04. Perjanjian

1152 Kata
Amy dan sang dewa hutan dibiarkan duduk berdua di meja makan, saling berhadapan dan saling menatap. Keno tampak menikmati irisan semangka yang disuguhkan. Akan tetapi pandangannya tak lepas dari hamburger yang tengah dinikmati oleh tunangannya. Irisan daging yang ada di dalam roti itu sangat mengerikan untuk dilihat. Bagaimana pun dia adalah ayah dari segala macam binatang, melihat anaknya dimakan itu mengerikan. Walaupun banyak karnivora, tetap saja sang tunangan yang mengunyah daging binatang itu mengerikan. "Apa? Kau mau burger? Lebih baik ketimbang semangka lo-" kata Amy masih melirik tanduk kecil di atas kepala Keno. Entah mengapa dia sangat ingin mencabutnya agar tak mengganggu pemandangan. "Aku tidak makan sesamaku." "Hmm? Kau raja binatang? aku ingat di internet bilang seperti itu. Tapi aku masih tidak percaya kalau dewa itu ada." "Aku Cernunnos-" "Keno, aku tahu, aku tahu, hentikan." Amy kehilangan nafsu makan. "Kau bilang tak percaya dewa itu ada? Aku bisa mengendalikan kesuburan, menundukkan binatang, dan lain sebagainya," kata Keno masih ingin meyakinkan sang tunangan. "Lain sebagainya itu apa?" Amy mengerutkan dahi, penasaran sekali. Dia sudah membayangkan kekuatan hebat ala mitologi yang dia tahu. Tiba-tiba keberadaan Keno menghilang, lalu berdiri di belakang kursi Amy. Dia berkata singkat, "seperti ini-" Amy sama sekali tak sadar. Perpindahan tubuh Keno hanya terjadi hanya dalam satu kedipan mata. "Heh? Apa itu tadi?" Teleport?, pikirnya dalam hati. Teleportasi sendiri adalah perpindahan tempat yang dilakukan oleh seseorang. Jenis kemampuan ini termasuk dalam ilmu metafisika, ilmu yang membahas hal tentang realitas dan keberadaan, hal yang tidak bisa ditangkap secara logik, dan bersumber dari alam. "Tidak mungkin, tapi bisa dijelaskan secara ilmiah." Amy berusaha mencari titik terang atas kejadian tak masuk akal ini. Keno menarik kursi di samping Amy, lalu duduk di sebelahnya. "Kau tak percaya aku dewa hutan? Kalau aku bukan dewa hutan Cernunnos, lalu kau pikir aku apa?" Amy berusaha mengkhayal semasukakal mungkin, "entahlah, makluk buatan NASA, berasal dari DNA alien, bisa jadi'kan?" "Begitu ya-" Keno kelihatan kecewa. "Dewa tak pernah berbohong, aku tak mungkin membohongimu, Amy, aku dewa hutan." "Kata Kakek kita pernah bermain bersama saat kecil, apa itu benar?" "Iya, itu benar." Keno memandangi wajah Amy, terus menerus seolah sudah lama merindukannya dan kali ini tak ingin berpaling. Ia perlahan menyunggingkan senyuman. Amy mendehem, membasahi tenggorokannya yang kering karena tatapan maut itu. Ia berusaha keras agar tampak tak terpengaruh, padahal tungkainya lemas karena terlalu malu. "Kapan?" tanyanya. "Dulu, saat kau berkunjung ke rumah kakekmu, kau selalu mengunjungi rumahku yang ada di kawasan hutan magis redwood, rumahku ada di kejauhan setelah melintasi terowongan itu." "Apa aku benar-benar pernah melewati terowongan itu? Aku tak ingat sama sekali, anehnya saat lari ke sana, aku merasa akan aman di sana." "Kau terakhir kesana saat ya saat itu." "Apa maksudmu?" "Tidak perlu dibahas, kau juga takkan ingat, intinya saat itu, kuputuskan- kita hanya akan bertemu saat kau siap jadi pengantinku." "Maaf? Kau bercanda ya?" "Tidak." Keno menyentuh punggung tangan Amy, kedua bola mata hijaunya berkilatan penuh binar kebahagiaan. Dia sangat senang bertemu pengantinnya. "Aku sudah mencintaimu sejak kau lahir di dunia ini, menurut ramalan dewaku- kau memang dilahirkan untuk jadi pendampingku. Jadi mohon kerjasamanya, Amy Lynn Williams." Amy merasa tangannya tak dapat ditarik. Apakah hipnosis? Ataukah hanya terlalu tegang sampai tak bisa bergerak? Ia kebingungan. "Kau sangat blak-blakan," ucapnya canggung. "Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Aku sangat khawatir saat melihat sesak napasmu kambuh sore itu. Kalau saja aku tak terikat sumpah, aku akan mengobatimu sendiri, tapi syukurlah kau langsung diselamatkan begitu aku menelpon temanmu." Sumpah?, pikir