Hening. Tak ada suara apa pun selain detak jam di atas meja dan napas mereka yang bersahutan, tenggelam dalam keheningan.
Namun isi kepala Vallen justru berisik, memikirkan banyak hal.
Terlalu banyak yang melenceng dari kendali dan prediksinya. Rencana awal yang terpaksa berubah menjadi rencana cadangan, lalu berbelok lagi mengikuti respons Damien yang sama sekali tak terduga.
Memang, sejak awal Vallen sengaja menebar umpan, berniat membuat Damien tertarik padanya, hanya sekedar jebakan — bukan tujuan akhir. Dan seharusnya, strateginya berjalan perlahan, tapi responnya justru luar biasa cepat.
Apa mantan suaminya ini memang semudah itu tertarik pada wanita?
Atau … itu hanya cara Damien memastikan kecurigaannya belaka?
Memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, Vallen jadi teringat tentang Bianca.
Bagaimana sebenarnya awal pertemuan mereka dulu? Apakah Bianca yang lebih dulu memainkan perannya dan menggoda dengan licik hingga Damien kehilangan kendali?
Ataukah … justru Damien yang lebih dulu mengejar, merasa b*******h pada sosok baru, lalu dengan dingin membiarkan Hera tersingkir demi memuaskan hasratnya?
Segala kemungkinan itu berkecamuk liar di kepala, berputar tanpa satu pun jawaban pasti. Ia hanyut dalam kecurigaan yang membuat perutnya terasa mual.
Hingga tanpa ia sadari, pria yang memeluknya dari belakang perlahan tenggelam dalam lelap.
Napas Damien yang stabil berembus pelan menyentuh tengkuk Vallen, memberikan sensasi hangat yang sangat kontras dengan dinginnya situasi mereka saat ini.
“Dia tidur?” batinnya, penasaran.
Menyadari tak ada lagi pergerakan, Vallen menoleh sedikit, memastikan. Mata Damien sudah tertutup rapat, wajahnya benar-benar rileks.
“Sungguh? Secepat itu?” Kening Vallen mengerut, heran pastinya.
Setelah konfrontasi dan adegan panas yang menyulut gairah, Damien benar-benar tertidur pulas, bahkan sebelum menuntaskan hasratnya.
Vallen sampai tak bisa berkata-kata. Haruskah dia bersyukur, atau justru semakin waspada?
Ia mencoba bergerak, menyingkirkan tangan besar yang sejak tadi membelenggu tubuhnya. Namun saat ia hendak mengangkat tangan Damen, eratannya justru menguat.
Pria itu mendekapnya lebih dalam, seolah sedang memeluk satu-satunya nyawa yang tersisa dalam hidupnya.
Pada akhirnya, Vallen hanya bisa pasrah.
Sambil berusaha menjaga matanya tetap terbuka, ia berjuang untuk tetap sadar. Ia terus merapal dalam hati bahwa ia harus tetap berjaga-jaga.
Namun, waktu dan rasa lelah seakan melunturkan segalanya.
Entah karena pelukan itu secara paksa menariknya kembali pada kenangan masa lalu, atau karena rasa nyaman yang datang tanpa diundang — sebuah rasa nyaman yang kini terasa seperti bentuk pengkhianatan terhadap seluruh rencananya sendiri.
Vallen pun terlelap tanpa sadar, nyaris nyenyak dalam pelukan hangat sang mantan suami.
***
Mentari menyusup masuk melalui celah jendela, membuat mata Vallen terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, membiarkan pandangannya menyesuaikan diri, sementara ingatan semalam datang menyerbu.
Begitu kepingan ingatan itu menyatu, Vallen tersentak dan langsung duduk tegak. Napasnya sedikit memburu.
“Gila!”
Umpatannya lolos begitu saja. Kepalanya berdenyut halus saat ia menekan pelipisnya, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang terjadi semalam bukan sekadar mimpi buruk atau fantasi absurd yang diciptakan pikirannya sendiri.
Ia menoleh ke samping.
Kosong.
Damien sudah tidak ada disampingnya. Sisi tempat tidur itu sudah mendingin, hanya meninggalkan jejak kusut.
Perlahan, ia membiarkan pandangannya berkeliling, menelusuri setiap sudut ruangan yang terasa sunyi, seakan mengejek dirinya.
Saat itulah, perhatiannya terhenti pada sebuah benda yang tampak mencolok di atas meja nakas. Sebuah kartu nama hitam elegan yang ditindih oleh selembar memo kecil.
“Hubungi aku!” Begitu yang tertulis di sana, lengkap dengan nomer telepon.
Sudut bibir Vallen terangkat membentuk seringai sinis.
“Si b******n,” gumamnya pelan.
Tangannya meremas memo itu hingga kusut. Amarahnya tumpah tanpa ia saring lagi.
“Setelah membuat kegaduhan luar biasa, dia langsung pergi? Seenaknya begitu?”
Remasan kertas itu pun melayang ke lantai.
“Memang dasar k*****t,” desisnya getir. “Bisa-bisanya aku dulu jatuh cinta padanya.”
Ia menjatuhkan tubuh kembali ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, membiarkan pikirannya bergulat tanpa arah. Sesaat ia mencemaskan identitasnya yang nyaris terbongkar, sesaat kemudian terjebak pada praduga-praduga semalam.
Kepalanya kembali berisik. Namun tanpa sadar, jemarinya justru menyentuh bibir yang masih terasa sedikit bengkak dan sensitif.
Sisa cumbuan brutal semalam membekas terasa nyata. Bahkan kehangatan tipis yang semalaman ia rasakan masih tertinggal di sana, sepotong rasa yang terlalu ia kenal, sekaligus paling ingin dimusnahkan.
“Sialan!” gerutunya, buru-buru menarik tangannya, menepis sensasi itu dengan cepat.
Tidak, dia tidak boleh larut dalam perasaan. Perasaan adalah racun yang bisa membuyarkan seluruh misinya.
Namun sialnya, jantungnya justru bergemuruh tak menentu, seakan sedang mengkhianati logika dengan menghadirkan debaran yang seharusnya sudah terkubur mati lima tahun lalu.
Vallen nyaris mengumpat lagi, setengah frustrasi.
Ia terdiam cukup lama dalam keheningan yang menyesakkan, berusaha menata kembali dinding pertahanannya yang sempat retak.
Hingga bunyi bel pintu yang ditekan bertubi-tubi memaksanya tersentak.
Buru-buru ia bangkit, merapikan bathrobes-nya yang sedikit melonggar, lalu berjalan menuju pintu.
Begitu dibuka, Jane sudah berdiri di sana dengan wajah kusut — nyaris sama frustrasinya dengan dirinya.
“Memang dasar botak sialan!” omel Jane tanpa salam.
“Dia menahanku semalaman penuh di lab hanya untuk urusan administrasi! Padahal dia cuma asisten profesor, tapi logikanya lebih tumpul dariku!”
Tanpa menunggu respons, Jane menerobos masuk dan membanting tasnya ke sofa. Ia sama sekali belum menyadari bahwa aroma parfum maskulin masih menggantung samar di dalam ruangan.
“Siapa? Asisten profesor?” tanya Vallen, menutup pintu.
“Iya! Si kepala botak itu,” gerutu Jane sambil melangkah ke dapur dan mengambil sebotol soda dari kulkas.
“Dia ikut penelitian di Italia, tapi mengurus administrasi saja tidak becus. Akhirnya, profesor yang menyuruhku membantunya.”
Jane meneguk sodanya, lalu menoleh dengan mata membulat. “Dan kau tahu yang paling menyebalkan? Dia juga menyuruhku menulis ulang daftar makalah yang dia tinggalkan di Korea! Untung saja ada Dokter Lee.”
Vallen tertegun sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu, sementara Jane menghabiskan isi botolnya.
“Se-sebentar,” potong Vallen. “Alasan Dokter Lee ada di Italia … karena penelitian?”
Jane menoleh dengan alis bertaut. “Kau lupa? Bukannya Dokter Lee sudah pernah bilang?”
Ingatan lama perlahan menyusup.
Sekitar setengah tahun lalu, saat Vallen sempat kembali ke Korea untuk menyapa Jane dan profesor, ia memang bertemu Dokter Lee dalam sebuah jamuan makan malam. Namun detail percakapan mereka saat itu nyaris menguap dari benaknya.
“Sudah kuduga,” dengus Jane. “Padahal aku sudah pernah memberitahumu.”
Ia menjatuhkan diri ke sofa, sambil melanjutkan, “Mereka terlibat penelitian kolaborasi lintas negara yang didanai beberapa perusahaan, termasuk perusahaan milik Dokter Lee.”
“Berapa lama mereka di sini?” tanya Vallen pelan.
“Kabarnya cukup lama. Enam sampai delapan bulan ke depan.”
Vallen kembali terdiam. Entah mengapa, kabar itu membuat dadanya terasa tidak nyaman — terlebih mengingat Dokter Lee sempat mengaku sebagai tunangannya.
“Tenang saja,” sambung Jane santai. “Aku sudah memperingatkan Dokter Lee supaya tidak bertindak seperti kemarin lagi.”
Vallen tidak langsung menjawab.
Pikirannya kembali berkecamuk, disusupi rasa takut yang tiba-tiba menggelayut. Takut jika kehadiran Dokter Lee justru akan mengacaukan rencana yang telah ia susun dengan susah payah.
Namun Jane kembali bicara, memotong lamunannya.
“Aku tidak mengatakan apapun tentang rencana cadanganmu, dan dia juga tidak akan tahu. Lagipula, pusat riset akan menyita seluruh waktunya.”
Perlahan, Vallen mengangguk, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.
Ia memang belum lama mengenal sosok Lee Jaeha. Namun, Jane selalu punya pasokan gosip tentang dokter bedah itu — mulai dari konflik Lee dengan keluarganya, hingga keputusan kontroversialnya melepaskan gelar dokter.
Ada misteri dalam diri Lee Jaeha yang terkadang membuat Vallen merasa tidak nyaman.
“Ngomong-ngomong.” Jane tiba-tiba memotong lamunan singkat Vallen. “Kau baru saja mandi? Atau … tidur pakai bathrobes?”
Vallen sontak gelagapan, baru sadar sepenuhnya bahwa ia masih terbalut kain handuk tebal itu sejak semalam.
“I-ini — semalam, aku terlalu lelah, tidak sengaja ketiduran.”
“Serius?” Jane menyipitkan mata, menatapnya penuh selidik. “Aku mencium bau asing —”
“Oh, aku ganti parfum,” potong Vallen buru-buru. “Baru coba tadi.”
Ia segera melesat ke kamar dan kembali dengan sebuah botol parfum di tangan, berusaha menutupi jejak aroma woods dan musk khas Damien yang masih tertinggal samar.
“Kau mau coba? Harumnya lumayan enak, cocok untuk olahraga,” tawarnya sembari menyemprotkan parfum itu ke udara.
Namun, Jane tidak bergeming. Ia tidak tertarik pada botol parfum itu. Ia justru mendongak, menatap lurus ke dalam mata Vallen dengan tatapan yang begitu dalam dan serius.
“Hera,” lirih Jane. Sengaja menekan Vallen dengan nama aslinya dan membuat wanita itu seketika membeku.
“Kau tidak bisa menipuku!” lanjutnya tajam.
“Pria itu … datang kesini, kan?”