Rencana Tak Terduga - Mulai Tebayang

1598 Kata
Damien membeku. Pria itu hanya bisa menatap punggung Vallen yang perlahan menjauh, langkahnya ringan, tegak, dan tenang. Seolah menegaskan dengan sangat jelas bahwa urusannya hari ini hanyalah tentang kelas balet Elliah. Tidak lebih, tidak kurang. Namun anehnya, dalam diri Damien justru bergemuruh, tak nyaman, seperti ada yang luput dari genggamannya. Tanpa ia sadari, kedua tangannya mengepal begitu keras hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. “Apa-apaan ini?” gumamnya frustasi. Ia mengusap wajah, menarik napas panjang, berusaha menepis perasaan asing yang tiba-tiba muncul itu. Lama ia berdiri di sana, membiarkan pikirannya melayang tanpa arah. Namun pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok bergaun hitam yang kini membaur dengan para wali murid, termasuk dengan istrinya, Bianca. “Penampilan Anda sungguh luar biasa, Miss Losa,” puji Bianca ramah, berdiri bersama beberapa wali murid lain. Vallen membalasnya dengan sopan, tanpa sedikit pun menunjukkan niat atau emosi lain yang tersimpan di balik topengnya itu. Sesekali ia menanggapi pertanyaan lain, tersenyum, menyapa, melayani. Semuanya tampak natural. Namun sorot matanya, itu tak bisa bohong. Sesekali tatapan Vallen terarah pada Elliah, yang kini duduk bersama pengasuhnya, sibuk menikmati makanan kecil. Di sekelilingnya, anak-anak lain seusia Elliah tampak duduk bersama orang tua masing-masing, bermanja-manja dengan riang. Hati Vallen terasa teriris. Naluri seorang ibu menyentuh bagian dirinya yang selama ini dikurung rapat. Ia hampir melangkah. Hanya selangkah — sedikit — menuju putrinya. Namun langkah itu tertahan seketika, saat Damien mendekat ke meja putrinya. Lalu tanpa ragu, pria itu menunduk dan mengecup lembut kepala Elliah. Wajah gadis itu langsung terlihat bersinar. “Miss … Miss Losa?” Panggilan itu menyentaknya. Vallen menoleh, mendapati beberapa wali murid memperhatikannya—termasuk Bianca. “Oh—maaf,” ucapnya cepat sambil tersenyum kecil. “Saya mendadak ingat, kalau manajer saya datang hari ini. Tapi saya lupa, jam berapa ia tiba, jadi … saya sedikit kepikiran,” elaknya. “Manajer? Astaga! Apa Anda sungguh akan tampil di show musim dingin tahun ini?” tanya salah satu wali murid, hampir terlonjak. “Ah, itu agenda dadakan,” sahut Vallen ringan. “Apa … anak-anak juga bisa ikut tampil?” Pertanyaan itu datang penuh harap, membuat beberapa orang tua lain ikut menoleh, tak sabar menunggu jawabannya. Namun Vallen tak langsung menjawab. Pandangannya justru tertahan pada Bianca yang saat itu sedang melambai memanggil Elliah, senyum hangat terpamer jelas di wajahnya. Entah kenapa, melihat itu membuat Vallen terpikirkan sesuatu. “Sepertinya, itu ide bagus,” ucap Vallen akhirnya. “Saya juga bisa mempromosikan kelas balet pada semua orang.” “Su-sungguh bisa seperti itu?” seru seorang wali murid, hampir tak percaya. Vallen sempat melirik Bianca yang kini menunduk membetulkan pita di rambut putrinya. Perlahan, Vallen kembali menatap para wali murid. “Saya koordinasikan dulu dengan manajer dan pihak penyelenggara,” lanjutnya. “Ini bukan acara formal, jadi kemungkinan besar bisa diatur.” “Ya Tuhan! Putri saya bisa tampil nanti!” “Anak-anak harus berlatih giat, tentu saja!” Percakapan berubah riuh, penuh antusiasme. Wajah-wajah para orang tua tampak sumringah, terpukau, tersanjung, seperti baru saja mendapat kehormatan langka hanya karena anak mereka berkesempatan menari di panggung yang sama dengan seorang Vallen Losa. Namun di balik senyum samar itu, hati kecil Vallen tiba-tiba terasa geli. Sekarang mereka memuja dirinya dengan nama baru yang disandang. Padahal di masa lalu, berapa banyak yang mencibir Hera Rhodes? Apa mereka juga ada disini sekarang, membanggakan nama Vallen Losa? Entahlah. *** Saat acara selesai, Vallen langsung berpamitan. Ia ingin pergi sebelum ada lagi orang yang mencoba berbasa-basi dengannya. Namun baru saja ia hendak membuka pintu mobil, sebuah suara menghentikan langkahnya. “Miss Losa … sebentar.” Vallen menoleh. Bianca berjalan mendekat sambil menggandeng seorang anak kecil, langkahnya anggun, namun tatapannya jelas menyimpan niat lain. “Ya, Nyonya Harper,” sahut Vallen halus. “Begini.” Bianca menarik napas, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya. “Saya tidak ingin mengganggu waktu Anda, jadi saya langsung ke inti saja.” Vallen hanya diam, menunggu. “Bisakah Anda membuka kelas pribadi? Saya siap membayar berapapun yang Anda minta.” Belum sempat Vallen memberi jawaban penuh, Bianca sudah mendorong pelan putrinya ke depan. “Ini Isabel. Dia sejak kemarin terus merengek pada kakaknya karena ingin ikut kelas balet,” ucap Bianca, setengah memohon, setengah memaksa. Isabel berdiri canggung, memegang erat tangan ibunya. Mata bulat itu menatap Vallen dengan malu-malu, dan sedikit terpukau. “Elliah sangat sering menonton pertunjukan Anda di televisi,” lanjut Bianca. “Isabel jadi ikut-ikutan dan … yah, sepertinya dia benar-benar ingin belajar.” “Saya tidak masalah berapapun yang Anda inginkan. Atau mengajari mereka seminggu sekali pun cukup,” lanjutnya. “Sebagai ibu, saya hanya ingin membahagiakan putri saya. Mengusahakan apapun yang terbaik.” Ia menekankan kata ‘ibu’ dengan cara yang terdengar lembut, namun jelas dimaksudkan sebagai tameng, sebuah alasan yang tak mungkin ditolak oleh siapa pun yang masih punya hati. “Dan saya yakin, Elliah akan sangat senang jika mereka bisa belajar bersama di luar sekolah.” Keheningan sempat menggantung. Vallen menatap bergantian antara Bianca dan anak kecil itu. Tidak ada kata-kata dari Isabel, hanya tatapan lekat yang polos dan gugup. Pelan-pelan, Vallen berjongkok agar sejajar dengannya. Senyum tipis terbit. “Halo, Isabel,” sapanya lembut. Anak itu tersentak kecil, pipinya memerah. “Ha—halo, Nona … uh, Miss …” ucapnya terbata, segera menutup mulut karena salah sebut. “Dia memang mudah gugup,” sela Bianca pelan. Vallen tidak tertawa, tidak juga tersinggung. Ia hanya menatap wajah mungil itu lama. Wajah yang tak pernah ia sangka akan membuat dadanya terasa aneh. Tersentuh. Hangat. Padahal gadis itu adalah putri dari wanita yang telah menghancurkan hidupnya dahulu. “Sebenarnya,” ujar Vallen akhirnya sambil mengelus lembut kepala Isabel, “saya tidak ingin mengambil kelas pribadi. Takut para orang tua yang lain ikut meminta.” “Itu tidak akan terjadi. Saya akan pastikan.” Nada bicara Bianca terdengar tenang, seperti yakin bisa mengatasi para orang tua murid yang lain. Memang, siapa yang tidak segan dari putri seorang senator Italia? Vallen menghela napas tipis. Senyum samar menghiasi bibirnya, meski hanya sekilas. “Tapi saya tidak bisa menyediakan banyak waktu. Mungkin hanya seminggu sekali, atau dua kali jika memungkinkan.” “Tentu saja.” Bianca tersenyum lega, hampir berseri. “Bagaimana kalau mulai minggu ini? Anda bisa datang ke rumah. Saya akan menyiapkan satu ruangan khusus untuk mereka belajar.” “Baik. Saya akan datang.” *** Sinar lampu neon ruang kerja Damien di kantor pengadilan memantul di lensa kacamatanya, menyisakan bayangan lelah di wajah tajamnya. Ia memilah setumpuk dokumen, memilih lima berkas penting, lalu beranjak pergi. Milan sudah mulai lengang saat mobilnya melaju menembus jalanan. Namun alih-alih mengarah ke mansion luasnya, Damien berbelok menuju pinggiran kota—menuju sebuah apartemen kecil yang nyaris tak pantas dihuni seseorang sekelas dirinya. Sederhana, hanya ada satu kamar saja. Tapi sistem keamanannya ketat, seolah tempat itu menyimpan rahasia besar. Begitu pintu tertutup, Damien melempar begitu saja berkas ke meja. Jasnya jatuh di sofa, membentuk gumpalan kusut yang tak dipedulikan. Lalu ia mengambil ponsel dan mengetik pesan. “Malam ini tidak pulang!” Singkat, padat, tanpa perlu menjelaskan alasannya. Setelah itu, ia mematikan ponsel dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhnya, seakan mencoba memukul mundur kegelisahan yang terus memanas di dadanya. Namun tetap saja. Sisa ciuman itu masih terasa. Masih membekas. Padahal sudah setengah hari berlalu, tapi sensasinya justru semakin kuat, menempel seperti ingatan yang menolak hilang. “Sial…” napasnya pecah. “Kenapa terasa… familiar?” Pertanyaan itu bergema di kepalanya, tapi tak mendapatkan jawaban apa pun selain degup jantungnya sendiri. Setengah jam ia berada di bawah shower, namun tak ada satu detik pun yang berhasil menenangkan hatinya. Pada akhirnya ia menyerah, mematikan shower dan mengambil bathrobe. Ketika melangkah menuju ruang tamu, kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu. Ia menunduk, mengangkat benda kecil itu. Sebuah Flashdisk. Benda sialan yang tanpa ia sadari telah menjadi pemicu rangkaian kejadian yang tidak pernah ia rencanakan. Damien mendesah panjang. Ingatan samar dari ruang staf kembali menghantam kepalanya, hangat tubuh wanita itu, tekanan bibirnya yang manis, aroma lembut parfumnya yang masih melekat di kulitnya. “s**t …” gumamnya parau, rahangnya mengeras. Ia melempar flashdisk itu ke atas meja, bergabung dengan berkas yang berantakan, lalu mulai membuka dokumen di depannya. Baru beberapa lembar ia baca, ponselnya berdering tiba-tiba, suara keras di ruang sempit yang membuatnya mengernyit. Ia menyalakan ponsel, mengangkat panggilan. “Tuan, hasil visum sudah saya kirim ke unit Anda. Ada di dalam flashdisk di atas meja,” lapor seorang pria dengan suara berat. “Flashdisk lagi?” gumam Damien jengkel. “Ya, Tuan? Itu dari kepolisian. Saya hanya membawa—” “Cukup,” potong Damien pendek. Tanpa menyalakan lampu, ia meraih salah satu flashdisk dari tiga yang tergeletak di meja—asal saja, tanpa peduli mana yang benar. Ia tancapkan ke laptop. Belum sempat memilih file, sebuah video langsung menyala otomatis. Cahaya dari layar memecah kegelapan ruangan, memantul tipis pada wajah Damien yang tiba-tiba terhenti. Kedua matanya tak berkedip, seolah sesuatu telah mencengkeram tenggorokannya. “Vall, putar seperti ini? Gerakannya salah—begini.” Suara lembut itu menggema samar, nyaris seperti bisikan yang menyelinap keluar dari masa lalu. Di layar, Vallen berdiri di depan seorang instruktur. Salah satu kakinya berputar, lalu oleng sedikit. “Salah, Vall. Kau harus menumpu seperti ini.” “Begini?” “Bagus. Pertahankan.” Gerakan itu sederhana, tetapi anggunnya mematikan. Setiap putaran, setiap tumpuan, setiap tarikan napas Vallen tampak seperti fragmen memori yang tak asing. Damien terpaku. Ada sesuatu dalam lekuk tubuh Vallen yang menyentik memori lamanya. Dari cara Vallen menegakkan pundaknya, dalam garis lembut wajahnya ketika menahan fokus. Samar-samar teringat seseorang. “Hera ….?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN