PART 10

693 Kata
Keesokannya, Javin keluar dari kamarnya dan melihat keluarganya sudah berkumpul di meja makan. "Morning dad," Zelvin menganggukan kepalanya. "Morning sisters," "Morning," ucap Lily dan Rose pelan. "Morning mom," Javin mencium sisi kepala ibunya. "I'm sorry mom," Javin berjongkok disamping Jasmine dan memohon menggunakan puppy eyes membuat Jasmine yang melihatnya memicingkan mata lalu menghela napas lelah, Javin pintar sekali. Ia tau sekali ibunya sangat lemah dengan tatapan itu bila Javin dan kedua putrinya menatapnya seperti itu. "Javin, why you have to be so smart. Okay, mommy maafkan." Javin tersenyum senang lalu memeluk Jasmine yang membuatnya terpekik. "I love you, my queen." "I love you too, my prince." Rose, Lily, dan Zelvin yang melihatnya hanya memutar bola mata. Javin memang menjadi mommys boy, apa saja yang ia inginkan Jasmine akan senang hati memenuhinya. "Tapi dengan syarat," dan senyum Javin langsung luntur. "Bawa wanitamu pada mommy," "Aku? But, i don't have a girlfriend." "Kau berbohong pada mommy? Lalu siapa wanita yang dibicarakan Lily dan Rose 2 hari yang lalu," Javin menatao horor dua adiknya yang berpura-pura sibuk dengan sarapan mereka, mereka berdua seperti tidak mendengar apa yang ibunya bicarakan. "Lily, kau menceritakan siapa?" "Apa? Aku menceritakan siapa?" Lily balik bertanya. "Lily menyebut sesuatu, seperti ada huruf L nya Ale, Alea," "Aletta," "Ya, itu. Darimana kau tau?" Ucap Jasmine menatap Zelvin. "Aku bertemu dengannya kemarin, ia sekretaris baru Javin." "Bukankah sekretaris Javin lelaki? Yang pernah menjadi sekretarismu dulu?" "Kurasa Javin kurang menyukainya, kau lebih suka mempunyai sekretaris perempuan?" Zelvin menyeringai. "Daddy!" Ucal Javin kesal. "Okay, terserah siapa dia. Yang pasti kau harus membawanya kesini, mommy ingin tahu apakah dia masuk kriteria menantu idaman." "Tidak ada tapi-tapi, Javin. Cepat habiskan sarapanmu lalu berangkat kerja, Lily kau pergi bersama Javin?" Lily menganggukan kepalanya sambil menahan tawa melihat muka memelas kakaknya. ♡♤♡ Lily tertawa kencang di dalam mobil menghiraukan gerutuan Javin yang kesal. "Apa yang kau bilang pada mommy tentang Aletta?" "Aku hanya bilang bahwa Javin mempunyai wanita bernama Aletta," "Dan kau tidak bilang kalau Aletta itu sekretarisku?" Lily menggeleng lalu terkikik kecil. "Lagipula, Aletta wanita baik-baik. Ia cocok denganmu, jadi apa salahnya?" "Semuanya salah, Lily. Aku baru mengenalnya dan belum ada 6 bulan," "But i already love her. Aku akan senang bila ia menjadi kakak iparku," "Keep dreaming," "Hei! Bagaimana bila kau memang cocok dengannya? Jangan gengsi seperti itu," Lily mencolek bahu Javin dengan tatapan menggodanya. "Terserah kau, Lily." ♡♤♡ "Selamat pagi, sir." Aletta berdiri menyambut Javin. "Selamat pagi, Aletta." Javin masuk ke dalam ruangannya lalu duduk dikursi miliknya. Mengapa sekarang ia memikirkan ucapan Lily, apa ia bisa mencobanya dengan Aletta? Javin menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan pikirannya yang sudah teracuni oleh Lily. Javin lebih memilih menyibukkan dirinya bekerja dengan kertas-kertas yang berada di depannya. Hingga ia tidak menyadari waktu sudah menunjukan pukul 10 siang, seseorang mengetuk pintunya dan ia membiarkannya masuk. "Long time no see, Cleo." Javin tersenyum lebar menatap lelaki yang masuk dengan menyeringai, Javin berjalan menuju ke arah lelaki tersebut dan memberikan pelukan khas pria. "Kapan kau datang?" "Seminggu yang lalu," "Dan baru sekarang kau kesini? Sesibuk itukah dirimu?" Lelaki itu tertawa. "Sepertinya yang sibuk disini itu dirimu, apa sesibuk itu hingga tidak melihat e-mail yang ku kirim?" "Aku rasa e-mail mu tertelan dengan e-mail yang lain," Javin mempersilahkan lelaki iti duduk. "Apa kau tidak mempunyai sekretaris?" "Kau tidak melihatnya? Ia berada di meja depan," "Tidak ada siapapun," Javin mengernyit bingung lalu berjalan menuju pintu ruangannya dan membukanya, memang tidak ada siapapun disana. Lalu kemana Aletta pergi? Javin mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Aletta. Sambungannya terhubung tapi tidak ada yang mengangkatnya, membuat Javin khawatir. "Javin? Apa yang kau cari?" Ucap lelaki yang sedari tadi menunggu Javin. "Sebentar, sekretarisku sepertinya pergi tanpa seizinku." Javin mendengar suara denting lift, pintu lift terbuka menampilkan Aletta yang membawa berkas-berkas ditangannya. "Darimana saja kau?" Ucap Javin dingin. Aletta terkejut memundurkan langkahnya. "Sir, maaf aku baru saja mengambil beberapa file dari bawah." "Aku menghubungimu tapi tidak kau angkat," "Ah, maafkan saya. Saya meninggalkan ponsel dimeja dan tidak dibunyikan." Cicit Aletta pelan. Javin menghela nafas lelah sekaligus lega, ia pikir terjadi sesuatu pada Aletta. "Aletta?" Aletta menoleh ke arah suara dibelakang Javin, ia membulatkan matanya ketika tau siapa lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN