Gilang terbangun saat suara azan subuh sayup terdengar. Tangan kirinya mencari-cari sosok yang semalaman berada dalam dekapannya. Rasa bersalah membuatnya sulit mengatakan maaf, dibayarnya dengan sentuhan fisik, berharap Sekar akan luluh. Mata pria itu mengerjap. Dipindainya kamarnya. Tak ada Sekar. Padahal, semalaman dia tertidur sambil memeluk gadis itu. Kapan Sekar bangun? Gilang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi saat Sekar hendak keluar. “Bajunya di mana dijemur?” tanya Sekar. Gilang tertegun sejenak. Raut muka Sekar seperti mereka tak pernah terjadi apa-apa. Lalu, pandangan Gilang tertuju pada ember yang penuh dengan cucian yang sepertinya sudah selesai dicuci. “Nanti biar aku yang jemur habis dari masjid. Tempat jemurnya ada di atas,” ujar Gilang. Sekar hanya men

