Istri Sebenarnya dan Istri Palsu

1373 Kata
Shin berdiri kaku di tengah karpet tipis apartemen kecil itu. Untuk sesaat, ia terlihat seperti pria yang sedang menimbang nasibnya, mempertaruhkan setiap detik hidup-matinya sendiri di bawah tatapan tajam sang majikan. Keringat dingin mulai merambat di punggungnya. “Saya tidak mengkhianati Anda, Tuan.” Suaranya bergetar, namun ia memaksa pundaknya tetap tegak, seolah kekuatan itu bisa menahan hukuman yang akan datang. “Sungguh, saya menarik Nyonya Hera ke atas. Sama persis seperti perintah Anda.” Damien hanya menatap Shin, sedikit lebih lama. Itu bukan tatapan penuh emosi, justru tatapannya terlihat tenang, tapi sangat berbahaya dan lebih mengancam. Ia memeriksa setiap perubahan kecil pada wajah Shin, membedah kejujuran yang coba disembunyikan pria itu. Cahaya kota yang menembus tirai jendela memantul di mata Damien, membuat tatapannya berkilau, seperti bilah tipis yang siap menyayat. Keheningan itu mencengkeram. Lalu, Damien perlahan bersandar ke belakang, menyilangkan kaki. Gerakan santai itu justru menambah tekanan. “Kalau begitu …” Damien menjeda, suaranya pelan dan berbisik, tetapi bergema mematikan di ruangan itu. “Di mana keberadaan istriku sekarang, Shin?” Shin kembali mematung, seolah tubuhnya mendadak diisi timah. Ia tidak bisa memberi jawaban apa pun. Kepala yang tadi ia tegakkan, kini kembali tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai basah oleh peluh. Namun tiba-tiba, TRINGGG Suara dering ponsel yang keras dan mendadak itu memecah keheningan. Shin tersentak dan langsung mengangkat wajahnya, menatap manik hitam Damien, seolah meminta izin. Damien hanya mengangkat satu alis sebagai jawaban. Shin menelan ludah, mengambil ponsel dari saku. Nama yang muncul di layar sontak membuat wajahnya semakin memucat. “Dari Nyonya … Bianca,” gumamnya. "Angkat," perintahnya dingin. Sambil menahan gemuruh dadanya, Shin mengangkat panggilan itu. Ia bahkan langsung menyalakan loudspeaker tanpa diperintah. “Kau di mana?” Suara Bianca yang renyah dan menuntut langsung menerobos keheningan ruangan. “Di taman dekat kejaksaan, Nyonya,” jawab Shin cepat, berusaha menstabilkan napasnya. “Tuan meminta berhenti sebentar untuk merokok.” “Sudah semalam ini! Untuk apa merokok segala! Sejak kapan itu jadi kebiasaannya!” “Dasar! Masih saja tidak berubah!” Suara Bianca meledak begitu saja, menyambar seperti cambuk yang diayunkan dengan liar dan sembarangan. Shin hanya bisa menelan ludahnya susah payah, menatap wajah Damien yang mengeras, urat-urat rahangnya terlihat jelas, tetapi sang tuan hanya memberi tatapan tajam. “Apa saja agendanya minggu besok?” Pertanyaan Bianca meluncur dengan ringan, tetapi ada desakan tersembunyi di baliknya. Shin kembali menatap Damien yang kini mengangguk pelan, mengizinkannya berbicara. “Besok …” Shin sedikit ragu, tapi ia tetap melanjutkan. “Ada pertemuan dengan pihak kejaksaan pukul sepuluh. Waktu pertemuannya sekitar dua jam. Lalu Tuan akan menghadiri pesta keluarga Senan pukul dua siang.” Hening. Tidak ada suara apapun di sebrang. Shin tidak berani berbicara lagi, hanya bisa merasakan tatapan Damien di depannya yang menusuk, seolah siap membunuhnya di tempat jika ia membuat kesalahan. Keheningan yang menyesakkan itu akhirnya pecah oleh suara Bianca, singkat dan tanpa emosi. “Oke.” Lalu, telepon ditutup begitu saja tanpa salam. Shin menurunkan ponselnya, napasnya sedikit tidak teratur. Tapi mata Damien masih memincing tajam. Ia membuang puntung rokoknya ke asbak kristal, mengisi kembali gelas alkoholnya. “Apa yang dia rencanakan kali ini?” lirihnya “Saya… sungguh tidak tahu, Tuan.” Shin langsung menggeleng, kepanikannya terlihat jujur. “Nyonya belum sepenuhnya mempercayai saya. Dia hanya meminta jadwal seperti biasa.” Damien tidak menanggapi. Ia kembali menyandarkan diri kembali ke kursinya, mengambil rokok baru, dan menarik tarikan dalam yang menenangkan. Asap keluar perlahan dari bibirnya, menggulung naik seperti kabut tipis, seperti sedang menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap, jauh lebih berbahaya yang sedang ia pikirkan. “Perlukan saya cari tahu, Tuan?” tanya Shin tanpa ragu. “Tidak! Besok juga akan tahu sendiri! Awasi saja seperti biasa!” *** Berbeda dengan Damien yang terus dihantui bayangan Vallen, dunia Vallen justru berjalan dengan damai dan tenang. Seolah tak terusik sama sekali. Dalam seminggu terakhir, ia tenggelam dalam rutinitas barunya di St. Louis. Meski identitas sebagai guru balet hanya topeng, tapi cara Vallen mengajar sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Koreksi yang ia berikan, demonstrasi gerakan, semuanya rapi. Fokusnya nyaris terlalu sempurna untuk sebuah penyamaran. Di studio yang diterangi cahaya lembut siang hari, Vallen memandu para murid tingkat menengah melakukan kombinasi pirouette dan footwork. Anak-anak mengikuti dengan serius, napas mereka teratur, langkah mereka terarah. “Bagus. Luruskan pergelangan … ya, seperti itu,” ucap Vallen sambil memperagakan sedikit. Loren, asisten barunya, berdiri di sisi ruangan sambil membantu murid lain memperbaiki postur. Sesekali ia mencatat sesuatu di tablet, tampak bangga dengan kemajuan kelas hari itu. Namun entah kenapa, tiba-tiba ia memiringkan kepalanya, senyum geli muncul di wajahnya. “Miss, dia datang lagi,” bisik Loren di telinga Vallen. Vallen tertegun sejenak. Sebelum akhirnya menyadari tanpa perlu mencari tahu sosok siapa yang dikatakan Loren. Dari sudut ruangan, ia bisa melihat bayangan kecil yang mencoba bersembunyi, tetapi justru terpantul jelas di cermin memanjang yang ada di seluruh sisi studio. Suatu pemandangan yang terlalu lucu untuk diabaikan. Vallen hampir tidak bisa menyembunyikan tawa lucunya saat melihat itu. Lalu, tanpa mengabaikan anak-anak yang lain, ia berjalan mendekat dengan langkah ringan, nyaris tanpa suara. Ia memastikan gadis kecil yang sedang mengintip itu tidak sadar akan kehadirannya. Begitu sampai persis di belakang pintu kaca, Vallen membungkuk sedikit. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat ia berbisik pelan, tepat di telinga Elliah. “Elliah …,” panggilnya lembut. Gadis kecil itu terlonjak seperti anak kucing yang kepergok mencuri makanan. Ia menatap Vallen, kemudian tersenyum malu-malu, memperlihatkan dua baris gigi kecilnya yang belum rapi. “Miss … Losa,” sapanya lirih sambil memegang ujung roknya. “Iya, Elliah,” jawab Vallen lembut. “Aku … itu … ummm …” Elliah menautkan kedua telunjuknya, matanya menoleh ke kiri dan kanan tanpa arah, pipinya bersemu merah. Vallen tidak bisa menahan senyumnya. Ada sedikit rasa hangat yang muncul, rasa asing yang mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu. Saat ia sedang sibuk mencari alasan di depan Ronan karena kepergok makan coklat, gerak-geriknya sama persis seperti Elliah. “Elliah penasaran, ya?” tanya Vallen akhirnya. Gadis kecil itu mengangguk cepat. “Itu, Miss, kenapa Miss tidak mengajar di kelasku?” tanyanya penasaran. Vallen menatap gadis kecil itu beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok agar sejajar dengannya. “Kelasmu adalah kelas dasar, Elliah. Itu berarti kamu harus menguasai hal-hal paling dasar dulu sebelum bisa mempelajari hal lain,” jelas Vallen. “Aku sudah bisa plié,” bantah Elliah cepat. Vallen tertawa kecil. “Tentu, kamu sudah bisa plié. Tapi, apakah kamu tahu mengapa kamu harus plié? Apakah kamu sudah menguasai lima posisi kaki dengan sempurna? Apakah kakimu sudah kuat saat harus menahan tubuhmu melompat?” Elliah terdiam. Bibirnya mengerucut. “Balet itu seperti membangun rumah, Sayang,” kata Vallen menjelaskan. “Kamu tidak bisa langsung membangun atap tanpa memastikan pondasinya kuat. Kalau kamu memaksa melompat tanpa kaki yang kuat, kamu akan terluka.” Vallen mengulurkan tangan dan menyentuh pelan bahu kecil Elliah. “Plié yang kamu pelajari di kelas dasar itu adalah pondasimu. Itu yang akan membuatmu bisa melakukan fouetté yang tinggi dan pirouette yang cepat di masa depan.” “Jadi, aku harus tunggu lama agar Miss mengajariku?” tanya Elliah, matanya yang besar memancarkan kekecewaan. “Tidak lama,” kata Vallen sambil mengedipkan mata. “Fokuslah pada kelasmu. Dengarkan gurumu. Kuatkan kakimu. Plié itu membosankan, aku tahu, tapi itu yang paling penting. Dan setelah gurumu mengatakan kamu siap, kamu bisa bergabung dengan kelas ini.” Vallen kemudian berdiri tegak dan tersenyum tulus. “Aku janji. Dan sebagai gantinya, aku akan datang ke kelasmu setiap akhir sesi untuk melihat kemajuanmu.” Mata Elliah langsung bersinar. Senyumnya melebar hingga gigi kecilnya yang belum rapi terlihat lagi. “Benar, Miss?” “Benar,” jawab Vallen. “Sekarang, kembalilah ke kelasmu. Aku tidak mau gurumu marah karena kamu bolos.” Elliah mengangguk semangat. “Sampai nanti, Miss Losa!” serunya, lalu berbalik dan berlari kencang kembali ke kelasnya. Begitu gadis itu menghilang dari pandangan, Loren mendekat sambil menahan tawa. “Anda pandai membujuk anak kecil, Miss.” Vallen berdiri lagi, merapikan rambutnya sekilas, senyum tipisnya langsung lenyap. “Dia memang anak yang penurut, Loren. Dan tidak sulit membuatnya mengerti.” Ia menatap pantulan dirinya di cermin. “Lagi pula, aku akan bertemu dengannya ….” “Besok, di rumahnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN