Bab 8

1229 Kata
Memang kamu dapat uang sebanyak itu dari mana, Mas?” tanyaku saat Mas Gilang memberi kuitansi tanda terima pembayaran hutang ke orang tuanya Mas Fajar. Aku benar-benar tidak menyangka dia melakukan semuanya, demi aku, agar aku batal menikah dengan Mas Fajar. Sebegitu pedulikah dia padaku? Sampai-sampai dia mengorbankan masa depannya menjadi mempelai pengganti di hari pernikahanku. “Uang itu sebagian kecil adalah uang tabunganku untuk beli rumah dan menikah. Yang jelas bukan menikah sama kamu!” Kata-kata Mas Gilang terdengar nyolot. Lalu dia memijit keningnya. Sepertinya dia pusing dengan keputusannya. Aku juga bingung harus bagaimana? “Sebagian besarnya, aku pinjem ke bank dengan jaminan gajiku. Setiap bulan gajiku akan dipotong sepuluh juta!” lanjutnya lagi. Dih, ngapain sih dia repot banget ngurusin hidup aku. Padahal aku sendiri sudah pasrah. “Tunggu! Jadi, kamu sebenarnya sudah ada rencana menikah?” tanyaku tak percaya. Tatapanku masih tak berpindah menatapnya lekat. Lantas, kenapa dia mau berkorban menikah denganku tiba-tiba? “Sudahlah tidak usah dibahas. Sudah terlanjur,” sahutnya kemudian. Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Apa yang aku dengar? Sudah terlanjur? Jadi, dia menikah dengan terpaksa? Haruskah dia berkorban demi aku? Kutatap kembali wajahnya. Dia tertunduk lesu. Entah kecewa, entah apa. Aku tak tahu. Tapi, satu janji dalam diriku. Aku berhutang budi padanya. Hutang materi yang harus kubayar setiap bulan. Dan hutang non materi, pengorbanannya. Tiba-tiba aku merasa seperti terperangkap dalam kawin paksa, namun tidak terpaksa. Ah, aku juga bingung mendifinisikannya. Dia terpaksa menikahiku karena tak ingin aku menikah dengan Fajar. Tapi dia sendiri malah terjebak harus menikahiku. Ah ruwet. “Sudah, ayo tidur!” Mas Gilang merebahkan badannya. Lalu dibukanya selimut yang masih terlipat di ujung pembaringan. Kemudian dia menutupi tubuhnya dengan selimut itu. “Kamu ngga mau tidur?” katanya sambil menatapku yang masih duduk di sisi ranjang. Ini suatu pertanyaan yang sulit. Tentu saja, aku mau tidur. Tapi, bukannya ini malam pertama kami? Ini tidak seperti yang kubayangkan. Dulu aku membayangkan suatu malam pertama yang romantis, dengan seseorang yang kita cintai. Sekarang? Justru aku terjebak menikah dengan orang yang di luar dugaanku. Kata orang, jangan terlalu membenci seseorang. Bisa jadi dia itu jodohmu! “Matikan lampunya cepet. Silau, nih. Aku sudah ngantuk. Mau tidur!” ujarnya kemudian, karena aku tidak kunjung beranjak. Huff. Aku mengatur degup jantungku. Untung dia menyuruh mematikan lampu. Jika tidak, aku akan tetap salah tingkah. Aku segera beranjak menuju pintu. Saklar lampu ada tepat di sebelah pintu. Alhamdulillah, suasana kamar menjadi remang-remang. Sorot lampu dari luar menyelinap melewati sela-sela gorden jendela. Aku segera berjalan mendekati ranjang. Membuka jilbab instan yang kukenakan dan meletakkannya di sandaran kursi meja belajarku yang posisinya di sisi ranjang. Tanpa berani menoleh, dalam hati kuberharap Mas Gilang sudah tertidur. Pelan-pelan kurebahkan badanku agar dia tidak merasakan gerakanku. Segera kutarik selimut yang sebagian sudah menutup tubuh Mas Gilang. Setelah mengucap doa, kututup mata ini berlahan dengan pikiran tak karuan. Dag dig dug tetap kurasakan jantung ini berdegup kencang. Bagaimanapun ini pertama dalam sejarah, tidur dengan lelaki dalam satu ranjang. Paling banter aku hanya tidur sama ibu di ranjang ini. Di kosan? Aku tidak pernah tidur seranjang dengan orang lain. Risih. Dan sekarang? Aku tidur dengan seorang lelaki. Kukerjapkan mata ini. Kantukku sudah benar-benar hilang. Meskipun kaki terasa pegal-pegal. Namun, tak jua letih ini mampu memaksaku untuk tidur. Mungkin pengaruh degup jantungku yang kencang. Aku memang tidak terbiasa tidur terlentang seperti ini. Biasanya, aku tidur miring kanan seperti sunnah Rosul. Tapi, di sebelah kananku kan ada Mas Gilang. Malu rasanya menghadap ke arahnya. Kalau miring ke sebelah kiri? Nanti memunggunginya. Gimana dong. Aku sudah tak sanggup lagi tidur terlentang. Ini tidak nyaman! Pelan-pelan, kumiringkan tubuh ini ke kanan. Aku masih bertahan dengan mata terpejam. Malu rasanya membuka mata. Takut pria di sebelahku ini melihatku menghadapnya. Namun, tiba-tiba aku merasa ada hembusan nafas di wajahku. Ada tangan yang menarikku merapat ke tubuhnya, dan … --- Saat aku terbangun, Mas Gilang sudah tidak ada di ranjang. Kupastikan dia sudah pergi ke masjid. Sejak kecil dia memang rajin jamaah di masjid. Aku segera bergegas keluar kamar untuk mandi. Ibu melihatku keluar kamar mandi malah senyum-senyum sendiri. Tapi, aku mencoba untuk tak memedulikannya. Mungkin ibu sedang merasa senang terbebas dari hutang, dan sawah milik kakek yang akan dibagi pun sudah aman. Bergegas aku masuk ke kamar untuk segera menunaikan sholat subuh. Jika sampai Mas Gilang pulang, aku belum sholat, pasti dia akan marah. Aku mengenalnya, dia selalu mengutarakan hal-hal yang tidak disukainya secara spontan. Tak peduli itu membuatku sakit hati. Termasuk masalah sholat ini. Dulu sewaktu kecilpun tak jarang aku ditegurnya jika terlambat sholat. Usai salam, aku belum mendengar suara Mas Gilang dari dalam kamarku. Biasanya, percakapan di luar kamar akan terdengar meskipun samar. Segera mukena kulepas dan kulipat. Namun, mendadak aku menoleh saat terdengar suara ponsel bergetar. Ponsel milik Mas Gilang yang diletakkan di meja belajar. Penasaran, mana tahu telepon penting, aku beranjak untuk melihat notifikasi yang terlihat dari luar, tanpa membuka kunci. [SKN: Lang, besok jadi kan ketemu habis pulang kerja?] Aku segera meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula, takut disebut lancang. Tahu sendiri 'kan, gimana juteknya dia kalau ngatain orang. Lagian, aku tidak tahu, siapa itu SKN. Paling, itu teman kerjanya. -- Jam sembilan tepat, Aku dan Mas Gilang sudah berada di Stasiun Tugu. Kami kembali ke Jakarta dengan kereta Argo lawu. Tidak ada cuti, tidak pula berbulan madu. Semuanya tampak seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan, orang kantor dan teman dekatku saja, tak tahu kalau aku baru saja melangsungkan acara penting. “Kamu tidak perlu lebay, ngasih tahu orang-orang kalau kita sudah menikah,” ujar Mas Gilang saat kereta kami sudah mulai jalan. “Maksud kamu?” Mengapa dia harus pake kata 'lebay' segala? “Cukup kita, saudara, tetangga sama HRD kantormu aja yang tahu,” jelasnya. “Satu lagi! Jangan sampe ada teman SMA kita yang tahu,” lanjutnya lagi. Aku menghela nafas. Mungkin, Mas Gilang masih belum menerima dengan status ini. Aku berusaha memahaminya. Apakah dia malu mengakuiku sebagai istrinya? Apakah artinya dia akan meninggalkanku, jika aku sudah selesai melunasi hutangku? Atau sebaliknya? Justru ini menantangku agar dia tidak pergi meninggalkanku? Entahlah. Aku pun belum punya rencana apa-apa. “Sampai Jakarta, kamu pulang ke kosanmu. Aku balik ke kosanku. Tidak perlu bilang ke ibumu atau ke mamaku soal hal ini. Kalau mereka nanya, bilang saja kita tinggal di kosanku,” sambung Mas Gilang. “Aku nggak mau bohong!” sahutku. Bukannya aku pengen hidup bersama dia, namun membohongi orang tua 'kan dosa. Aku takut kuwalat. Tidak berkah. “Aku nggak nyuruh kamu bohong. Kalau pas mereka tanya, tinggal kamu datang ke kosanku. Jadi, memang benar kamu lagi di kosanku. Ngerti, nggak?” Dia menatapku remeh. Aku hanya bisa menghela nafas. Dia memang hafal banget sama sifatku yang telat mikir. Beda dengan dia yang jenius. Makanya, dia bisa kuliah di kampus paling top. Sementara aku? Hanyalah pelengkap penderita. Kuliah di kampus deket rumah di jurusan sejuta umat. Meski, kali ini aku sedikit paham maksudnya. Tapi, mengapa harus hidup terpisah. Bukannya ini menambah biaya? Hidup bersama kan jauh lebih hemat. Sehingga aku bisa lebih cepat membayar hutangku kepadanya, daripada uangku dipakai buat sewa kontrakan. Lagi-lagi, terdengar suara ponselnya berbunyi. Mataku tak sadar ikut melirik sekilas nama yang terpampang di layar, siapa yang sedang menelponnya. SKN! Anehnya, raut muka Mas Gilang terlihat berubah. Ia nampak senang sekali. Roman mukanya yang biasanya dingin dan jutek, menjadi berseri-seri. Padahal kan itu hanya telpon. Bukan panggilan video!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN