05. Apa itu, Amy?

1202 Kata
“Apa itu, Amy?” Pertanyaan itu paling sering keluar dari bibir Keno. Dia terlalu penasaran dengan perabotan yang ada di dalam apartemen keluarga Williams. Lokasinya masih di daerah Sacramento, dekat dengan rumah sang kakek. Akan tetapi bangunan apartemen ini khusus berada dalam nuansa alam yang terbaik di sana. Di sekeliling adalah hutan nasional yang tak banyak pengunjung. Sungai-sungai kecil mengalir di sekitar gedung. Keno tak banyak protes. Dia lebih suka tinggal di dalam rumahnya sendiri. Namun demi menjalani perjanjian yang telah disetujui 22 tahun silam, dia rela tinggal sementara di kelilingi manusia lain. “Hei, jangan main di dapur, bisa-bisa kebakaran nanti,” pinta Amy melirik Keno yang masih sibuk memeriksa rak-rak dapur. Dia masih sibuk menggeret koper-koper ke kamarnya. Keno menoleh dengan menunjukkan mesin pemanggang roti. “Ini benda apa, Amy?” Karena tidak melihat, Amy asal menjawab, “Oven.” Dia benar-benar kepayahan untuk memindahkan lima koper di ruang tamu ke kamar. Keno kembali fokus pada benda-benda tajam yang ada di laci. “Amy, di sini banyak benda tajam, kurasa kau bisa terluka kalau di sini.” Dia pun membuka jendela, lalu membuang semua benda tajam itu keluar. “Amy, aku membuang semua benda tajamnya, kamu tidak boleh terluka.” Beruntung, tak ada orang yang ada di bawah. Hanya ada rerumputan kering. Apartemen mereka sendiri berada di lantai tiga. Cukup tinggi, tapi pemandangan alamnya jadi makin luas dilihat. Angin berhembus menerpa kulit wajah Keno. Karena keberadaannya, burung-burung berdatangan. Keno segera menutup kembali jendela itu sehingga para burung bertabrakan di kaca. “Kalian tak boleh mendekatiku kalau aku di sekitar manusia.” Paruh para burung itu masih mematuk kaca jendela, mata meraka tampak berbinar penuh rasa hormat. Mereka siap masuk panggangan jika itu yang diinginkan oleh “raja hutan” mereka. “Sebenarnya isi benda ini apa? Batu?” kesal Amy pada koper yang masih di ruang tamu. Dia iseng membukanya, penasaran— apa isi koper yang disiapkan kakeknya. Ternyata patung kayu berbentuk aneh, yang jelas ada tanduk di kepalanya. Cernunnos. Itu adalah batu pemujaan untuknya. “Entah kenapa aku mendadak ingin membakar benda ini di perapian,” gumamnya sambil menutup koper lagi. Keno tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. Kemampuan teleportasinya sama sekali tak terdeteksi, hanya satu kedipan saja. Amy terkejut dengannya. “Dengar, Alien NASA, jangan melakukan hal semacam itu di depan manusia biasa, aku takut tahu.” Pupil hijau Keno bercahaya seiring dengan koper-koper yang mulai terangkat. Tentu saja, dia menggerakkannya dengan pikiran, membuat mereka masuk ke dalam kamar satu per satu. Amy terdiam lama. Dia tersadar, inilah yang membuat peluru para penjahat itu memantul balik ke penembaknya. Telekinesis. Dugaannya benar, jelas sekali kalau itu telekinesis. Sebuah kemampuan yang mampu menggerakkan sesuatu dengan alam pikiran. Sama seperti teleportasi, telekinesis juga termasuk dalam lingkup metafisika. Amy berusaha untuk menyatukan hal yang tak masuk akal menjadi ilmiah. Bagaimana pun manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan alam, jadi dia yakin— sosok Cernunnos ini hanyalah memanfaatkan potensi terpendam manusia, bukan dewa. “Kau diam sekali, Amy? Kau baik-baik saja?” tanya Keno cemas, dia menyentuh kedua pipi tunangannya itu. “Kau sesak napas lagi?” Amy menyingkirkan tangan itu. Entah mengapa, dia seperti sangat terlindungi oleh sentuhan tangan itu. Akan tetapi di lain sisi, dia merasa tangan ini juga berbahaya. Dia meremas dadanya sambil memikirkan, mengapa ia merasa bimbang? Sebenarnya apa masa lalu yang sangat terlupakan? “Jauhi aku,” pintanya pelan. Dia memalingkan wajah dari Keno. Sekarang dia tak mau bercanda lagi, pernikahan semacam ini tidak masuk akal, apalagi calon suaminya adalah 'manusia' yang tak diketahui asal-usulnya. Memangnya Keno manusia? Keno hanya menatapnya. Amy berjalan masuk ke kamar lainnya, kamar yang berbeda dari banyak koper yang masuk. “Kita tidur di kamar yang berbeda. Mungkin maksud kakek agar kita bisa mendekatkan diri, tapi aku tak mau menikahi orang yang tak kukenal, maaf— dan lagipula, rasanya—” Dia memijat keningnya yang mendadak pusing. “—ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku benci.” Apa yang kulupakan?, pikirnya. Keno merasakan kebencian itu. Dia bisa merasakan kalau ada hawa negatif yang melingkupi makhluk hidup. “Amy, aku bukan musuhmu, aku melindungimu.” Amy menoleh. “Aku sama sekali tidak mengenalmu, dan kau sepertinya tak mau memberitahuku tentang masa lalu kita, iya'kan?” Dia mengingat-ingat masa kecilnya. “Aku mengingat jelas masa laluku, sebagian memang kabur— tapi jelas, kau tak ada di ingatan manapun.” “Itu bukan pembahasan yang menyenangkan.” “Kau tak mau menceritakannya?” “Aku lebih ingin tak membahasnya.” “Kau mau aku melupakanmu? Kukira untuk menikah, kita harus saling mengenal, kenapa kau merahasiakan sesuatu padaku?” “Aku takkan mengatakan apapun, Amy.” “Kalau begitu aku akan mencaritahunya sendiri.” “Sebaiknya kita fokus membahas orang-orang misterius yang mengincarmu, bisa saja kau dalam bahaya lagi. Kita akan bersama, masalahmu sekarang itu juga masalahku.” Amy tertegun sejenak, beetapa tak nyamannya dia jika membahas hal pernikahan. “Aku punya kehidupan sekarang, dan aku tak mau itu hancur— aku menghargai kebaikanmu, terima kasih, tapi sekalipun kau memang dewa hutan, aku tak bisa menikah hanya karena perjanjian karena itu namanya kau membeliku, dan aku tidak dijual.” “Amy, aku mengerti sifat keras kepalamu, tapi aku tidak bisa melanggar apa yang sudah kujanjikan. Saat bulan panen, kita akan menikah.” Keno tersenyum pada Amy, ia tertap bersikeras ingin menikah. “Semoga kita bisa bahagia.” “Jangan ganggu aku, aku akan tidur.” Keno memandang pada wanita itu, merasakan aura penolakan makin tinggi. “Kau tak bisa lari dari ini, kau tidak akan lari'kan?” “Kakekku membelamu, aku tak bisa membantah kakek, tapi bukan berarti aku tak punya segudang cara untuk membatalkan pertunangan sesat ini. Ini perang kita secara damai, aku tak mau menikah dalam waktu sebulan.” Amy bergegas masuk kamar. Dia tetap tegas tentang prinsipnya. Dia hidup mandiri setelah menjadi yatim piatu di usia yang cukup dini. Hidupnya seperti telah dideskripsikan dalam sebuah buku yang dia beri judul: hidup Amy Williams. Dan dalam buku tersebut, tidak ada rencana pernikahan di usia yang masih 22 tahun. Sekalipun dia menjalani hubungan, ia hanya mau menikah saat menjelang usia tiga puluh tahun. Akan tetapi tentu saja tidak berlaku dengan prinsip hidup dewa hutan. Dia hanya tahu perjanjian adalah perjanjian. Perjanjian yang telah dibuat itu sudah seperti aturan alam. Aturan alam tak boleh dibantah, jika dilanggar, maka akan terjadi bencana. Dia sudah berjanji menikahi Amy di umurnya yang ke 22 tahun, artinya cepat atau lambat, harus terwujud. Lagipula dia jelas punya alasan lain mengapa itu harus terjadi. “Dia keras kepala sekali, ternyata sifatnya masih sama sekalipun sudah dewasa—” ucap Keno sembari menyentuh sebelah tanduknya. “sekarang, selain topi apa yang bisa menutupi kepalaku?” Deretan semut dari sela-sela dinding mulai berbaris mendekati kaki Keno. Mereka makin banyak, dari puluhan, ratusan, lalu menjadi ribuan. Sang dewa hutan itu berjongkok sambil mengamati mereka. Selama ini dia jarang berkomunikasi dengan para semut pekerja. Para semut itu membentuk sebuah rambut palsu pria yang begoyang-goyang bak terkena angin. “Kalian pikir aku mau menggunakan Wig? Sama saja dengan topi.” Keno menjawab saran para semut. Semut itu membentuk selendang panjang. Keno menggeleng. “Aku pria, pria tak memakai selendang.” Sebuah gunting pun terbentuk dari ribuan semut itu. Sepertinya mereka ingin bercanda. “Kalian bisa saja.” Keno tertawa pelan. “Kalian mau aku memangkas habis tandukku? Kalian paham tidak, ini juga bagian dari tubuhku, bisa menghidupkan orang dengan ini.” Dia kembali menyentuh dua tanduknya. “Walaupun sekarang sudah jadi kecil, kurasa masih bisa dijadikan— cadangan.” Para semut pun membentuk lambang cinta alias hati. Keno pun berdiri dengn senyuman ramah. “Kalian harus bubar sebelum Amy datang dan syok, lalu membunuh kalian semua dengan racun serangga.” Ribuan semut itu pun membubarkan diri. ————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN