hanya Tinker Bell. “Apalagi maksudmu?” Keno berpikir sejenak. “Aku menyebutnya peri gelap. Kau tahu bukan, Amy? Mereka bertelinga runcing, penghuni hutan sama sepertiku.” “Aku hanya tahu peri itu Tinker Bell.” “Penghuni hutan itu banyak, peri sepertinya itu makhluk jahat, sedangkan aku adalah dewa yang baik.” Amy tertegun, memikirkan betapa konyolnya ucapan Keno. Peri, akar merambat, dewa hutan. Lengkap sudah dunia fantasi ini. Setelah menenangkan diri, dia berkata dengan datar, “aku— aku sibuk, besok ada jadwal pemotretan, kau urus saja perimu—” Dia jelas tak bisa mempercayai ini. Bagaimana mungkin makhluk seperti mereka tiba-tiba menampakkan diri di kerumunan manusia? Dia segera berjalan menuju kamar, menjauhi Keno, untuk mencari jalan tengah masalah ini. Dia tak mau hidup di hutan, terlebih ada makhluk jahat yang baru saja mampu menggetarkan gedung. —————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN