Aku menepikan motor di mulut gang dekat kosanku. Siomay yang sore tadi masuk ke perut seolah tak lagi dapat mengganjal rasa laparku. Cacing di pencernakanku meronta-ronta minta diberi jatah ransum. “Mau makan apa?” tanyaku sambil menoleh ke belakang. Sekar menaikkan kaca helmnya. Matanya masih sembab, tapi dia sudah tak lagi menangis. Bisa jadi sembab akibat facial di klinik tadi juga. Yang jelas aku sedikit lega melihatnya. “Seafood, boleh?” tanyanya mirip anak kecil minta jajan. Aku baru tahu sisi manjanya. Imut dan menggemaskan. Biasanya dia sok-sokan dewasa meskipun sangat polos. Aku memindai deretan warung tenda di mulut gang itu. Tahu saja dia makanan mahal. Tanpa mengangguk, aku jalankan lagi motorku mendekati warung seafood di sana. “Makan di rumah aja ya,” ujarku tanpa men

