Bab 7

1032 Kata
Jalanku sudah buntu. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Jalan satu-satunya menghindar dari pernikahan dengan Mas Fajar adalah melunasi hutangnya. Masalahnya, uang dari mana? Akhirnya, aku pun pasrah menemui takdir. Perhelatan itu terjadi juga. Bulik Diah sudah siap untuk merias wajahku. Para tamu pun sudah berduyun-duyun datang. Aku memang meminta ibu tidak perlu terlalu mewah, tidak perlu di gedung. Cukup di rumah saja. Meskipun kata ibu semua ditanggung oleh keluarga Mas Fajar. Usai dirias, ibu memintaku keluar dari kamar. Aku sendiri merasa aneh dengan penampilan ini. Aku yang tak pernah dandan, tadi sempat melirik sekilas ke cermin di kamar. Hampir saja aku tak dapat mengenali diriku sendiri. Aku memilih menunduk saja. Apalagi aku masih ingat dengan jelas, bagaimana Mas Fajar mengataiku sebagai gadis kampungan. Ibu menyuruhku duduk di belakang di bagian barisan wanita. Di sebelah Bude dan ibu. Sedang, Bulik memilih berdiri sambil terus mengawasi penampilanku. Aku mengenakan kebaya berwarna broken white. Kebaya ini sangat pas di badan hingga memberi kesan langsing, meski yang sebenarnya aku sedikit berisi. Tentu saja, karena bantuan korset yang lama kelamaan membuatku terasa sesak, sulit bernafas. Kini, aku dapat merasa, semua mata tertuju ke arahku. Bisa jadi karena mereka pangling melihatku. Atau bisa jadi mereka penasaran dengan pernikahanku yang tiba-tiba. Tapi, bisa jadi juga isu aku menikah karena untuk membayar hutang ibu sudah terdengar kemana-mana. Aku lebih baik diam saja. Tak memedulikan pikiran orang lain. Dadaku mulai bergemuruh saat kudengar Pak Bayan, perangkat desa, yang bertindak sebagai MC mulai menyalakan mikrofon. Beliau memberikan sambutan dan ucapan selamat datang, lalu mempersilahkan Pakde sebagai wakil dari keluargaku dan juga....sebentar, aku tiba-tiba mencoba mencuri pandang saat aku mendengar nama yang disebut wakil dari keluarga mempelai laki-laki kok... Takut-takut kusapukan pandangan kepada mempelai pria. Lho? Mengapa mempelai prianya bukan Mas Fajar? Mendadak nafasku terasa ingin berhenti. Kepalaku tiba-tiba pening. “Bulik!”seruku sebelum aku merasakan semuanya gelap. -- ***ETW*** “Lha piye tho, Ndhuk. Mau diijabke kok malah semaput (Gimana sih, mau ijab qobul kok malah pingsan),” kata Bude sambil mengipasiku di kamar. Lha gimana tidak pingsan, tiba-tiba tanpa pemberitahuan mempelai prianya sudah ganti. “Lha, bukane kowe seneng nek diganti karo Gilang? (bukannya kamu suka kalau sama Gilang?),” tanya Bude lagi sebelum aku berkomentar apa pun. Lidahku sudah kelu. Gimana tidak, otakku menjadi bingung melihat kenyataan ini. Beberapa hari terakhir aku memang sering bersama Mas Gilang. Satu-satunya orang yang menolak perjodohanku dengan Mas Fajar. Namun, bukan berarti dia baik dan perhatian. Tetap saja dia dingin, angker dan galak. Tapi, paling tidak dia tidak pernah menyebutku kampungan seperti Mas Fajar. “Wis, ndang bali nyang ngarep maneh. Mesakne tamune wis nunggu. Ben ndang sop e ditokne (buruan keluar. Tamunya sudah lama menunggu. Biar sup segera dikeluarkan),” kata Bude setelah aku usai minum teh panas. Jilbabku sudah tak karu-karuan gara-gara Bude Siti harus membalurkan minyak angin ke leherku. Untungnya Bulik Diah dengan sigap membenahinya. ***ETW*** --- “Kok bisa jadi kamu sih?” tanyaku saat Mas Gilang masuk ke kamarku. Sepertinya dia baru saja pulang