Meminta Kompensasi Pernikahan

1316 Kata
“Se-sebentar—Tuan, Ah!” Vallen mencoba memprotes, suaranya tercekat antara kejutan dan sisa-sisa hasrat yang baru saja memuncak. Namun Damien tidak memberi kesempatan. Tangan Vallen ditarik kasar dari sofa. Tubuhnya ditegakkan dengan paksa, seolah ia sebuah boneka yang bisa dimainkan. Damien berdiri, wajahnya kini terlihat jelas di bawah cahaya remang. Ia tidak lagi mabuk. Mata hitamnya kini jernih dan tajam, penuh perhitungan. “Aku sudah memberimu cukup waktu untuk bicara,” ujar Damien, nadanya kembali ke suara bos korporat yang kejam. “Tapi kau memilih bermain-main, Vallen Losa.” “Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan, sungguh!” elak Vallen, mencoba mendorong tubuh Damien yang menghimpitnya di antara tembok. Kakinya duduk berlutut di atas sofa. Sementara ia nyaris telanjang, bathrobes-nya sudah melorot hingga ke pinggang. “Anda bisa memeriksa identitas saya. Saya sungguh —” Perkataan Vallen tercekat, Damien mendorong tubuhnya dengan keras. Sensasi menonjol di balik gesekan kain terasa mencekik tenggorokan. Namun ia tetap meneruskan kalimatnya. “— putri keluarga Losa!” “Ini hanya alibi Anda kan? Apa Anda pikir saya i***t dan percaya—ah!” Vallen kembali didorong, tubuhnya memantul di dinding sedikit kasar. Tangannya yang sejak tadi dicekal di atas pinggangnya spontan meronta. Namun Damien tak berniat melepaskannya. “Tenang saja, Nona Vallen. Aku masih ingat dengan baik, rasa istriku yang mati bunuh diri lima tahun lalu!” Sekujur tubuh Vallen meremang, bukan karena sentuhan Damien, bukan karena situasi, tapi karena Damien berkali-kali menegaskan bahwa ia masih mengingat rasa istrinya yang mati bunuh diri. Ironis yang cukup lucu di telinga Vallen. Bagaimana pria itu bisa ingat, sementara ia sudah menikah lagi bahkan punya anak. “Omong kosong! Anda hanya menodai —” “Ck, ck, ck … tidak, tidak.” Damien memotong dengan nada meremehkan. Tangannya menyusuri punggung Vallen yang terekspos, sementara handuk yang tadi membelit rambutnya sudah jatuh, entah ke mana. Rambut Vallen terurai bebas, menutupi sebagian kulitnya. Damien menyibakkan helaian itu, memperhatikan tengkuk leher Vallen dengan tajam. Matanya berkilat saat melihat tengkuk itu mulus bersih, bahkan tanpa noda. Semua bukti fisik Hera telah hilang, tak berjejak. Namun suaranya masih dingin saat bicara, “Jika kau ingin tanggung jawab. Aku siap melakukannya.” Vallen tersentak, reflek menoleh menatap Damien. “Ba-bahkan jika saya meminta pernikahan?” Itu bukan rencana. Bukan strategi. Perkataan itu meluncur begitu saja, dorongan insting. Seperti tubuhnya menuntut jawaban sebelum pikirannya sempat menahan, ingin menguji batas permainan yang sedang dimainkan Damien. Ia menahan napas, menanti reaksi pria itu. Namun Damien hanya menyeringai, senyumnya kejam dan penuh hinaan. Ia membelai pipi Vallen sejenak, seolah itu hanya benda mati yang tak berarti, lalu tangan itu turun, dengan santai membuka kancing celana yang ia kenakan. “Jangan lakukan, please!” mohon Vallen, suaranya tercekat. Ia tahu momen ini sudah melewati batas kendalinya. “Tubuhmu lebih jujur daripada bibirmu, Nona.” “Sungguh, jangan! Aku bisa mengadukan ini—” “Adukan saja. Kau pikir, siapa yang akan hancur, hmm?” Vallen menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan seluruh konflik yang meledak-ledak di dadanya. Ia terhimpit antara rasa takut identitasnya terbongkar total, juga keanehan fatal dari situasi ini. Pertanyaan demi pertanyaan berdesakan dalam kepalanya, tak terkendali, menabrak satu sama lain. Jika Damien benar-benar mengingat rasa sentuhan Hera — hingga mampu membandingkan detail payudaaranya dan mengaku mengenalinya hanya dari sentuhan — bukankah itu sedikit membuktikan bahwa Damien mencintai Hera? Atau setidaknya, nama Hera pernah benar-benar mengisi hidupnya. Lalu …. Apakah … Damien sebenarnya tidak pernah mengkhianati Hera? Pikiran gila itu berputar, menyambar dirinya seperti badai. Vallen larut sesaat dalam spekulasi yang berbahaya. Namun saat batang mengeras itu menggesek kulit Vallen, tepat di ambang batas kendali, ketukan pintu terdengar. TOK! TOK! Keras, dan bergema lantang di dalam apartemen. Vallen reflek tersadar, kengeriannya kembali. Ia menoleh ke arah pintu, merasa sangat lega sekaligus panik karena nyaris tertangkap basah dalam keadaan ini. Damien membeku. Gerakannya terhenti total, amarah dan hasrat yang tadi menguasai matanya kini bercampur dengan kejengkelan dan frustasi. Ia menggeram pelan, tidak melepaskan diri dari Vallen, namun menahan semua aksinya. “I-itu pasti temanku,” lirih Vallen. “A-aku tidak tinggal sendiri disini.” Damien menyeringai lagi, “Kau pikir aku tidak tahu apapun? Temanmu sedang menemui profesor di rumah sakit Betra.” Napas Vallen terhenti. Tubuhnya mematung, dingin menjalar dari ujung kaki sampai tengkuk. Ia hampir lupa, jaringan informasi Damien cukup luas. Jika ia ingin tahu sesuatu, dunia seakan otomatis membisikkan jawabannya. Damien akhirnya melepaskannya dan berjalan menuju pintu yang masih diketuk. Ia membukanya sedikit. “Layanan delivery. Makan malamnya, Tuan.” Damien menerima tanpa berkata apa pun, lalu menutup pintu setelah memberinya beberapa tips. Saat ia berbalik dan kembali masuk, Vallen sudah tidak ada di posisinya semula. Tawa Damien pecah rendah, tawa yang terdengar menakutkan. “Keluarlah, bukannya kau lapar dan pesan makan, hmm?” suaranya berat, menggelegar, menggema di ruangan sunyi. Namun tak ada jawaban, hening. “Keluar, dan jangan membuatku semakin nekat, Nona Losa!” Masih hening. Kesabaran Damien semakin tipis. Matanya menyusuri setiap ruang, hingga pandangannya terpaku pada pintu kamar tidur yang tertutup rapat. Ia mendekat, langkahnya perlahan dan mengancam. “Sudah kuperingatkan, Nona Losa.” Dan— BRAK! Pintu didobrak paksa. Damien langsung bisa menemukan Vallen meringkuk di sudut terjauh kamar, tubuhnya gemetar. Ia telah berhasil mengenakan bathrobes dan melingkarkannya rapat, sementara tangannya langsung terangkat memohon. “Ku mohon, hentikan! Hentikan!” Seluruh tubuhnya gemetar, wanita itu bahkan tidak berani menatap Damien. “Saya bukan orang yang Anda cari.” Melihat keadaan Vallen yang meringkuk dan gemetar, sesuatu di mata Damien berubah. Ada kilatan aneh — bukan lagi amarah, bukan hasrat, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dan sulit diartikan. Tanpa sepatah kata, ia mendekat. Langkahnya pelan, hampir hati-hati. Dan ketika ia sampai di hadapan Vallen, tangannya terulur, merengkuh tubuh wanita itu. Gerakannya lembut, bahkan terlalu lembut untuk ukuran Damien yang Vallen kenal kasar. Ia terlonjak kecil, tubuhnya menegang, tapi tetap tidak berani mendongak menatap pria itu. Keheningan jatuh di antara mereka. Damien hanya merengkuhnya, seakan mencari sesuatu yang bahkan dirinya tidak mengerti. Namun, saat tubuh Vallen yang gemetar mulai mereda, Damien mengangkat tubuh wanita itu perlahan dari sudut lantai. “A-apa yang Anda—” Belum sempat kalimat itu selesai, tubuhnya sudah dibaringkan di atas ranjang. “Tidak ingin makan,” ucap Damien pendek. “Jadi tidur saja.” Vallen tersentak, matanya melebar. Tangan kecilnya langsung naik menutupi d**a, berjaga-jaga, takut serangan selanjutnya datang. Tapi gestur kecil itu membuat tawa Damien lolos. Rendah, dan tipis. “Ya, kalian memang berbeda,” lirihnya, sebuah perbandingan samar yang membuat Vallen meremang. “Aku tidak melakukannya,” Damien menggeram rendah. “Jadi tidurlah.” Tanpa memberi waktu bagi Vallen untuk memprotes, Damien menjatuhkan tubuhnya di sampingnya—berjarak setengah detik dari menyatu. Kemudian, dengan gerakan mantap yang tak memberi ruang penolakan, ia menarik Vallen ke dalam pelukannya. Vallen terperanjat. Tubuhnya refleks melengkung menjauh, meringkuk miring seperti hewan kecil yang terpojok. Punggungnya menempel ke d**a Damien. Ia masih bisa merasakan gesekan tegang di bawah sana—bukti bahwa ancaman itu belum sepenuhnya hilang, hanya ditunda. “S-sebenarnya … Anda ingin apa?” bisiknya, hampir tak terdengar. Damien tidak langsung menjawab. Tangannya justru mengerat, melingkar di perut Vallen, menahan wanita itu agar tetap berada di pelukannya. Beberapa detik berlalu. Kemudian suara Damien terdengar, rendah, serak, dan jujur dengan cara yang mengejutkan. “Numpang tidur.” Ada jeda sejenak yang menggantung, sebelum Damien melanjutkan, “Hanya sebentar.” Vallen terpaku. Pikirannya berkecamuk liar. Ia terperangkap dalam situasi yang absurd — dipeluk oleh pria yang baru saja menyerangnya, yang nyaris mengetahui identitas Vallen Losa, dan yang menganggap Hera telah mati. Namun, keheningan yang terasa begitu intim, sekaligus hangat dan familiar, mulai menyelimuti keduanya, menarik Vallen ke dalam pusaran nostalgia yang berbahaya. “Saya … masih tidak mengerti,” lirih Vallen, kepalanya mulai pusing. “Dari kejadian di ruang staf, sampai hari ini. Sebenarnya, apa maksud tindakan Anda?” “Anggap saja, aku menyukaimu.” “Cukup kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN