Emosi Aneh Ibu dan Anak

1397 Kata
Siang itu, matahari akhir pekan terasa hangat di atas kota Milan. Mobil yang dikendarai Jane melaju pelan memasuki kawasan Magenta, kawasan elit di Milan. Deretan rumah megah berdiri angkuh di kiri–kanan jalan, namun salah satu bangunan di ujung blok memancarkan kesombongan berbeda. Megah, luas, dan memamerkan gaya arsitektur klasik yang memaksa siapapun untuk menatap. Jane mengerling sekilas, memicingkan mata. “Jadi ini … rumahnya sekarang?” Vallen menatap bangunan itu lama. Dari informasi yang ia dapatkan dari David, Ricardo Noir memberikan salah satu aset untuk putrinya sebagai kado pernikahan. Namun yang tidak Vallen sangka, ternyata mantan suaminya juga tinggal disini. Di tempat yang diberikan orang lain. Sesuatu dalam diri Vallen tiba-tiba tergelitik geli. Padahal, dulu, Damien paling anti menerima pemberian. Bahkan bantuan sekecil apa pun. Lalu apa yang membuatnya berubah sampai tinggal di rumah yang bahkan bukan miliknya? “Kau yakin tidak dijemput?” tanya Jane ketika mobilnya melewati gerbang utama. “Iya. Dia bilang sopir keluarga akan mengantarku pulang nanti,” jawab Vallen ringan. Jane memandangnya ragu. “Kau … tidak takut?” Vallen tersenyum kecil, terlihat jauh lebih tenang. “Aku sekarang Vallen Losa, Jane. Seluruh gerak-gerikku dipantau penggemar, berita akan meledak dalam hitungan menit jika terjadi sesuatu padaku. Tenang saja.” Pasrah, Jane akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah. Hati-hati.” Setelah Vallen turun, mobil itu perlahan menjauh, meninggalkan Vallen sendirian di hadapan rumah besar yang terasa lebih seperti markas kekuasaan. Begitu ia mendekati pintu utama, pintu kayu besar itu terbuka. “Miss Losa, silakan masuk. Nyonya dan nona muda sudah menunggu,” ujar seorang pelayan. Sikapnya sedikit terlalu hormat untuk sekadar guru balet. Vallen mengangguk dan melangkah masuk. Aroma bunga segar dan wax lantai marmer mengkilap menyambutnya. Lorong panjang dengan hiasan seni mahal membawa mereka ke ruang tamu luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal menggantung megah. “Miss Losa?” Suara itu melengking kecil sebelum tubuh mungil Elliah berlari dan langsung memeluk Vallen erat-erat. Vallen sempat terkejut, tapi tangannya otomatis balas memeluk. “Elliah, bersikaplah sopan pada tamu,” tegur Bianca dari belakang. Terdengar seperti teguran halus, disajikan dengan manis, tetapi entah mengapa di telinga Vallen, teguran itu terdengar seperti peringatan yang tajam. “Maafkan Elliah, Miss,” lanjut Bianca sambil tersenyum. “Saya tidak memberitahunya tentang kelas khusus hari ini. Mungkin karena itu dia terlalu antusias.” “Tidak masalah, Nyonya Harper,” balas Vallen sopan, senyumnya sama profesionalnya dengan Bianca. “Anak kecil memang selalu antusias.” Senyum Bianca tidak berubah, tetapi matanya menyipit halus seolah sedang menilai dan menakar. Sebuah permainan kekuasaan yang biasa dimainkan. “Kalau begitu, biarkan pelayan mengantar Anda ke belakang. Ada aula khusus untuk berlatih.” Pelayan memandunya berjalan lagi, tetapi kali ini Elliah ikut berjalan di sampingnya, tangan kecilnya sesekali terayun ringan, seolah takut mengganggu guru barunya. Sementara Isabel digandeng pengasuh mengikuti di belakang. Saat melewati ruang keluarga, langkah Vallen mendadak melambat, sejenak tanpa disadari. Matanya terpaku pada foto pernikahan yang terpajang di dinding. Wajah Damien masih terlihat sangat berkharisma, senyumnya terlihat lebih lebar samping Bianca yang bersinar dalam balutan gaun pengantin. Untuk sesaat, Vallen lupa bahwa, secara resmi, mereka memang suami istri. Pernikahan keduanya bahkan disiarkan berhari-hari di berbagai sosial media. Seluruh Milan bahkan mengetahuinya. Sebuah emosi singkat melintas di mata Vallen, bukan cemburu, melainkan ironi yang menusuk. Sudut bibir Vallen terangkat sinis, dingin, nyaris tidak terlihat. Sebelum ia dengan cepat melanjutkan langkahnya, menghapus gambaran keluarga bahagia yang terpampang di dinding itu dari pandangannya. Namun tanpa ia sadari, Bianca mengamati semua pergerakan Vallen dari ujung anak tangga dengan mata menyipit tajam. *** Sesi latihan dimulai di sebuah ruangan, tepat di belakang bangunan utama. Bangunannya tidak luas, tapi disulap sedemikian rupa agar mirip dengan aula balet pada umumnya, dengan cermin, palang, dan lantai kayu yang licin. Vallen melatih keduanya dengan sabar. Gerakan demi gerakan ia ulangi, memperbaiki posisi tangan Elliah, meluruskan langkah Isabel, dan membiarkan keduanya mencoba lagi tanpa tergesa. Elliah sudah terlihat menguasai gerakan dasar dengan baik, namun Isabel masih belum. Gadis kecil itu sering kehilangan keseimbangan, bibirnya mengerucut menahan kesal dan frustasi yang jelas terlihat. Namun Vallen justru tergelitik geli dan berlutut, menatap Isabel lembut. “Angkat… turunkan lagi. Pelan saja. Bagus,” lirihnya, memandu kaki kecil itu dengan sentuhan yang meyakinkan. Vallen terlihat sangat sabar. Bukan karena tujuannya, bukan karena penyamaran, tapi ada sesuatu yang menyentuh relung hatinya saat berhadapan dengan Isabel, sesuatu yang sama seperti ia menatap Elliah. Rasa familiar yang lembut, sebuah kehangatan yang Vallen tidak pernah duga akan ia rasakan lagi. Hingga akhirnya, sesi dua jam itu selesai. “Hari ini sampai disini. Kalian hebat, anak-anak,” puji Vallen, suaranya dipenuhi ketulusan. Senyum Elliah dan Isabel terukir bersamaan. “Minggu depan, Miss Losa datang lagi kan?” tanya Isabel malu-malu. Dibanding Elliah, gadis kecil itu lebih pendiam, tetapi semangatnya belajar tidak pernah surut. Vallen merasa bangga untuk pertama kalinya. “Tentu saja,” jawabnya. “HORE!!” Sorakan keduanya melengking bersamaan, memecah kesunyian aula balet. Mereka terlihat senang, bahkan langsung melompat-lompat kegirangan, hingga pengasuh harus memanggil keduanya dengan tegas untuk berganti baju. Vallen tersenyum tipis, membiarkan kehangatan kecil itu bertahan sejenak. Ia kemudian menoleh pada seorang pelayan yang menunggu di ambang pintu aula. “Maaf, sebentar. Apa saya bisa ke kamar mandi sebentar?” tanyanya sebelum meninggalkan ruang latihan. “Tentu, silahkan, Miss.” Pelayan itu kembali memandunya masuk ke rumah utama. Mereka melewati ruang tengah, pintu kamar mandi terletak di sudut, tersembunyi di sebelah anak tangga besar. Vallen sempat berterima kasih sebelum masuk. Tidak sampai sepuluh menit, Vallen keluar dari ruang ganti dengan setelan kemeja putih lembut dan rok span cream yang membingkai siluetnya dengan rapi. Rambutnya yang semula terikat kini diurai kembali, jatuh teratur di bahunya. Langkahnya ringan dan terukur saat ia berjalan kembali menuju ruang tamu utama. Suasananya lebih hangat dari sebelumnya. Bianca duduk menyimak ocehan Isabel, sementara Elliah menikmati segelas jus dengan kaki yang berayun kecil. Ketika pandangannya bertemu Bianca, Vallen memberikan senyum sopan. “Maaf, saya ada acara sebentar lagi. Jadi saya menumpang ganti —” Belum sempat melanjutkan, kalimatnya sudah terpotong oleh teriakan Elliah. “Daddy!!!” Kedua gadis kecil itu langsung melompat dari sofa dan berlari ke arah pintu utama, langkah kecil mereka memantul seperti dentuman kecil di d**a Vallen. Bianca juga langsung berdiri, merapikan rambutnya sekilas. “Maaf, sepertinya suamiku sudah pulang,” katanya singkat, lalu mengikuti langkah kedua putrinya. Damien masuk dengan langkah lebar, senyumnya mengembang saat ia memeluk kedua putrinya. Sungguh, pemandangan keluarga bahagia yang dulu pernah Vallen rasakan, sepotong masa lalu yang kini menjadi milik orang lain. Seketika, tangan Vallen mengepal di sisi tubuh, jantungnya serasa tertusuk tajam. Namun Damien justru jauh lebih tercengang saat ia melihat sosok Vallen ada di dalam rumahnya. Tatapannya langsung membulat, tangannya mengerat tanpa sadar.. Dalam sepersekian detik itu, Vallen melengkungkan senyum lembut,senyum yang pernah Damien hafal betul ritmenya. “Oh, aku menyuruhnya melatih Isabel juga,” ujar Bianca ramah, sengaja menempel pada pinggang Damien dan menariknya sedikit lebih dekat, seperti menunjukkan klaim kepemilikan. “Putrimu terus merengek ingin ikut latihan. Aku tidak tega.” Senyum menyeringai muncul di bibirnya, jari-jarinya menyusuri d**a Damien dengan halus. Rahang Damien terlihat mengetat, tetapi tatapannya masih terpaku pada Vallen yang berdiri anggun dengan setelan baju rapi. Entah mengapa, di mata Damien, Vallen justru berdiri dengan kaos putih tipis dan roknya yang menjuntai, seperti yang ia lihat di video. Sexy, mempesona, dan menggairahkan — sosok yang mengusik setiap kendali dirinya. “Kenapa pulang tiba-tiba? Bukannya masih ada acara lagi, Sayang?” Pertanyaan Bianca membuat Damien terhenyak dari pandangan gelapnya. Ia menurunkan Isabel yang sejak tadi digendongnya, menyuruh kedua putrinya istirahat di kamar. “Ada barang yang tertinggal,” jawab Damien singkat. Di saat bersamaan, langkah berat terdengar dari pintu. Shin masuk sambil membawa beberapa paper bag. Seketika, napas Vallen tercekat. Jantungnya tersentak kuat, rasa dingin menjalar dari ujung jari. Namun alih-alih bereaksi, ia menelan ludah pelan dan membungkuk sedikit. “Nyonya, Tuan Harper, karena sesi latihan sudah selesai, saya pamit dulu.” “Sebentar, Miss,” tahan Bianca cepat. “Bagaimana jika makan siang dulu?” Senyum Vallen masih terulas, profesional. “Maaf, Nyonya Harper. Saya masih ada acara.” Bianca menahan hela napas kecewa, tetapi senyumnya tetap terjaga, “Kalau begitu, tunggu sebentar. Biar aku siapkan sopir. Aku kan sudah berjanji,” ujarnya lembut, seolah hanya menunaikan kewajiban sosial. Kemudian, ia menoleh pada Shin, yang baru saja meletakkan paper bag dan hendak mundur dari ruang tengah. “Shin, antar Miss Losa dulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN