“Kamu sudah pikir masak-masak?” Renita menemani Sekar hingga ruang tunggu stasiun. Sahabatnya itu datang tak lama setelah Sekar mengabarkan dia hendak pulang. Padahal baru sore tadi mereka bertemu dan Sekar mengabarkan tentang pernikahan mendadaknya. “Dia tidak mencintaiku, Ren.” Wajah Sekar kembali bersemu merah. Matanya mulai mengembun. Meski tak ingin menceritakan masalah rumah tangga, namun, Sekar terpaksa menceritakan garis besar masalahnya pada sahabatnya itu. “Siapa bilang. Kamu jangan bermain dengan prasangka. Sebaiknya kamu tanyakan dulu kebenarannya,” sahut Renita. “Dia bukan tipe lelaki yang bisa mengatakan rasanya. Aku sudah mengenalnya sejak kecil,” jawab Sekar. Tak mungkin baginya mencecar Gilang dan menanyakan apakah lelaki itu mencintainya. Ah! Konyol. Bahkan Gila

