06. Ajakan Kencan

1423 Kata
Keno lebih memilih tidur di atas lantai ruang tengah. Jika berada di dalam kamar lain, dia merasa berpisah dengan Amy. Alhasil semalaman pula dia “menyatu dengan alam”. Saat dia memejamkan mata, embusan napasnya membawa kehidupan baru. Lantai kayu tempatnya merebahkan diri berubah menjadi lahan subur. Ya, kayu mati itu menjadi hidup, tumbuhan pun mulai berkecambah. Dalam beberapa jam saja, mereka tumbuh besar lalu membentuk pohon kecil. Rumput-rumput ikut bersemi di atas lantai, begitu hijau dan asri, mengalahkan fungsi karpet sendiri. Perabotan yang terbuat dari kayu ikut mengeluarkan jamur-jamur payung. Bahkan tembok ruangan itu juga dirambati benalu. Ketika Amy keluar kamar, lalu mendapati insiden ini, dia tak percaya Keno sedang diselimuti benalu tebal. “Ini hutan?” herannya. “Apa-apaan ini?” Keno bangun seraya menurunkan selimut benalu itu. “Selamat pagi, Amy. Kau cantik seperti biasa.” Amy memperhatikan lebah-lebah yang mulai membentuk sarang di bawah ranting pohon samping Keno. “Bagaimana bisa ada pohon di sini— tiga? Tiga pohon?” Keno berdiri, lalu membelai dahan mereka satu per satu. “Mereka pohon dari lantai kayumu.” “Bukan itu maksudku, kenapa bisa ada pohon di sini? Ini lantai apartemen!” “Oh, maafkan aku, Amy, aku dewa hutan, kejadian seperti ini selalu kejadian saat aku tidur. Maaf. Aku menyebutnya, menyatu dengan alam.” Amy merasakan kaki telanjangnya geli akibat rumput. “Ini tidak mungkin. Aku masih tidak percaya kau bisa mengendalikan kesuburan— ini tidak mungkin.” “Kenapa kita tidak sarapan saja?” tanya Keno menuding beberapa semak herbal yang tumbuh di dekat perabotan kayu. “Oh lihat, itu bisa dimakan loh.” “Tidak, terima kasih.” Suara lebah mendengung di telinga Amy. Dia sangat takut karena sarang lebahnya sudah sebesar kepala manusia. Bagaimana semalam bisa seperti itu? Keno paham. “Oh, jangan takut, mereka memberikan madunya pada kita— mereka bilang—” Dia mendengarkan suara lebah itu bersahut-sahutan, lalu menerjemahkan ucapan yang bisa ia dengar, “Selamat untuk pertunanganmu, dewa, 'panjang umur, dewa,' 'dia cantik sekali? Aku pernah melihatnya di majalah', 'kemarin dia pakai bikini, bukan?' 'sssttt, kemarin juga ada berita dia dengan pria lain—'” Amy melongo mendengarkan dengungan lebah dan terjemahan dari mulut Keno. “Apa ini? Mereka lebah atau tukang gossip?” Keno menoleh padanya. “Apa itu bikini?” “Pengetahuanmu kalah dengan lebah? Oh~ God.” Amy tak percaya mendengar pertanyaan itu. Ketimbang menjawab, dia memilih pergi. “Lebih baik aku belanja, kau mau ikut? Kita sarapan di luar.” ————— Karena lokasi supermarket dan apartemen sangatlah dekat, Amy memilih berjalan kaki. Ini adalah pertama kalinya, Keno diajak belanja di dunia manusia. Dia senang jalan beriringan dengan Amy di trotoar sepi, nembayangkan pernikahan mereka akan seperti ini nanti. Ketika bersandingan seperti itu, tinggi badan mereka terlihat jelas, Amy juga tak mengenakan hak tinggi. Wanita itu hanya sebatas setengah lengan atas Keno. “Kalau kita beli pakaian, kau mau berganti pakaian?” tanya Amy melirik mantel biru Keno yang entah berapa hari dipakai. Meskipun demikian, wangi tubuh pria ini seperti kuncup bunga mawar. Aneh. Keno mengangguk. “Apapun yang kau belikan, akan kupakai.” “Bagus, kau pria yang baik, jarang ada orang yang sepertimu, kuakui—” “Terima kasih.” “Tapi sayang, aku tetap tak mau menikah.” “Tapi kita harus menikah. Nanti ada bencana kalau tidak terjadi.” Keno sedikit sedih, tapi tetap tak ingin menunda pernikahan itu. Dia memikirkan cara lain yang mungkin bisa dilakukan agar Amy menyukainya. Di seberang jalan, seekor anjing pitbull lepas dari tali kekang tuannya. Dia berlari— menerjang Amy sembari menggonggong. Amy mundur, tapi terjungkal oleh akar pohon yang mendadak sudah tumbuh trotoar. Kejadian alam aneh ini seolah sudah direncanakan. Keno memeluknya agar tak jatuh. “Kau baik-baik saja?” Dadanya berdebar, dia pernah melihat adegan ini di sebuah majalah yang ia temukan di aliran sungai hutan. Romantis sekali. Amy menatap wajah Keno, lama sekali, satu-satunya yang terlintas di pikirannya sesaat setelah melihat pupil hijau indah itu adalah, es krim rasa kiwi. Semak depan rumah yang ada di samping mereka lantas tumbuh serta membentuk sebuah hati. Amy menyingkir dari Keno, lalu melirik ke anjing yang sudah kembali ke tuannya. “Sepertinya ini kerjaanmu ya?” Dia menggeleng cepat, jelas menyembunyikan dusta. Matanya melirik ke arah pepohonan yang menggugurkan daun di atas mereka, serta anjing itu. Mereka semua pura-pura tak tahu. Si pemilik anjing yang mengetahui kejadian alam ini kelihatan bingung. Dia mengucek matanya sambil bertanya-tanya, mengapa semak halaman rumah orang-orang berubah jadi hati? Amy segera menjauh sebelum terjadi keajaiban alam lain. Dia tidak biasa melihat hal semacam ini, dan berharap semua hanyalah mimpi. Tentu saja bukan. Sang dewa hutan masih mengikutinya. Dia salah fokus ke langit, burung-burung tampak berputar di atas. Setelah mendengar ocehan mereka, dia membalas, “terima kasih, kalian juga.” “Keno, jangan membuatku malu.” Amy menahan malu, ada beberapa orang di seberang jalan yang melihat ulah Keno. “Amy, lihat itu!” teriak Keno menuding seorang remaja sedang bermain skateboard dengan lihai di pinggir jalan. “Dia bisa menggunakan papan selancar di jalanan, kukira kita hanya menggunakan itu di air.” Remaja laki-laki itu makin mengebut, takut dengan teriakan dadakan barusan. “Itu namanya skateboard, ada roda di bawahnya, jangan berlebihan,” pinta Amy menarik lengan mantel Keno, berharap dia tidak membuat ulah di jalanan lagi. Mereka menyebrang ke arah supermarket besar. Lalu berjalan menuju troli dekat pintu masuk. Pengunjung tampak ramai, area parkir nyaris penuh. Bukan hanya itu, ternyata ada sekelompok orang yang berseragam serta memakai topi serba hijau dengan membawa spanduk bertuliskan: “Selamatkan hutan alam Willow” Mereka memberikan selebaran ajakan masyarakat untuk menentang rencana pembangunan apartemen di area hutan itu. Hutan itu— Hutan dimana Keno berada. “Itu—” Amy menatap Keno dengan cemas. “Serius?” Keno tersenyum pada wanita ini. “Tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasi ini.” Dua wanita penyebar selebaran itu terpana dengan sosok Keno. Mereka berebut menyerahkan kertas ajakan. “Tolong ikut tandatangani petisi ini ya, Mr. Sexy,” kata salah satu dari mereka. Keno menerimanya, lalu tersenyum. “Terima kasih, kalian baik sekali, aku suka kalian, Nona-Nona.” Panah cinta langsung menghujam hati kedua wanita itu. Dari mata turun ke hati. Mereka sungguh jatuh cinta sekarang. Apalagi suara Keno begitu lembut, senyumannya pun menggoda iman. “Aku juga menyukaimu, Mr. Sexy,” sahut si wanita berambut pirang seraya mengulurkan tangan, “namaku Brittany.” Keno menjabat tangan itu. “Aku bukan Mr. Sexy, namaku Cernunnos. Salam kenal.” “Nama apa itu? Seperti nama penyihir,” canda Brittany tertawa dengan terus mengedipkan mata. “Itu nama belakang atau depan?” Temannya, si rambut merah, lansung merebut tangan Keno. “Namaku Erica, Erica Falkes. Kau punya nomor yang bisa dihubungi? Apa kau model?” Britanny merebut tangan Keno lagi. “Aku belum selesai berkenalan.” Keno juga membiarkan tangannya ditarik-tarik. Dia merasa dua wanita ini baik hati. Baginya, siapapun yang mencintai alam, sudah sewajarnya akan mencintai dirinya juga. Kedua wanita itu saling beradumulut. Keno berkata ramah, “kalian masih muda dan menjadi pejuang alam, aku sungguh suka dengan kalian.” Dia hanya sekedar memuji, dua wanita itu menganggap itu ajakan masuk hotel. Sedangkan Amy yang kesal masuk ke dalam supermarket tanpa mempedulikan mereka. Sambil menggerutu para pria sama saja, dia mendorong troli ke arah rak sayuran. Suasana hati Amy berubah, itu bisa dirasakan Keno. Dia pun menyusulnya. “Amy, Amy, jangan tinggalkan aku.” “Mr. Cernunnos! Nomor ponsel!” ucap Erica seraya ikut masuk, tapi kerah bajunya diraih oleh kelompok lainnya. Keno masih menoleh ke belakang, bukan karena wanita itu, melainkan pintu otomatis supermarket. “Amy, lihat pintu itu bisa menutup dan terbuka sendiri, aku tidak merasakan adanya energi negatif disana,” ucapnya sembari terus mengekori sang tunangan. Amy menaruh beberapa sayuran ke dalam troli. Setelah memastikan tak ada pengunjung yang ada di rak sayuran, ia baru menjawab, “itu otomatis, dijalankan dengan sensor, tidak ada yang namanya sihir, jadi berhentilah bersikap begini.” “Ada sihir itu— kau yang tidak tahu, itu disebut energi negatif, lawan dari energi alam. Kekuatannya berbahaya.” “Blah, blah, blah, kenapa kau tidak bersantai saja di luar, menungguku belanja? Kau bisa merayu para pejuang alammu.” “Merayu? Merayu apa?” “Merayu kalau mereka baik dan suka pada mereka.” “Itu benar'kan?” Amy menatapnya serius. “Keno, kalau kau begitu pada setiap wanita, mereka akan salah paham. Seorang pria dewasa sepertimu, bertingkah begini— memuji mereka, itu namanya ajakan kencan. Sepedalaman apapun dirimu, kau pasti tahu makna kencan, bukan?” Keno tersenyum menatap rambut kecoklatan wanita itu. “Amy, kau cantik.” Amy menoleh dengan heran. Dengan sedikit malu, dia bertanya, “kenapa tiba-tiba memuji begitu?” “Kau bilang kalau memuji itu ajakan kencan?” “Hmm—” Jantung Amy berdebar-debar. “Lebih baik kau diam saja, kalau diam, nanti kubelikan es krim.” “Es krim?” “Sesuatu yang bisa kita senang, kebetulan, aku mendadak ingin makan rasa kiwi.” Amy teringat warna mata hijau Keno yang jernih, begitu segar dan mengingatkannya pada daging buah-buahan. Kiwi, melon, dan segalanya. “Oke. Aku mencintaimu.” Amy menghela napas panjang. “Kau tak perlu mengatakannya setiap menit, aku tidak bisa menarik kata-kataku. Kita tidak bisa menikah.” Keno hanya diam. ——————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN