Jauh dari hingar-bingar ibukota, angin malam menyapu lembut balkon apartemen kecil di Firenze. Vallen bersandar santai di kursi rotan, menyesap wine merah yang aromanya memenuhi udara.
Sementara Jane duduk di sampingnya, memutar gelasnya pelan sambil menikmati rembulan. Suasana begitu tenang, damai, seolah sedang menenggelamkan kerumitan hidup.
Sampai, Jane tiba-tiba berbicara. “Hera —”
Namun perkataannya terputus. Bibirnya buru-buru digigit, sebab salah ucap.
“Maksudku Vallen,” ralatnya cepat.
Vallen terkekeh tipis, nada tawanya lembut tapi terdengar seperti sindiran halus. “Belum terbiasa juga, ya?”
Jane menghela napas pendek, mengakui dengan mudahnya. “Susah,” jawabnya.
“Aku juga bingung. Saat hanya berdua denganmu begini, rasanya aku sedang duduk dengan Hera.”
Ia menunduk sedikit, bahunya merosot. “Tertutup, penuh teka-teki, tapi juga rapuh dalam satu waktu.”
“Lalu bagaimana dengan Vallen yang kau lihat?” tanya Vallen, tiba-tiba saja ia penasaran.
“Vallen, ya?” Jane menghela napas panjang, menerawang sebentar sebelum menjawab.
“Dia seperti versi lain dirimu. Energetic, karismatik, dan tidak pernah terlihat ragu. Jika Hera terlihat seperti menahan sesuatu. Vallen tidak begitu.”
“Kalau kau bisa bilang begitu, berarti aku di jalur yang tepat.” Vallen tersenyum tipis, lalu mengangkat gelasnya di depan Jane sambil berkata, “Mereka tidak akan bisa mengenali Hera di balik diri Vallen. Benarkan?”
Nada yang ia gunakan ringan, tapi ada sesuatu yang jauh lebih gelap bersembunyi di baliknya. Jane tahu itu. Tapi ia tetap mengangkat gelas miliknya.
Denting halus terdengar ketika kedua gelas bersentuhan—bunyi tipis yang langsung ditelan oleh angin malam. Sejenak, dunia terasa hening. Hanya mereka berdua, dan rahasia yang sama-sama mereka jaga.
“Tapi, Val …”
Jane tiba-tiba menarik napas panjang, jemarinya menekan batang gelas lebih erat. “Aku penasaran.”
“Dari seribu cara, kenapa kau memilih yang ini? Sebenarnya aku sudah ingin bertanya sejak di Amerika, waktu kau bilang ini cuma ‘plan B’. Padahal dia pernah … melakukan hal yang kejam.”
Vallen tidak langsung menjawab. Ada jeda yang sedikit lebih panjang, sunyi yang terasa seperti ruang tempat pikirannya sibuk memilah alasan yang pantas diucapkan.
Tatapannya lurus ke depan, tapi jelas fokusnya tidak berada disana.
“Awalnya memang begitu,” ucapnya akhirnya, pelan. “Karena itu kupilih ini sebagai rencana cadangan. Bukan rencana utama.”
“Bukan karena wanita itu ternyata istrinya, kan?” tanya Jane hati-hati.
Vallen menggeleng. Jemarinya memutar gelas perlahan, suara gesekan halus kaca terdengar samar.
“Aku mengenalnya lebih dari sepuluh tahun, Jane. Saat melihatnya lagi di ruang balet beberapa waktu lalu, aku bisa melihat tatapan pria itu masih sama … seperti lima belas tahun lalu, saat ia pertama kali melihatku.”
Ia menghembuskan napas, seperti membuang beban yang terlalu lama disimpan.
“Waktu itu, aku sedikit berspekulasi. Bagaimana kalau dia tidak terlibat dalam rencana lima tahun lalu? Bagaimana kalau, justru wanita itu yang mengatur semuanya? Membangun spekulasi yang membuatku percaya Damien mengkhianatiku.”
Jane terdiam. Kata-kata itu terasa terlalu masuk akal untuk ditolak mentah-mentah.
“Tapi dia juga menginginkan kematianmu, Val. Kau sendiri yang bilang begitu ketika mencoba menghubunginya,” ujar Jane.
“Benar.” Vallen mengangkat bahu sedikit. “Tapi tidak ada bukti pasti. Kita juga sudah mencarinya selama ini, dan tidak ada satupun petunjuk jelas.”
Vallen meneguk sisa minumannya, lalu meletakkan gelas di meja. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap Jane langsung.
“Tenang saja. Aku tahu batasanku, dan tidak akan ketahuan sampai semuanya selesai.”
Hela napas pendek Jane terdengar. “Aku percaya itu. Tapi, aku sedikit khawatir soal dokter Lee.”
Alis Vallen terangkat sedikit. “Kalau begitu, jangan beritahu dia. Selesai.”
Andai semudah itu, Jane pasti sudah melakukannya sejak lama.
Dokter Lee terlalu sering menanyakan kabar Vallen padanya. Hubungan itu memang secara teknis hanya dokter–pasien, tapi Jane tahu, bahwa Dokter Lee tidak melihatnya sebatas itu.
Ada sesuatu di balik perhatian pria itu. Entah murni simpati … atau sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Oh, aku lupa,” ucap Vallen tiba-tiba. “Minggu depan, aku mulai melatih kedua putri Damien.”
Jane mengangguk kecil, masih memikirkan hal sebelumnya. “Iya. Dokter Lee juga datang minggu depan. Kau harus siap-siap.”
Hening menyeruak seketika. Namun tidak lama, sampai keduanya memproses perkataan yang baru saja mereka dengar.
Lalu kemudian, mereka kompak menoleh — “APA!?”
***
Dalam gelapnya malam, Damien terlihat duduk di kursi, jemarinya menjepit sebatang rokok yang sudah menyala. Asapnya bercampur dengan aroma alkohol dari gelas yang ia genggam di tangan satunya.
Sudah beberapa hari berlalu sejak Damian menonton video dari flashdisk yang dipungut sembarangan, tapi efeknya belum juga sirna. Bayangan Vallen menari dengan lekuk tubuhnya, cara melompat, berputar — membuat seluruh syaraf Damien seolah melonjak hidup.
Dan yang paling ia benci — hatinya tak pernah merasa resah seperti sekarang, sejak Hera Rhodes dinyatakan mati lima tahun lalu.
Ada perasaan tak asing setiap kali ia berhadapan dengan guru balet putrinya. Namun ia tidak bisa memastikan perasaan seperti apa itu.
"Tidak menemukan apapun, Shin?" tanya Damien tiba-tiba pada seorang pria berumur empat puluhan, yang berdiri di depannya.
Setengah wajahnya tenggelam dalam bayangan, sementara sisanya tertimpa cahaya pucat yang masuk lewat tirai. Di rahang kirinya, bekas goresan lama terlihat samar.
Pria itu menggeleng pelan. “Tidak ada cacat sama sekali, Sir. Wanita itu memang benar putri keluarga Losa. Meski sempat dikabarkan menghilang, keluarga bisa membuktikan bahwa dia berada di rumah neneknya.”
Damien menelan ludah, tenggorokannya kering. “Dia juga menyelidiki ini?”
“Ya, Tuan,” jawab Shin tanpa ragu.
Keheningan turun, pekat. Damien menyandarkan diri, menatap jauh ke luar jendela seolah sedang mencari jawaban di kegelapan langit Milan.
“Menurutmu … apa yang dipikirkan wanita itu, Shin?”
Shin menunduk sedikit. “Saya tidak yakin, Tuan. Tapi mungkin … sama seperti Anda.”
Satu tarikan rokok masuk dalam-dalam ke paru-paru Damien. Jarinya mengetuk meja, ritmenya pelan, tapi terdengar mematikan.
Setelah ia terdiam beberapa saat, akhirnya bibirnya terbuka, satu perintah turun dengan pertimbangan matang.
“Kalau begitu, carikan kerangka untuknya. Buat satu DNA yang mirip,” ucapanya.
Tatapannya naik, menancap pada Shin. “Kau harus menghapus kecurigaannya pada guru balet itu, Shin. Jangan sampai dia membuat keributan.”
Shin mengangkat kepala, memahami sepenuhnya maksud di balik perintah itu.
Damien melanjutkan, lebih pelan, “Karena hanya boleh aku yang curiga. Mengerti, Shin?”
Tanpa pertimbangan, Shin langsung mengangguk. “Saya akan menghapus semua kecurigaan nyonya tentang Nona Losa.”
“Ya, seharusnya begitu,” lirihnya. Tapi matanya semakin tajam, “Kau tidak mungkin menghianati ku kan, Shin? Aku sungguh percaya padamu.”
“Anda bisa membunuh saya sekarang jika ingin, Tuan.”
Tawa Damien pecah, rendah dan berat, memantul di dinding sempit ruangan hingga membuat udara yang sudah sesak terasa semakin pekat.
Setelah puas, ia menegakkan duduknya kembali, lalu menatap Shin dengan puas.
“Bagus,” pujinya sarkas.
Alkohol di dalam gelas diteguk sampai tandas, sebelum ia bicara lagi.
“Sekarang, balas pesannya. Katakan aku sedang berada di rumah keluarga Noir, membicarakan kesepakatan terbaru.”
Shin terdiam sejenak. “Anda yakin, Tuan?”
“Kenapa? Kau ragu, Shin?”
Damien mencondongkan tubuh, tatapannya meruncing tajam. “Jika kau ragu … coba carikan aku keberadaan istriku. Ini sudah lima tahun, Shin.”
“Bukankah waktu itu aku sudah menyuruhmu menariknya ke atas?” Kepalanya miring sedikit, senyum mengerikan kembali muncul.
“Apa pada akhirnya kau ragu … dan menenggelamkannya lagi? Hmm?”