"I-itu …." Vallen menggantung kalimatnya, otaknya bekerja secepat kilat mencari lubang untuk melarikan diri. Namun Jane tidak memberinya ruang bernapas. "Katakan!" Suaranya menajam, tatapannya menyipit, terkunci lurus pada wajah Vallen. "Siapa yang kau undang masuk —" "Gigolo!" potong Vallen lantang. Suaranya bergema di sudut ruangan, membungkam kalimat Jane seketika. Hening menyeruak. Jane mematung di tempatnya, sementara mulutnya menganga syok mendengar jawaban spontan yang meluncur dari bibir sahabatnya itu. "Itu … itu cuma pria sewaan," lanjut Vallen tergesa, seolah takut jeda sekecil apa pun akan membuka celah bagi Jane untuk mendebatnya. “Dia cuma menemaniku minum.” Nadanya dibuat se-stabil mungkin, mencoba mengurai kecurigaan, meski jemarinya sendiri sibuk meremas bathrobes.

