Festival masih belum selesai.
Taman utama sekolah berubah menjadi pusat perayaan yang hangat. Semilir angin membawa aroma bunga dari sisi taman, sementara tawa ringan dan denting halus gelas bercampur menjadi satu, memenuhi seluruh area.
Kepala Sekolah Miguel berdiri di tengah kerumunan, wajahnya berseri bangga. Di belakangnya, tiga guru berdiri sejajar—Vallen, Sofia, dan Sam—masing-masing mendapatkan tepuk tangan meriah saat Miguel memperkenalkan mereka.
“Dengan bangga,” ujar Miguel memegang mic, “saya resmikan program seni balet kita. Terima kasih kepada ketiga pengajar luar biasa, hari ini akan menjadi pembuka yang indah.”
Sorak sorai lembut terdengar. Beberapa orang tua ikut menepuk tangan, masih terpesona oleh penampilan di auditorium tadi. Vallen tersenyum, menunduk sedikit sebagai bentuk hormat. Sorot matanya teduh dan ramah, tapi juga memikat siapapun.
Seorang wali murid mendekat, masih tampak terharu. “Penampilan Anda benar-benar memukau, Miss,” ujarnya tulus.
Vallen tersenyum malu-malu, merapikan sedikit ujung gaunnya yang baru diganti. “Ah … terima kasih banyak. Tapi Miss Sofia dan Sir Sam juga luar biasa,” jawabnya lembut.
“Yang benar-benar mencuri perhatian justru penampilan anak-anak. Mereka sangat luar biasa.”
“Anda benar, Miss,” sambung sang wali murid sambil terkekeh kecil. “Mereka pasti bekerja sangat keras.”
Vallen mengangguk, menatap anak-anak yang berkumpul tidak jauh dari sana, beberapa masih memakai hiasan rambut yang belum sempat dilepas.
“Mereka berlatih dengan hati,” sahut wali murid lain.
Belum sempat Vallen menjawab, sebuah sentuhan kecil menarik perhatiannya. Ia menoleh.
“Halo, Miss Losa,” sapanya ramah.
“Halo juga, Elliah. Kita berjumpa lagi. Apa kamu sudah berani menemuiku sekarang?” goda Vallen. Suaranya ramah dan juga hangat.
Elliah langsung merona. Gadis kecil itu memang sudah kepergok mengintip gurunya di ruang balet diam-diam. Namun senyum dan suara Vallen sama sekali tidak membuatnya gugup, justru gadis itu tersipu.
“I-itu … s-saya hanya tidak sabar, Miss,” ucapnya terbata, kedua tangannya menggenggam ujung gaunnya, bahkan tak berani menatap wajah Vallen.
Tingkah polos itu membuat sudut bibir Vallen terangkat. “Oho? Jadi kamu penasaran kapan kelasnya dimulai?” godanya lagi.
Elliah langsung mendongak. Sorot matanya bersinar cerah, seolah seluruh taman yang penuh bunga itu tidak lebih terang dari tatapan gadis kecil itu.
“Iya, iya. Jadi kapan kelasnya dimulai, Miss?” tanyanya tak sabar.
Melihat reaksi itu, hati Vallen tergerak pada tempat yang paling rapuh. Ia mengulurkan tangan, menggenggam tangan kecil Elliah yang hangat.
“Baiklah. Ayo kita temui ibumu dan mengatur kelasnya. Bagaimana?” ajaknya lembut.
Elliah menggigit bibir, ragu. “Eum, itu … bagaimana jika dengan daddy? Apa tidak bisa?”
“Daddy?” Vallen tertegun sejenak.
Gadis kecil itu menatap ujung sepatunya yang sudah sedikit kotor. “Mommy … um, itu—adikku masih kecil. Jadi Mommy sering sibuk.”
Senyum Vallen perlahan mereda. Ia berjongkok, sejajar dengan Elliah. Binar yang tadi begitu hidup di mata kecil itu perlahan meredup seperti lilin tertiup angin.
Satu tangan Vallen reflek mengepal di belakang, berusaha menahan dorongan untuk menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Untuk mengatakan sesuatu yang tidak boleh ia katakan. Sesuatu yang hanya menyisakan luka bila terucap terlalu cepat.
Tatapannya melayang cepat, mencari sosok Bianca.
Di tengah kerumunan orang tua, di antara tawa dan denting gelas sampanye, ia menemukan wanita itu, duduk cantik, menyuapi seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Elliah.
Vallen tak perlu menebak. Ia tahu Bianca dan Damien sudah memiliki putri yang hanya berjarak dua tahun dari Elliah. Namun ia tidak tahu, jarak antara anak kandung dan anak tiri akan sekontras ini.
Napasnya tersangkut di tenggorokan sejenak. Tapi ketika kembali menatap Elliah, senyumnya langsung terukir, tipis dan lembut.
“It’s okay,” ucapnya sambil mengusap tangan kecil itu. “Daddy pun tidak masalah.”
“Jadi, bisakah kamu tunjukkan dimana daddymu?”
Elliah langsung mengangguk cepat, hampir melonjak kecil. “Ayo, Miss! Daddy ada di sana!” serunya tak sabar.
Gadis kecil itu menggenggam tangan Vallen tanpa ragu, menariknya di antara kerumunan para tamu. Jemari mungil yang hangat itu membuat hatinya campur aduk. Antara bahagia, rindu, dan sesuatu yang begitu dalam hingga nyaris menyakitkan.
Setelah lebih dari lima tahun terpisah, akhirnya ia bisa merasakan lagi tangan kecil itu. Sentuhan sederhana yang terasa menusuk seperti jangkar, menenangkan sekaligus menegaskan luka lama yang belum sembuh.
Elliah menuntun Vallen melewati meja-meja bulat yang dipenuhi gelas sampanye, menuju sudut taman di mana Damien berdiri. Pria itu tampak sibuk, sedikit terpisah dari keramaian, berbicara santai dengan sekelompok orang tua.
“Daddy!” panggil Elliah.
Damien menoleh. Senyum santainya seketika menghilang.
Sorot matanya langsung mengeras, ekspresinya berubah dingin saat melihat siapa yang digandeng Elliah. Bayangan ciuman brutal di ruang staf tadi kembali menghantamnya.
Namun Vallen justru terlihat tenang.
Senyum ramahnya masih mengembang, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan tajam Damien. Namun, di balik dress hitamnya, kaki Vallen gemetar halus, sebagai pertanda adrenalin yang ia tahan.
“Ada apa, Elliah?” tanya Damien, suaranya terdengar kaku, matanya tidak lepas dari Vallen.
“Miss Losa ingin bicara tentang kelas balet,” jawab Elliah antusias, tidak menyadari ketegangan antara kedua orang dewasa itu. Elliah melepaskan tangan Vallen dan bersembunyi di belakang kaki ayahnya.
Vallen melangkah maju satu langkah, menatap Damien dengan profesional, mengabaikan cumbuan maut yang baru saja ia dapatkan dari ayah muridnya itu.
“Selamat siang, Mr. Harper,” sapa Vallen, nadanya sopan dan formal.
“Putri Anda sangat bersemangat. Saya rasa kita perlu membahas jadwal dan detail teknis untuk dimulainya kelas balet. Apakah Anda punya waktu sebentar?”
Damien terdiam sesaat, pikirannya berpacu. Ia baru saja mencium wanita ini satu jam yang lalu, dan sekarang wanita itu berdiri di depannya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tentu saja, Miss Losa,” jawab Damien akhirnya. Ia harus profesional, setidaknya di depan Elliah. “Ayo kita ke tempat yang lebih tenang.”
***
Damien memilih Gazebo yang sedikit terpisah di taman. Tempat itu cukup tersembunyi untuk bicara tanpa didengar, namun masih terlihat oleh publik. Elliah tidak ikut bersama mereka, setelah puas menarik ayahnya dan gurunya, gadis kecil itu kembali bergabung dengan anak-anak lain.
Di bawah atap gazebo, keheningan sempat menyeruak beberapa detik. Mereka hanya berdiri berhadapan tanpa ada satu pun yang berbicara. Suasana yang terasa tegang dan itens, seolah membelengu napas Vallen perlahan.
Sampai akhirnya, Vallen memecah keheningan yang tegang itu lebih dulu, mempertahankan nada suara yang profesional dan fokus pada urusan sekolah.
“Sebenarnya saya tidak mengajar kelas dasar,” jelas Vallen, menatap lurus ke mata Damien.
“Tapi Elliah sangat antusias, saya tidak tega mengatakannya. Jadi saya berpikir memberinya materi setiap seminggu sekali, di jam berbeda. Bagaimana menurut Anda?”
Damien tidak langsung menjawab. Ada keheningan lama dari sorot matanya yang terlihat tenang, tetapi pikirannya jelas sedang berkonflik. Ia menatap Vallen, lalu menghela napas berat, seolah baru saja mengakui tingkah konyolnya.
“Saya ingin menyampaikan pendapat saya pada Nyonya Harper, tapi tidak menyangka Elliah membawa saya pada Anda.”
Tatapan Damien kini berpindah pada bibir Vallen. Bibir itu ... masih terlihat bengkak, tapi tidak se-bengkak sebelumnya.
“Oke, lakukan seperti itu saja, Miss,” putusnya cepat, ingin segera mengakhiri interaksi ini.
“Kalau begitu saya akan menjadwalkannya di akhir minggu,” ucap Vallen. “Terima kasih atas waktunya, Mr. Harper. Saya permisi.”
Vallen berpaling, langkahnya sudah setengah jalan meninggalkan gazebo. Namun, suara Damien tiba-tiba memanggil, lantang dan mendesak.
“Miss Losa!”
Vallen refleks menoleh.
“Soal yang tadi ….” Damien memulai, wajahnya serius, menunjukkan bahwa insiden di ruang staf itu masih membebaninya.
“Oh, saya hampir lupa,” Vallen memotongnya dengan nada santai. Ia merogoh tas tangannya, yang kecil dan punya gantungan bulan di pinggirnya. Damien memperhatikannya, flash disk yang tadi ia temukan juga punya gantungan mirip.
Namun belum sempat Damien menerka jauh, Vallen menyodorkan kembali kartu nama milik Damien yang tadi diletakkan di meja.
“Ini, tidak perlu,” kata Vallen, senyumnya dingin. “Saya menganggap tidak terjadi apa-apa.”
“Saya serius soal kompensasi,” timpal Damien, urat di keningnya mulai menonjol karena frustasi.
Namun Vallen justru tersenyum lebar, nyaris terkikik geli melihat reaksi Damien. "Setelah semua itu, Anda hanya memikirkan kompensasi, ya?" tegas Vallen, nadanya provokatif.
"Bagaimana jika saya meminta Anda sebagai bentuk kompensasi?"
Mata Damien menajam, siap meledak. Tapi Vallen terkekeh pelan, tawanya memudar dengan cepat.
"Tidak mungkin, kan? Karena itu, saya meminta Anda melupakannya, Mr. Harper. Anggap tidak terjadi! Ciuman itu, dan pertemuan kita disana.”
“Saya tidak ingin terlibat dengan pria beristri.”