dari masjid. Karena dia memakai baju sholat lengkap dengan pecinya. Tidak seperti tadi siang yang memakai setelan jas berwarna hitam. Rasanya ngeri juga ya dia masuk kamar dan hanya berdua begini. Jantungku rasanya dag dig dug tidak karuan. “Kamu! Kamu! Aku ini suamimu sekarang,” sahutnya sambil menekankan kata ‘Kamu’. Nyaliku menjadi ciut. Kenapa baru kepikiran kalau Mas Gilang itu 'kan memang diktator dari dulu. Duuh, rasanya jadi nano nano terbebas dari Fajar malah masuk ke pelukan Gilang. “Sholat sunnah dulu, jangan langsung tidur,” perintahnya saat melihat aku hendak membuka mukenaku usai sholat isya. Padahal kulihat dia juga baru saja pulang dari masjid. Oh, iya sampe lupa, sholat sunnah dua rakaat. Duuh. Kok aku jadi gemetar ya. Habis ini diapain lagi. “Makanya kalo punya buku itu dibaca,” tambahnya sambil menoyor kepalaku. Padahal sedetik sebelumnya dia habis mencium keningku. Ini mungkin gara-gara aku takjub melihatnya bisa seromantis ini. Duh, aku sampai lupa kalau Mas Gilang ini memang tak punya sisi romantis. Apa yang dilakukannya malam ini kan hanya sekedar formalitas, batinku sambil menepuk kepalaku sendiri. Mas Gilang serta merta berdiri. Lalu ia mengambil map berisi secarik kertas dari tas punggung miliknya yang diletakkan di bawah meja belajarku. “Nih, aku sudah bayar hutangnya ibumu ke ibunya Fajar. Jangan lupa, sebagai gantinya, kamu cicil perbulan 10 juta,” ujar Mas Gilang datar. Matanya menatapku tajam, membuatku jadi tergidik. “Apa? Sepuluh Juta?? Jadi? Kamu menggantikan Mas Fajar jadi mempelai demi uang sepuluh Juta?” tiba-tiba kepalaku berkunang-kunang. Sayangnya sebelum pingsan, tangan Mas Gilang sudah menopang bobot badanku. “Ish ish ish…dikit-dikit pingsan. Manja amat!” omelnya sambil memaksa tubuhku untuk duduk sendiri tanpa menyandar ke tubuhnya. Aku memilih menggeser tubuhku menyandar ke dinding di sisi ranjang. Mataku yang hampir terpejam jadi terbuka kembali mendengar suaranya. “Justru aku tuh menyelamatkanmu. Emang kamu mau nikah sama si Fajar. Trus habis itu dilepeh?” ujar Mas Gilang. Dia seperti mengingatkanku tentang modus dia mau menikah denganku hanya gara-gara pembagian warisan dari kakeknya. “Mamaku yang minta aku gantiin Fajar. Jangan GR, ya, kamu!” ujar Mas Gilang lagi. Sepertinya dia ingin menekankan bahwa aslinya dia tidak mau. Dihh, siapa juga yang mau sama dia. Aku pun kalau ditanya dulu, bisa jadi memilih opsi lain. “Ibumu tidak mau menanggung malu. Saudara dan tetangga sudah terlanjur tahu kalau ibumu mau mantu. Jadi ibumu bilang ke mamaku minta aku gantiin si Fajar,” jelas Mas Gilang panjang lebar. “Kamu harus terimakasih pada mamaku!” Yaelah. Mas Gilang pikir aku mau banget apa ya sama dia. Pake disuruh makasih ke Bude Hanum atas jasanya menjodohkanku dengan Mas Gilang. Kepalaku jadi tambah nyeri. Ngapain sih ibu pake minta Mas Gilang segala jadi suamiku. Memang ibu lupa apa ya kalau Mas Gilang ini dari orok udah jahat sama aku. Bisa-bisa aku tiap hari di-bully-nya setelah jadi istrinya. “Jangan lupa ya, sepuluh juta per bulan,” katanya sambil menyodorkan kertas bermeterai. Mataku membulat sempurna. Lhah? Gajiku aja cuma segitu. Trus aku makan apa? Eh iya lupa. Kan aku udah jadi istrinya. Jadi, makan sama kosan kan dia yang bayar. Tapi? Aku jadi tidak bisa nabung buat jalan-jalan ke luar negeri dong seperti impianku. Hiks!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN