Aletta memperhatikan wajahnya di cermin dan terus menghela napas, rasanya ia tidak ingin berangkat kerja hari ini. Tidak sanggup untuk bertatapan dengan Javin, walaupun dari kemarin Javin terus mengirimi pesan dan menghubunginya tapi Aletta tidak pernah membuka atau menerimanya. Aletta mengambil tasnya dari meja dan pergi menuju kantor, siap tidak siap dia harus tetap berangkat. Aletta merasa dia sudah menyiapkan hati dan mentalnya ketika di apartment, tapi sekarang setelah sampai didepan gedung Aletta hanya diam tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Banyak pegawai yang memperhatikannya ketika mereka masuk ke dalam ataupun keluar, tapi Aletta tidak peduli. Ia lebih memilih diam berusaha menenangkan dirinya dan menahan tangisnya hanya dengan melihat perusahaan ini. "Aletta," panggilan d