Amy tak mengerti sama sekali. Dia kemudian menarik pelan tangannya. "Dengar Keno, ini terlalu cepat- maksudku, aku punya karir-" "Karir itu apa?" "Pekerjaan." "Kau tak perlu bekerja." "Maksudku- aku tahu wanita yang menikah memang ujung-ujungnya melayani suami-" Amy tertegun sebentar, bertabya-tanya, mengapa kesannya dia menerima perjodohan itu? Keno heran. "Amy?" "Begini, aku masih muda, aku seorang model- aku tak mau menikah saat karirku sedang menanjak, bulan depan aku ada pemotretan di Los Angeles. Aku baru saja ingin membesarkan nama Amy Williams sebagai model internasional." Keno terdiam, bukan karena kecewa, melainkan kebingungan. Dari tadi kosa kata yang dilancarkan Amy sangat jauh dari pemahamannya. Karir, model, pemotretan. "Model itu apa?" tanyanya. Amy menahan napas. "Kau bercanda'kan ya?" "Pekerjaan?" "Model, yang ada di majalah fashion! Namaku Amy Williams! Model dari San Fransisco, kau benar-benar tinggal di hutan?" "Majalah Fashion itu apa?" "Majalah yang berisi pakaian." "Dan pekerjaanmu?" "Mencoba pakaian para desainer dan memamerkannya." "Itu bagus sekali," puji Keno terlihat tulus membanggakan pekerjaan Amy. "Kau juga sangat cantik- itu pekerjaan yang cocok untukmu." Amy menatap Keno yang baru ia sadari sangat polos itu. Walaupun wajahnya tampak dewasa, tapi mata pria ini seperti air jernih, tak ada keburukan sedikitpun. Apa dewa itu memang ada ya? "Aku tidak bermaksud membuatmu keluar dari pekerjaanmu, tapi aku tetap ingin menikahimu- ini sudah perjanjian keluargamu dan aku, Amy. Aku seorang dewa, aku tak bisa melanggar apa yang sudah digariskan takdirku." Ucapan itu terdengar meyakinkan, tapi di telinga Amy malah menangkap unsur paksaan. Ia berusaha mencari cara untuk mengundur semua kegilaan ini. Setidaknya sampai ia paham siapa pria ini. Lalu tentang para penjahat itu- "Kita bahas lain dulu, Keno, siapa yang mengejarku saat itu? Apa kau tahu?" tanya wanita ini mulai serius. "Aku menduga kau terlibat masalah." "Maksudmu kau tak tahu?" "Aku tak selalu tahu isi hati orang, Amy, tapi aku tahu ada masalah dengan seseorang dan mereka diminta menangkapmu." Jangan-jangan memang benar Tate? Tapi untuk apa menculikku? Apa karena aku tak sudi menemuinya lagi? Apa karena itu harga dirinya jatuh? Dia sangat sombong, tapi tidak mungkin, kami memang tak ingin saling bertemu, pikiran Amy pun melayang kembali. Dia tak punya tersangka lain selain Tate Pearson, mantan teman kencannya. "Amy? Kau tidak apa-apa?" tanya Keno khawatir. Dia sampai menyentuh kening wanita itu untuk memastikan keadannya. "Suhu tubuhmu normal, detak jantungmu juga normal-" Amy agak menjauh dari sentuhan Keno. Dia tak mau terjebak dalam pesona dewa hutan itu. Ini adalah puncak karirnya, dia tak mau menikah. Karir, popularitas, dan nama besar. Hanya itu yang ada di pikirannya. Sedangkan di pikiran Keno hanyalah: Amy, pernikahan, dan kebahagiaan. Amy dengan tegas menyatakan, "sudah kuputuskan, aku tidak-" "Akan menunda pernikahannya," lanjut sang kakek tahu-tahu datang dengan menggeret koper. "Amy, pernikahan kalian bulan Agustus nanti, tepat saat perayaan Lugnashad." Lughnasadh adalah festival perayaan panen dalam tradisi celtik. Namanya sendiri diambil dari Dewa Lugh dari mitologi Irlandia, dewa matahari, cahaya dan panen. Menurut sejarah, budaya ini sendiri tersebar di daratan Irlandia, Skotlandia, dan Isle of Man. Festival ini biasanya diselenggarakan pada tanggal satu di bulan Agustus. "Itu bulan depan!" sentak Amy tak percaya. "Yang benar saja!" "Silakan menikmati waktu berdua di apartemen keluarga kita, Amy, biar pesta pernikahan kalian kakek yang mengurus." Sang kakek menutuskan. "Tidak ada bantahan, dan juga tolong ajarkan beberapa hal tentang dunia modern pada Cernunnos, dia jelas tak tahu apapun." Keno tersenyum ramah. "Terima kasih, kakek." Dia menoleh pada tunangannya. "Semoga kita bahagia." "Sial." Amy tak bisa membantah setelah ditatap penuh amarah oleh kakeknya. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN